Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Friday, 11 Ramadhan 1442 / 23 April 2021

Parto Patrio: Dalam Ngelucu Ada Dakwah

Sabtu 28 Feb 2009 08:41 WIB

Red:

Apa yang terbayang tentang pemuda Eddy Supono, yang populer dengan panggilan Parto Patrio? Dunia ger-geran. Jawaban ini tentu tidak salah. Lewat layar televisi dan berbagai panggung  baik serius apalagi hiburan, Parto memang identik dengan dunia 'kocok perut'. Dan ia bangga dengan profesinya itu.

Dari dunia perlawakan ini, Parto mengaku telah mendapatkan banyak hal: materi, ketenaran, dan yang lebih penting adalah dapat menghibur orang. Di tengah kesusahan belitan ekonomi yang menerpa bangsa ini, bisa membuat tertawa atau sekadar senyum simpul orang lain, meskipun sementara, tentu sangat diharapkan.

Parto berkeinginan, ia tidak sekadar melawak. Untuk itu, katanya, ia selalu berupaya ada nilai plus dalam leluconnya, antara lain berupa sentilan terhadap perilaku negatif masyarakat. Atau istilah kerennya ada nilai dakwah di setiap lawakannya. ''Tapi jangan harap saya berdapuk seperti kyai atau ulama. Selain tidak mampu, itu juga bukan bidang saya,'' ujarnya saat ditemui di sela acara 'Wisata Budaya Baduy' di kawasan Leuwidamar, Lebak, Banten. Acara berlangsung dua hari (8-9/2), digelar Bagito bekerjasama dengan Land Rover Club Indonesia.

Sebagai pelawak, ia ingin berdakwah dengan caranya sendiri. Cara itu, katanya, jangan ada kesan menggurui, apalagi sok pintar. Inilah, menurut Parto, yang membuatnya 'kesengsem' ketika diajak mengisi program 'Yuk Sahur Yuk, yang diputar di Trans Teve untuk menemani sahur para pemirsa selama Ramadhan lalu.

Di sana Parto bermain bersama Miing, Didin, Akri dan artis Maudy Kusnaedi. Mereka didampingi secara bergantian oleh seorang ulama/kyai sebagai nara sumber, antara lain KH Anwar Sanusi dan KH Mawardi Labay. Menurut Parto, meskipun ia dan Didin mendapat peran orang 'kurang baik', namun ia senang karena di situ ia memerankan tentang tipe orang. ''Dari tipe orang itulah, pemirsa bisa mengambil pelajaran tanpa merasa digurui.''

Acara 'Yuk Sahur Yuk' dikemas dalam bentuk cerita sinetron. Ada tema dan ada cerita. Lewat dialog-dialog di antara para pemainnya dan juga dengan para ulama atau kyai, nasihat disampaikan dengan nada santai bercampur guyonan. ''Dari situ orang akan berguru dari apa yang kita perankan,'' ujar pria kelahiran Jakarta, 17 April 1961 ini.

Anak dari hasil pernikahan Suheri dan Kasirah ini mengaku baru pada 'Yuk Sahur Yuk' itulah ia benar-benar terjun dalam kegiatan dakwah. Itu pun kalau acara ini dianggap dakwah. ''Mungkin dalam peran itu saya yang 'hitam'-nya dan siapa yang putihnya. Dengan menonton itu orang tidak merasa digurui. Itu memberikan contoh kasus. Misalkan saya mendapatkan amanat untuk membangun sebuah WC Umum atau MCK, terus duitnya saya salah gunakan, itu suatu gambaran orang yang tidak baik,'' Parto menuturkan.

Apa yang dilakukan Parto tampaknya tidak terlepas dari latar belakang didikan orangtuanya. Menurutnya, dalam mendidik, termasuk masalah agama, kedua orangtuanya tidak pernah berlaku keras, apalagi mendoktrin tidak boleh ini dan itu. Kedua orang tuanya lebih banyak memberi contoh dan teladan. ''Masalah shalat misalnya, orang tua saya tidak terlalu keras, tapi harus dijalankan. Alhamdulillah, walaupun tidak lancar saya juga bisa baca Alquran,'' papar Parto.

Menurutnya, dalam masalah apapun, termasuk narkoba yang belakangan ini semakin menyebar luas di tengah masyarakat, orangtua tidak perlu bersikap keras. ''Bisa saja orangtua di rumah melarang anaknya jangan ini dan jangan begitu. Tapi, kita tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam, terutama kalau dia di sekolah. Karena narkoba itu bisa dipengaruhi dari teman-temannya.''

Parto berpendapat, orangtua sebaiknya lebih bijak dalam menghadapi anak-anaknya. Dalam masalah narkoba misalnya, mereka harus mampu memberikan gambaran tentang bahaya mengkonsumsi narkoba. Menceritakan dampak dari seseorang yang menggunakan zat berbahaya itu. Hal-hal seperti itulah, termasuk sikap otoriter orangtua, kemudian menjadi obyek sentilan lawakan Parto dan kawan-kawannya. Dalam konteks lebih luas, sentilan itu pun berkembang berupa kritik terhadap perilaku negatif masyarakat.

Untuk mencapai sikap 'bijak' seperti itu, Parto mengatakan tidak sekali jadi. Diperlukan proses jatuh bangun yang panjang. Akhirnya, pengalamanlah yang mengantarkan hingga menjadi Parto yang sekarang. Ia mengaku ngelawak sudah sejak SMP. Dalam acara-acara sekolah, ia selalu didaulat mengisi acara lawak bersama kawan-kawannya. Tahun 1971, ada lomba lawak tingkat SLTP se-Jakarta Selatan. Parto dkk dari SMP 56 ikut dan menjadi juara.

Selepas SMA (kini SMU) 56, suatu hari ketika sedang bengong, Juki, teman ngelawaknya semasa di SMP, bertamu. Ia mengajaknya membuat grup lawak. Ditambah satu anggota lagi, Kurniadi alias Eman, mereka mendirikan grup lawal 'Tolbing', singkatan dari tolong bingung. Grup ini lalu mengikuti berbagai lomba lawak, antara lain 'Lomba Lawak Pasar Seni Ancol' pada 1978. Lomba ini juga diikuti grup-grup lawak yang sudah mapan seperti Bagito, Jayakarta, dan Tomtam Grup. ''Waktu itu kita nggak kepikiran supaya maju, kalau ada lomba lawak baru latihan. Kalau nggak ada, ya cuek saja,'' kenang Parto.

Meskipun Tolbing beberapa kali menjadi juara, tapi job tetap saja sepi. Untuk mengisi waktu, Parto sempat bekerja di Kanwil PDK (Pendidikan dan Kebudayaan) selama beberapa lama. ''Waktu itu, ada teman saya yang sudah tujuh tahun bekerja di situ, tapi belum juga diangkat menjadi pegawai negeri. Kemudian timbul dalam pikiran, dia yang sudah tujuh tahun saja belum diangkat apalagi saya,'' papar Parto. Karena itu, ia akhirnya hengkang dari Kanwil PDK. Tahun 1987, Eman, teman lamanya di grup lawak Tolbing, menemuinya. Ia mengajaknya membuat grup lawak baru.

Dengan beranggotakan empat orang Parto, Eman, Juki, dan Ari mereka mendapat tawaran mengisi acara lawak di radio SK. Setelah empat tahun tampil di program lawak SK, Miing menawari Parto menjadi sekretaris studio. ''Ya udah, akhirnya gua masuk dan diterima menjadi sekretaris studio. Dari pengisi acara tetap menjadi pegawai tetap sampai tahun 1994,'' Parto mengenang. Pada tahun itu, sambil bekerja di SK, Eko mengajaknya mendirikan grup lawak baru. Sebelumnya, 10 grup lawak bubar. ''Akhirnya, pada tanggal 10 Oktober 1994 lahirlah Patrio, akronim dari Parto, Akri dan Eko,'' ujar Parto.

Akhir tahun 1994, Parto memutuskan meninggalkan radio SK dan memilih menjadi pelawak profesional bersama kelompok Patrio. Mereka, antara lain, mengisi secara tetap acara banyolan 'Ngelaba' di TPI. Selama di Patrio, banyak pengalaman menarik yang mereka alami sebagai pelawak profesional. Pernah, kata Parto, pada 1997 mereka diundang mengisi acara ulang tahun di sebuah hotel di kawasan Casablanca, Jaksel. Begitu naik panggung, ternyata yang ulang tahun anak-anak. ''Lha, kita mau ngelawak apa. Baru ngomong sebentar, anak-anak sudah menggelayutin kita.''

Pengalaman 'tak bisa dilupakan' lainnya dialami Patrio ketika diundang ngelawak di Hotel Indonesia. Pengundangnya Ikatan Alumni Notaris Indonesia. ''Begitu kita datang, sekitar 25-an orang ternyata orang tua semua. Udah gitu ada yang ditunggui sama cucunya, dan ada yang pakai alat bantu pendengaran. Lha, kita mau ngomong apa di depan segmen orang-orang tua yang sudah pakai alat bantu pendengaran yang kalau sekali tertawa batuknya empat kali.

Waktu itu kita nggak kepikiran yang kita hadapi orang-orang tua. Begitu Eko muncul terus ada yang bilang, 'itu siapa lagi yang ngasih sambutan'.'' ''Waktu itu, saya memang sempat tanya acaranya bagaimana. Saya lupa nanyain usia yang hadir. Saya cuma baca Ikatan Notaris Indonesia, padahal ada alumninya.''(damanhuri zuhri/dokrep/Februari 2003) 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA