Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Pesantren Darul Ishlah Warung Buncit, Semua Santrinya Gratis

Kamis 11 Dec 2008 19:28 WIB

Red:

'Rezeki di tangan Allah. Menutup kran di dalam dan membukanya di luar.' Prinsip ini dipegang teguh pemimpin Pondok Pesantren Salafiyah Darul Ishlah Warung Buncit Jakarta Selatan, KH Amir Hamzah. Dengan keyakinan tersebut, ulama berusia 36 tahun itu mendidik 160 santri gratis. Mereka tak perlu membayar untuk belajar, makan dan tidur. Yang penting, serius mengaji. Maka guru memenuhi kebutuhannya.

Sebagaimana namanya, PP Darul Ishlah mengkhususkan diri pada pengajaran kitab salaf atau kitab kuning. Santri --seluruhnya pria-- dibekali kajian kitab klasik baik tata bahasa Arab atau nahwu, fikih, tafsir dan hadis. Semuanya dari madzhab Syafii. Lima tahun waktu mereka belajar. Pakaian yang dikenakan santri sehari-hari pun mirip di pesantren lainnya. Mereka memakai baju sadariah dan kopiah putih serta sarung. Tapi, santri di sini berbeda dari pesantren salaf lainnya.

Pakaian yang dikenakan putih bersih. Garis lipatannya terlihat, sebuah pertanda pakaian itu disetrika dengan baik. Santri pun tampak sangat percaya diri. Meski hanya dibekali kitab salaf, mereka menyambut tamu yang datang dengan senyum bangga. Kebersihan pakaian tecermin pula dari lingkungan pesantren. Bersih dan asri. Meski terletak di pusat kota di tengah permukiman padat penduduk. ''Kami ini di ibukota. Ingin memberi ciri pesantren yang bersih.'' Maka kamar, ruang belajar, halaman hingga kamar mandi terlihat bersih.

Rumah-rumah mungil di sisi bangunan utama dialasi lantai keramik. Begitu juga dengan kamar mandi dan tempat cuci pakaian, serta dapur. Sedang ruang tamu diberi alat pendingin udara. ''Islam mengajarkan bersih,'' tegasnya. Amir Hamzah mengaku tak perlu banyak berceloteh. Ia hanya memberi contoh dengan berpakaian rapi dan bersih. Juga mengunjungi kamar tidur santrinya. Maka semua mengikuti sikapnya. ''Jika untuk dunia orang mau berkorban, mengapa untuk akhirat tidak.''

Sistem pesantren yang dijalankannya mirip pesantren (hauzah) di Iran atau negeri berpaham Syiah lainnya. Tugas santri belajar. Kehidupan mereka ditanggung sepenuhnya oleh guru atau pemimpin hauzah. Dana operasional hauzah disokong masyarakat. Mereka membayar zakat untuk pemimpin pesantren. Dari dana itulah santri bisa tenang belajar.

Ditanya dari mana dana operasional yang mencapai Rp 15 juta per bulan, Amir Hamzah hanya tersenyum. ''Kita ini lebih percaya manusia bukan pada Allah.'' Dan ia berprinsip sebaliknya. Dengan keyakinannya, maka dana untuk santri mengalir terus. ''Allah menggerakkan umat untuk mendermakan rezekinya. Saya hanya menyalurkan,'' tandasnya. Santri boleh tidur dan mendapat makan tiga kali sehari sebagaimana layaknya. Untuk memasak dibagi dengan sistem piket.

Menjawab kebutuhan

Awalnya ngaji lekar. Lekar adalah bahasa Betawi untuk meja pendek tempat meletakkan kitab. Terbuat dari kayu, tinggi lekar sekitar 0,3 m. Panjangnya relatif. Ada yang dipakai sendiri sehingga cukup untuk sebuah kitab saja. Ada juga yang bisa digunakan untuk beberapa orang sehingga panjangnya mencapai dua meter.

PP Darul Ishlah dibuka sekitar tahun 1987. Kala itu dua orang minta izin untuk menetap. Amir Hamzah menerimanya. Mereka tinggal bersama di kediaman kakeknya. Jumlah siswa terus bertambah. Kini, santri berasal dari pelosok Nusantara; Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Rumah milik H Munir --kakek Amir Hamzah-- tak cukup lagi. Seseorang mewakafkan 100 m tanahnya yang terus berkembang dengan swadaya masyarakat. Di atas lahan 1.000 meter, kini berdiri bangunan dua lantai untuk tempat belajar. Kegiatan pun meluas. Ulama dari Hadramaut Yaman dan Madinah bergabung. Bersama mereka, tiap Kamis malam, digelar pengajian yang diikuti masyarakat Jakarta. Jumlahnya ratusan orang. Dan mencapai 6.000 orang pada perayaan Maulid. Untuk menampung pendatang, penduduk setempat terbiasa menyediakan penginapan.

Ihwal, minatnya memperdalam kitab salaf, pria yang menikahi Mimin Aminah, puteri seorang ulama di Cirebon Jawa Barat itu mengaku didorong keluarga. Kakeknya asli Betawi. Ia ingin cucunya memperdalam ilmu agama. Dengan ilmu tersebut, dunia pun diperoleh. Usai mondok di PP Darul Rahman, Amir Hamzah sempat mencicipi bangku IAIN Jakarta. Hanya sampai semester 3 ia melakoni studinya di Fakultas Syariah jurusan Peradilan Agama. Ia hengkang dan menimba ilmu di pesantren salaf.

Ia berguru ke Rajamandala dan Cadas Sari, Jawa Barat. Melanjutkan pelajaran yang diperolehnya di Darul Rahman, ayah lima anak itu memperdalam kajiannya tentang kitab klasik atau kitab kuning. Dan kemudian kembali pulang untuk membuka pesantren. Dia meyakini untuk hidup di dunia sekarang ini agamalah yang dibutuhkan. Bukan yang lain. Ajaran agama didapat lewat kitab salaf.

Menurutnya kitab tersebut bisa dipertanggungjawabkan keaslian sumber Alquran dan hadisnya. Sedang kitab baru yang ditulis ulama belakangan masih diperdebatkan. Terbukti kemudian, banyak sarjana dan orang yang menekuni kehidupan dunia datang padanya. Mereka minta nasihat dan mengemukakan minat belajar Islam. ''Makanya saya tekankan pada santri untuk percaya diri bahwa yang mereka pelajari benar. Mereka dibutuhkan masyarakat.''

Ulama, katanya, berperan penting dalam kehidupan. Untuk peristiwa kecil saja misalnya. Orang yang menikahkan anak, membangun rumah, ingin berangkat haji bahkan mendalami kehidupan spiritual butuh bimbingan ulama. ''Kami ingin menjawab kebutuhan tersebut.'' Namun Amir Hamzah tak menafikan ilmu pengetahuan dan teknologi. ''Ada pelajarannya. Tapi tidak secara langsung.'' Juga administrasi. Tanpa menguasai komputer dan administrasi, katanya, siswa tak bisa membuat surat yang diperlukan dalam menjalin hubungan.

Ilmu pertukangan, katanya, didapat siswa saat membantu membangun rumah masyarakat. Begitu juga dengan ilmu perbengkelan. ''Untuk teknologi, kami yakin bila ada kemauan pasti bisa.'' Prinsip itu ia terapkan dalam mendidik anaknya. Ia mengantar putera pertamanya nyantri di Parung Jawa Barat. Kini, para alumni pesantrennya ada yang membuka pesantren sendiri di daerah asal. Sedangkan yang memiliki rezeki berlebih pergi ke Madinah memperdalam ilmu agamanya.

Amir juga menjalin kerjasama dengan kiai pemimpin pesantren salaf di Jombang, Kediri, Jawa Barat dan guru utamanya di Jakarta KH Syukron Makmun --pemimpin pesantren Darul Rahman. Nama depan dari pesantrennya ia ambil dari nama pesantren milik gurunya. Sedang nama belakangnya diambil dari nama pesantren yang diasuh ayah mertuanya. Jadilah Darul Ishlah.tid/dokrep/April 2001

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA