Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Benarkah Ini Pesawat Siluman Pertama Cina?

Selasa 28 Dec 2010 17:59 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Foto pesawat yang diduga prototipe pesawat tempur siluman Cina

Foto pesawat yang diduga prototipe pesawat tempur siluman Cina

Foto: Aviation Week

REPUBLIKA.CO.ID, Ini bisa jadi produk kampanye misinformasi pemerintah Cina. Malah bisa juga hasil utak-atik Photosops cerdas dari penggemar penerbangan Cina. Atau itu benar-benar asli; bukti nyata pertama dari rumor panjang, Chengdu J-20, prototipe pesawat siluman pertama milik Cina.

Foto di atas dan beberapa yang lain pada pekan natal di forum internet Cina, menarik mata seorang pakar pesawat siluman dari majalah Aviation Week, Bill Sweetman. Ia menekankan bahwa foto-foto itu bisa saja palsu.

Seni Photoshop fantastik adalah salah satu penanda terkenal di situs-situs bertema militer Cina. Namun ada beberapa petunjuk bahwa foto J-20 adalah nyata. Rumor yang beredar mengabarkan bahwa ada foto yang lebih jelas sempat nongol di Situs Cina sebelum dihapus oleh sensor. Bahwa rumor foto itu disensor, mungkin menunjukkan bahwa Beijing memang benar-benar memiliki pesawat tempur.

"Dalam budaya WEB para penggemar militer Cina, hadirnya sensor cepat justru mendongkrak kredibilitas kabar tersebut," ujar seorang jurnalis penerbangan, Rick Fisher.

Sisi paling meyakinkan, pesawat yang digambarkan dalam jepretan terlihat memiliki banyak karakter yang seharusnya dari prototipe pesawat tempur siluman generasi ketiga, sayap segitiga, ekor pesawat yang dapat bergerak, dan desain mirip pahatan di bagian depan.

Faktanya, pesawat yang diduga J-20 itu mengombinasikan bagian depan tubuh F-22 milik Angkatan Udara AS, dengan separuh bagian belakang mirip prototipe siluman T-50 rancangan Rusia--yang terlihat publik kurang dari setahun lalu.

Jika itu nyata-- dan kemungkinan itu besar --penampakan J-20 menjadi isyarat langkah kemajuan besar di angkatan udara Cina. Pasalnya hingga kini, negara itu masih mengandalkan pembelian di Rusia untuk hampir seluruh pesawat terbangnya atau memesan dari desainer Israel.

Para fanatik kekuatan udara Barat yang panik, yang setahun lalu mengklaim bahwa Amerika bakal kurang aman jika Pentagon mengusulkan rencana untuk menghentikan produksi pesawat tempur siluman hanya 187 unit, mungkin juga harus mengumumkan akhir dominasi 50 tahun Amerika di udara.

Tokoh penting yang kerap memencet tombol alarm membuat klaim serupa ketika T-50 milik Rusia terbang, terlepas bahwa pesawat itu mungkin bukan bertipe siluman dan prospek produksi massalnya diragukan.

Pentagon memang belum memiliki kesempatan untuk mengomentari foto J-20, namun mereka cenderung tetap optimis.

Dalam pernyataannya terkait F-22, menteri pertahanan AS, Robert Gates, mengakui bahwa Cina tengah mengerjakan proyek pesawat silumannya. Namun ia meyakini bahwa negara komunis itu tidak akan memiliki pesawat generasi kelima itu pada 2020 mendantang, sementara AS akan sudah memiliki lebih dari seribu F22 dan F35.

Dalam waktu satu setengah tahun setelah Menhan AS membuat klaim tersebut, Pentagon justru menunda produksi F-35. Sementar Cina sepertinya mempercepat pengembangan pesawat silumannya--diduga dari foto J-20. Namun semangat pernyataan Gates tetap absah.

Meskipun bila foto itu asli dan J-20 benar ada dan lebih dari sekedar blueprint, mungkin tak ada yang perlu dicemaskan. Ketika AS menerbangkan prototipe pesawat silumannya YF-22 dan rivalnya YF23 pada 1990, J-20 bahkan belum terbang.

Membutuhkan 15 tahun hingga F-22 benar-benar digunakan dan memasuki garis depan pertahanan. Mengingat Cina memiliki masalah dengan kontrol kualitas dalam teknologi tinggi, bisa jadi membutuhkan satu dekade atau lebih bagi J-20 untuk tampil dalam kuantitas meyakinkan dan unjuk gigi di Pasifik. Dengan semua asumsi itu, yang pasti para pengamat dan antusias tetap menunggu pesawat tempur siluman Cina benar-benar membuat debut sesungguhnya.

sumber : Aviation Week/Wired
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA