Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Awas, Gunakan Sendok Bergantian Bisa Tularkan Typhus

Jumat 17 Dec 2010 04:49 WIB

Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengingatkan perlunya menjaga kebersihan, dan salah satunya tidak menggunakan sendok makan secara bergantian karena bisa menjadi faktor menularkan penyakit typhus. "Kebersihan harus dijaga, misalnya tidak menggunakan sendok makan bersama karena melalui air liur dari sendok makan tersebut dapat menularkan penyakit typhus," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Semarang, Niken Widyah Hastuti, di Semarang, Kamis (16/12).

Niken mengatakan bahwa perilaku hidup sehat harus dijaga. Tidak hanya memisahkan alat mandi untuk menghindari penularan penyakit kulit, tetapi juga tidak menggunakan sendok secara bersama untuk menghindari penularan penyakit typhus.

Penyakit typhus disebabkan faktor kebersihan makanan dan perilaku hidup kurang sehat. Gejala yang timbul pada penderita di antaranya, pada sore hari hingga malam hari akan merasakan suhu badan panas dan pada pagi hingga siang hari panasnya menurun. "Jadi pasien akan merasa sehat pada pagi hingga sore hari dan pada malam hari panas kembali," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat diharapkan dapat membedakan tanda-tanda penderita typhus dan demam berdarah (DB), meskipun sama-sama panasnya. Untuk penderita demam berdarah, panas suhu tubuh akan turun saat mengkonsumsi obat penurun panas. Akan tetapi saat reaksi obatnya telah hilang, maka akan panas kembali.  

Sementara penderita typhus, panas hanya terjadi pada malam hari dan biasanya pada pagi hingga sore hari panasnya turun. Terkait DB, saat ini merupakan masa penurunan angka kasus karena cuaca terus menerus hujan, sehingga tidak memberikan kesempatan telur nyamuk menetas.

"Biasanya yang menjadi tempat perindukkan seperti batok kelapa yang tergenang air serta batang pisang yang setelah ditebang tidak langsung sampai bawah. Itu tempat yang sangat bagus untuk perindukkan," katanya.

Akan tetapi, dengan hujan yang terus menerus menjadikan telur nyamuk yang berada di tempat perindukkan terbawa air dan tidak sempat menetas. Telur nyamuk tidak dapat menetas jika bersentuhan langsung dengan tanah. Niken menambahkan masyarakat juga harus mewaspadai penyakit diare dan disentri.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA