Friday, 18 Jumadil Akhir 1443 / 21 January 2022

Tarian Korban Holocaust di Kamp Auschwitz Menuai Protes

Jumat 16 Jul 2010 23:18 WIB

Red: Siwi Tri Puji B

Adolek Kohn

Adolek Kohn

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM--Di bekas kamp konsentrasi Auschiwtz yang dianggap "paling mematikan", Adolek Kohn, Yahudi yang selamat dari apa yang disebut pembantaian massal Holocaust saat Perang Dunia II, mengungkapkan kegembiraannya.  Diiringi lagi ingar I Will Survive dari Diana Roos, ia menari bersama anak dan cucunya. Sambil bergoyang, jari tengah dan telunjuknya mengacungkan simbol "V", simbol kemenangan.

Namun, gambar yang diunggah ke Youtube itu serta-merta menuai polemik panjang. Tayangan itu memicu perdebatan dan menyebut apa yang dilakukan Kohn anak-beranak sama sekali  rasa tidak menunjukkan hormat bagi mereka yang tewas. Di Facebook, Twitter, dan situs jejaring lain, komentar berseliweran:  Apa itu cara untuk memperingati Holocaust? Bagaimana perasaan keluarga korban yang tewas?

Dalam tayangan yang juga dikirim ke The Associated Press pada hari Kamis, video berdurasi 4,5 menit itu dibuka dengan gambar Kohn, 89 tahun, putrinya Jane Korman, dan tiga cucu menari di dekat rel kereta api terkenal menuju Auschwitz. Kelompok ini kemudian pindah ke lokasi lain di seluruh Holocaust Polandia dan Jerman, termasuk di depan "Arbeit Macht Frei" (kerja membuat Anda bebas) tanda di pintu masuk Auschwitz Polandia Lodz ghetto dan kamp konsentrasi Dachau. Dalam satu tayangan, dengan keluarganya di belakangnya, Kohn menekan wajahnya ke lubang kecil di dalam mobil ternak yang digunakan untuk mengangkut korban tewas.

Kepada Nine Network Australia, ia menyatakan tidak berpikir video itu ofensif karena tarian itu berbeda dari "penghianatan" terhadap orang-orang yang meninggal.

"Mengapa saya melakukan? Karena saya datang dengan cucu saya," katanya dalam sebuah wawancara dari rumahnya di Melbourne, Australia. "Siapa yang bisa datang dengan cucu mereka?Kebanyakan dari mereka adalah mati. Kami datang ke Auschwitz dengan cucu dan menciptakan sebuah generasi baru, itu sebabnya kami menari," katanya.

Michael Wolffsohn, seorang sejarawan Yahudi Jerman di Munich Bundeswehr, menyebutnya "tawar" dan mempertanyakan motif pengungahan video itu ke jagad maya. "Ini hanyalah promosi untuk memalukan diri saja," katanya.

"Jika video ini untuk konsumsi probadi, tak masalah. Tapi karena di World Wide Web, video menerima perhatian publik dan itu tidak layak," kata Rabbi Andreas Nachama, direktur sebuah museum yang terletak di situs dari bekas markas Gestapo di Berlin.

Hingga Rabu, klip telah menarik lebih dari 500 ribu hit dan komentar yang mengular. Pada hari Kamis, YouTube menggantikannya dengan pesan yang mengatakan sudah dihapus karena masalah hak cipta. Versi lain masih tersedia, dan klip juga beredar di Facebook dan Twitter.

sumber : AP
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA