Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Harga Opium Naik, Petani Afghanistan Kembali Tergoda Menanamnya

Jumat 21 Jan 2011 14:14 WIB

Red: Didi Purwadi

ladang ganja (ilustrasi)

ladang ganja (ilustrasi)

Foto: news.id.msn.com

REPUBLIKA.CO.ID,WINA - Hukum pasar berlaku. Akibat harga opium naik, kini banyak petani Afghanistan yang tergoda untuk menanam opium. Pengurangan produksi mengakibatkan harga meningkat tajam tahun lalu.

"Ada hal yang memprihatinkan. Pasar merespon penurunan tajam dalam produksi opium dengan terjadinya kenaikan harga secara dramatis di pasar. Harga hampir meningkat dua kali lipat dari harga pada 2009," kata Yury Fedotov, kepala Kantor PBB mengenai Obat dan Kejahatan (UNODC), dalam laporan tentang Survey Opium Afghanistan 2010.

Sejak tahun 2005 hingga 2009, harga opium telah jatuh terus. "Jika godaan uang tunai besar-besaran ini terus berlangsung, maka hal tersebut secara efektif dapat membalikkan kemenangan hasil kerja keras bertahun-tahun terakhir," kata Fedotov.

Sebuah penyakit tanaman telah menghancurkan tanaman opium di Helmand selatan dan Provinsi Kandahar yang menjadi daerah perkebunan ganja utama di Afghanistan. Serangan hama ini telah memangkas produksi opium Afghanistan tahun lalu hingga setengahnya.

Tapi ironisnya, penurunan produksi opium tahun lalu itu kini justru meningkatkan harga opium di pasaran. ''Pada 2010, harga rata-rata opium saat panen adalah 169 dolar AS (Rp 1,5 juta) per kilo. Harganya naik 164 persen dari 64 dolar AS (Rp 582 ribu) pada 2009,'' kata Yury Fedotov.

sumber : Antara/AFP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA