Kamis 12 May 2022 10:11 WIB

Sibuk Liputan Sebagai Wartawan, Akhmad Sekhu Tetap Semangat Berkarya Sastra

Puisi mengantarnya bertemu empat mata dengan  Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sastrawan yang juga wartawan, Akhmad Sekhu.
Foto: Istimewa
Sastrawan yang juga wartawan, Akhmad Sekhu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesibukan liputan dunia hiburan, baik film, musik, fashion show, tak mengalangi Akhmad Sekhu untuk tetap semangat berkarya di bidang sastra. Maka lahirlah cerpen maupun puisi yang dimuat di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional. Beberapa cerpen terbaru  yang dihasilkannya adalah Lelaki Jempolan, Sujud Terlama di Dunia, Kotokowok, Teror Dodol, Sedekat Mei Juni, dan lain-lain.

Akhmad Sekhu, sastrawan yang juga dikenal sebagai wartawan, banyak berkarya sastra. Sejumlah bukunya sudah diterbitkan.  Buku puisi tunggalnya antara lain Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), Memo Kemanusiaan (manuskrip). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya Semangat Orang-Orang Jempolan (siap terbit).

“Alhamdulillah, saya masih tetap semangat berkarya, “ kata Akhmad Sekhu dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (11/5).

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Tegal, 27 Mei 1971 ini menerangkan keseriusannya berkarya, baik puisi, esai, cerpen, dan novel. “Saya serius nulis karya sastra sejak tahun 1994 saat mulai kuliah di Yogyakarta jadi sudah sekitar 28 tahun, “ terang alumnus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (2000).

Dunia sastra bagi Sekhu memang sudah mendarah daging dalam hidupnya.  Sehingga, nama kedua anaknya hasil pernikahannya dengan Wanti Asmariyani mengandung unsur sastra, yaitu Fahri Puitisandi Arsyi, dan Gibran Noveliandra Syahbana. 

Menurut Sekhu, karya sastra puisi menjadi keistimewaan tersendiri baginya. “Karena puisi, saya bisa bertemu dengan orang nomor satu di Jogja, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang secara khusus mengundang saya untuk bicara empat mata, “ ungkapnya.

Buku puisi kedua karya Akhmad Sekhu yang berjudul ‘Cakrawala Menjelang” diberi kata sambutan khusus oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Sebuah kehormatan bagi saya mendapat sambutan khusus dari beliau,“ ucapnya bangga.  

“Jika kita baca puisinya, terasakan betapa sarat akan teks ilahi dan tekstur alami. Mungkin berakar dari desa kelahirannya di Jatibogor, Suradadi, Tegal — yang dipenuhi oleh budaya pesisiran yang islami. Sebagai penyair, Akhmad Sekhu adalah seorang otodidak, jika dilihat dari latar pendidikannya,”  demikian kutipan kata sambutan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Buku puisi pertamanya, kata Sekhu, berjudul Penyeberangan ke Masa Depan  diberi kata pengantar oleh Piek Adijanto Soeprijadi. “Beliau adalah guru SMA Negeri 1 Tegal, yang juga termasuk tokoh sastrawan Angkatan 66, “ paparnya. 

Sekhu menyampaikan, bahwa ia sedang mempersiapkan buku puisi ketiganya yang berjudul Memo Kemanusiaan yang mendapat sambutan dari berbagai kalangan. Termasuk di antaranya, wartawan dan budayawan Bens Leo (alm), artis Cinta Laura Kiehl dan artis senior Titiek Puspa. 

“Perihal Memo Kemanusiaan karya Bro Akhmad Sekhu. Salah satu karakter kuat buku karya jurnalis, apa saja bentuknya -- biografi orang lain, biografi personal,  esai  atau kumpulan puisi, atau novel sekalipun -  selalu terlihat ada jejak jurnalisme. Juga karya Bro Akhmad Sekhu, jurnalis yang aktif menulis buku, “ tulis Bens Leo (alm).

“Setelah membaca puisi dalam buku Memo Kemanusiaan karya Akhmad Sekhu ini, aku jadi mengerti lebih dalam mengenai dunia seni yang tidak hanya melulu hingar bingar musik, lagu dan tari tarian yang indah, akan tetapi ada juga puisi yang isinya sangat bermakna dan langsung menusuk dada. Sungguh indah puisi-puisi di buku ini, juga penuh arti dan sangat mendidik, “ tulis Cinta Laura Kiehl.

Adapun, Titiek Puspa menyampaikan apresiasinya, “Saya mengapresiasi dan menyambut baik, penerbitan buku Memo Kemanusiaan’ karya Akhmad Sekhu ini. Banyak sekali tema di dalamnya, mulai tema pandemi Covid-19 mengenai tenaga kesehatan sang pejuang kemanusiaan, hikmah dari pandemi, kita harus selalu cuci tangan, berjemur, hingga kita harus vaksin, sampai puisi menyinggung korupsi di tengah bansos pandemi yang sangat memilukan, kok tega sekali korupsi di tengah penderitaan masyarakat. Kemudian, tentang situasi negeri yang masih terbelah, juga masih derasnya urbanisasi, dunia perfilman, puisi-puisi religi tentang Ramadhan, puisi-puisi hujan, ibu, pernikahan, hingga tentang keluarga. Teruslah semangat berkarya! Tetaplah menulis puisi penuh dengan kejujuran dan ketulusan. Bangunlah kesadaran, ingatkan manusia yang lupa pada kemanusiaannya.”

Karya-karya Akhmad Sekhu, baik puisi, cerpen dan artikelnya dimuat di banyak buku antologi bersama, di antaranya, Cerita dari Hutan Bakau (1994), Serayu (1995), Fasisme (1996), Mangkubumen (1996), Zamrud Khatulistiwa (1997), Tamansari (1998), Jentera Terkasa (1998), Gendewa (1999), Embun Tajalli (2000), Jakarta dalam Puisi Mutakhir (2001), Nyanyian Integrasi Bangsa (2001), Malam Bulan (2002), Nuansa Tatawarna Batin (2002), Aceh dalam Puisi (2003), Bisikan Kata Teriakan Kota (2003), Maha Duka Aceh (2005), Bumi Ini adalah Kita Jua (2005), Komunitas Sastra Indonesia: Sebuah Perjalanan (2008), Antologi Seratus Puisi Bangkitlah Raga Negeriku! Bangkitlah Jiwa Bangsaku! (Seratus Tahun Budi Utomo 1908-2008, diterbitkan Departemen Komunikasi dan Informatika RI, 2008), Murai dan Orang Gila (2010), Antologi Puisi dan Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit (2010), Kabupaten Tegal; Mimpi, Perspektif, dan Harapan (2010), Antologi Puisi Penulis Lepas (2011), Negeri Cincin Api (2011), Equator (antologi 3 bahasa; Indonesia, Inggris, Jerman, setebal 1230 halaman, 2011), Antologi Puisi Religi "Kosong = Ada" (2012), Ensiklopedi Gubernur Jakarta: dari Masa ke Masa (2012), Buku cerita anak-anak Hantu Siul dan 14 Cerita Keren Lainnya (2014), Memo untuk Presiden (2014), Puisi Menolak Korupsi 4: Ensiklopegila Koruptor (2015), Antologi Puisi ‘Syair Persahabatan Dua Bangsa 100 Penyair Indonesia-Malaysia (2015), Membaca Kartini: Memaknai Emansipasi dan Kesetaraan Gender (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (2016), Ziarah Sunyi (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017), Buku Antologi Puisi Kemanusiaan dan Anti Kekerasan Jejak Air Mata: Dari Sittwe ke Kuala Langsa (2017), Kumpulan Puisi Wartawan Indonesia Pesona Ranah Bundo (2018) memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2018,  dan Dari Negeri Poci 9: Pesisiran (2019).

Buku lainnya, Merenda Kata, Mendulang Makna; Proses Kreatif Sastrawan Jawa Tengah (2019), Pandemi Puisi (2020), Peradaban Baru Corona: 99 Puisi Wartawan-Penyair Indonesia (2020). Dari Negeri Poci 10: Rantau (2020), Kartini Menurut Saya (2021), Corona Pasti Berlalu; Mencatat Covid-19: Tragedi, dan Harapan Setelah Itu (2021), Antologi Puisi 114 Penyair Indonesia Kebaya Bordir untuk Umayah (2021), Dari Negeri Poci 11: Khatulistiwa (2021), Antologi Puisi 115 Penyair Indonesia Seribu Tahun Lagi (2021), Antologi Puisi Penyair Nusantara Jakarta dan Betawi (2021), Puisi Menolak Korupsi 8; Korupsi di Korona (94 Penyair Indonesia) (2021), Para Penyintas Makna (2021), Lima Titik Nol; Masyarakat Cerdas dalam Puisi (2022).

Catatan tentang kesastrawanannya masuk dalam Bibliografi Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2001), Buku Pintar Sastra Indonesia (2001), Leksikon Sastra Jakarta (2003), Ensiklopedi Sastra Indonesia (2004), Gerbong Sastrawan Tegal (2010), Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017), dan lain-lain.

Akhmad Sekhu masih bolak-balik Jakarta-Tegal PP demi istri Wanti Asmariyani dan dua anaknya --  Fahri Puitisandi Arsyi, dan Gibran Noveliandra Syahbana -- dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk Insya Allah selalu berkarya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement