Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Ulama Iran Anggap Holokaus Takhayul

Selasa 07 Sep 2010 02:40 WIB

Rep: Agung Sasongko/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Ayatollah Naser Makarem Shirazi

Ayatollah Naser Makarem Shirazi

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN--Bukan hanya presidenya, ulama senior Iran, Ayatollah Naser Makarem Shirazi juga memandang holokaus atau tragedi pembantaian bangsa Yahudi oleh Nazi Jerman dimasa Perang Dunia kedua merupakan takhayul masyarakat barat. "Holokaus hanyalah tahayul, namun, masyarakat dunia dipaksa menerima kenyataan itu sebaga sejarah kelam dunia di abad 21," ungkap Shirazi seperti dikutip dari kantor berita Iran, IRNA, Ahad lalu.

Faktanya, kata dia, kebenaran Holokaus tidaklah utuh. Itu terungkap ketika peneliti mencoba untuk membuktikan kebenaran tragedi itu urung menyelesaikan tugasnya lantaran mengalami tekanan berupa penangkapan. Shirazi yang merupakan Marja, atau pemimpin syiah berpengaruh di Iran juga mengungkap zionis Yahudi merupakan pihak dibelakang terhambatnya riset tentang pengungkapan kebenaran holocoust.

Apa yang dikatakan SHirazi merupakan sikap yang sama dengan apa yang diutarakan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Menurut Ahmadinejad, holokaus merupakan salah satu kebohongan besar yang dilakukan zionis Yahudi. Dia mengatakan bahwa tragedi itu merupakan mitos.

Sebelumnya, Ahmadinejad kembali membuat pernyataan yang membuat panas telinga barat. Seruan anti-Israel pada Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan merupakan sikap keras Iran yang kesekian kali dalam menghadapi tekanan AS dan sekutunya.

Ahmadinejad pun menambah deretan sikap Iran dengan menilai perundingan antara Palestina dan Israel hanyalah sesuatu yang sia-sia. Bahkan dia menyatakan negara Palestina bisa ditegakan bila Israel dihapus dari panggung dunia.

Iran merupakan satu-satunya negara Timur Tengah yang tidak mengakui keberadaan negara Yahudi. Berkat kritik yang keras terhadap dominasi AS dan sekutunya terhadap dunia islam, Iran selalu mendapatkan tekanan. Isu nuklir merupakan salah satu' bentuk tekanan yang terus dilakukan AS dan sekutunya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA