Jumat 28 Jan 2022 05:30 WIB

Tiga Anggota TNI Kembali Gugur, Mungkinkah Separatis Papua Dirangkul?

Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) berduka atas gugurnya tiga prajurit.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Teguh Firmansyah
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat memimpin rapat koordinasi dengan sejumlah menteri terkait pendekatan penanganan Papua pascaterbitnya Undang-undang Otsus Papua 2021, di Istana Wakil Presiden, Rabu (15/12/2021), Wapres Maruf Amin menjelaskan masukan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Dudung Abdurachman terkait pendekatan baru di Papua.

Panglima dan KSAD mengusulkan pendekatan baru yang akan dilakukan aparat keamanan nantinya akan lebih humanis di Papua. "Inti pendekatan baru tersebut antara lain aparat keamanan TNI tidak berperang menuntas KKB (kelompok kriminal bersenjata) tapi merangkul KKB sebagai bagian dari bangsa ini," ujar Wapres.

Baca Juga

Sebulan sebelum rapat dengan Wapres, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman dalam satu kesempatan telah meminta para personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak mengutamakan aksi membunuh anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Ia meminta agar para anggota satuan keamanan dari militer lebih mengutamakan perlindungan, dan penyelamatan warga negara dari intimidasi dan serangan KKB.

Hal tersebut, dikatakan Dudung di hadapan para perwira dan komandan satuan (Dansat) di Kodam Kasuari, Papua Barat. Dudung ke Papua Barat untuk mengecek para prajurit TNI AD yang bertugas dinas di wilayah Papua. Kemunculan Dudung di Papua adalah kunjungan perdananya setelah dilantik menjadi KSAD pada 17 November lalu.

“Jangan berpikir ingin membunuh KKB. Tetapi, harus berpikir bagaimana melaksanakan tugas negara untuk mengamankan masyarakat Papua, yang saat ini diintimidasi oleh kelompok-kelompok radikal bersenjata (di Papua),” kata Dudung dalam siaran pers yang disampaikan Kapendam Kasuari, Kolonel Hendra Pesireron kepada Republika.co.id, Kamis (25/11).

Namun di tengah keinginan merangkul KKB, serangan demi serangan justru terus dilakukan oleh separatis Papua. Terakhir tiga anggota TNI Gugur saat terjadi kontak senjata di sana.  

Para personel TNI yang gugur adalah Serda Rizal Maulana Arifin (24 tahun), Dantim 2 Pos Koramil Gome. Kemudian Pratu Tupel Alomoan Baraza (24), Tabakpan Tim 2 Pos Koramil Gome, dan Pratu Rahman Tomilawa (24), Tapakban Tim 3 Pos Koramil Gome.

“Tiga korban yang gugur sudah dievakuasi ke Timika. Sedangkan, anggota yang masih dalam kondisi kritis masih dalam perawatan serius di Puskesmas Ilaga,” kata Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) XVII Cenderawasih Kolonel Inf Aqsha Erlangga kepada Republika.co.id di Jakarta, Kamis (27/1).

Aqsha menerangkan, serangan KKB terjadi pada Kamis (27/1) pagi waktu setempat. Serangan terjadi persisnya di Kampung Tigilobak, Distrik Gome, Puncak. Dari laporan yang diterima, serangan terjadi ketika pergantian personel jaga di Pos Koramil Gome. “Saat dilaksanakan pergantian jaga, tiba-tiba Satgas Kodim YR 408/Sbh mendapatkan tembakan dari Pok KSTP (Kelompok Separatis Terorisme Papua),” katanya.

Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) berduka atas gugurnya tiga prajurit dari Satuan Tugas (Satgas) Kodim Yonif Raider 408/Suhbrasth.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Tatang Subarna di Jakarta, Kamis, menjelaskan, jenazah ketiganya akan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing.

Rencananya upacara pemakaman akan dipimpin langsung oleh Kepala Staf AD (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen Agus Suhardi, dan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen Richard Tampubolon. "Sebagai wujud penghormatan dan rasa cintanya kepada prajuritnya yang gugur, direncanakan Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Dudung Abdurachman akan memimpin langsung upacara pemakaman Serda M Rizal Maulana Arifin di Bandung."

Kini muncul pertanyaan, apakah masih mungkin merangkul kelompok separatis Papua?  Jika pendekatan ini tetap dilakukan, apakah ada upaya strategis agar prajurti TNI tidak lagi menjadi korban penyerangan?

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement