Selasa 04 Jan 2022 21:18 WIB

RS di Inggris Kewalahan, Banyak Staf Karantina Saat Kasus Covid-19 Melejit

Rawat inap di rumah sakit Inggris melonjak karena peningkatan kasus Covid-19

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
 Pembeli yang mengenakan masker wajah untuk berjaga-jaga terhadap COVID-19 berjalan melewati poster penjualan yang menutupi jendela department store Selfridges di Oxford Street di London, Senin, 27 Desember 2021. Di Inggris, di mana varian omicron telah dominan selama berhari-hari, pemerintah persyaratan sebagian besar bersifat sukarela dan lebih ringan daripada yang ada di benua itu, tetapi pemerintah Konservatif mengatakan dapat memberlakukan pembatasan baru setelah Natal.
Foto: AP Photo/David Cliff
Pembeli yang mengenakan masker wajah untuk berjaga-jaga terhadap COVID-19 berjalan melewati poster penjualan yang menutupi jendela department store Selfridges di Oxford Street di London, Senin, 27 Desember 2021. Di Inggris, di mana varian omicron telah dominan selama berhari-hari, pemerintah persyaratan sebagian besar bersifat sukarela dan lebih ringan daripada yang ada di benua itu, tetapi pemerintah Konservatif mengatakan dapat memberlakukan pembatasan baru setelah Natal.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Rumah sakit di Inggris mengalami krisis tenaga medis karena banyak stafnya terpapar virus dan harus dikarantina. Hal itu terjadi di tengah lonjakan kasus rawat inap karena Covid-19 di banyak rumah sakit di Inggris.

Dalam sebuah surat kepada Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid, Royal College of Nursing (RCN) mengatakan, Layanan Kesehatan Nasional (NHS) tidak mampu mengatasi tingkat ketidakhadiran staf medis saat ini. NHS justru menyerukan pendekatan yang lebih hati-hati untuk pembatasan Covid-19 di Inggris tanpa penundaan lebih lanjut.

Baca Juga

Baca:Investasi China Jadi Batu Sandungan Hubungan AS dan Israel

Serikat pekerja yang memiliki lebih dari 465 ribu anggota juga mempertanyakan perbedaan membingungkan dan mengkhawatirkan dalam kebijakan Covid-19 di berbagai wilayah di Inggris. Ada kekhawatiran signifikan soal para staf medis yang dikarantina dan kekurangan staf medis yang akan merawat pasien.

"Ini membingungkan dan memprihatinkan bahwa pemerintah Inggris yang berbeda telah menetapkan aturan dan peraturan mereka sendiri yang berbeda terkait dengan pengelolaan pandemi," kata RCN seperti dikutip laman Sky News, Selasa (4/1).

"Profesional keperawatan mempertanyakan tingkat dan variasi kebijakan antarpemerintah," kata RCN menambahkan.

RCN mendesak para menteri untuk memperkenalkan pendekatan yang lebih hati-hati untuk Inggris tanpa penundaan lebih lanjut. Menurut RCN hal itu didukung oleh tingkat ketidakhadiran staf yang tinggi karena Covid-19.

Ketidakhadiran staf NHS di Inggris karena virus corona berlipat ganda dalam dua minggu hingga Boxing Day. "Sistem kesehatan dan perawatan di Inggris, yang sudah memiliki puluhan ribu profesional, tidak mampu menanggung kerugian saat ini," kata RCN.

Kepala eksekutif Penyedia NHS Chris Hopson mengatakan, sekitar setengah lusin rumah sakit telah menyatakan kritis dalam lima hari terakhir. Absennya staf memiliki dampak besar pada NHS yang benar-benar berjuang di beberapa tempat. Hopson mengatakan layanan kesehatan saat ini berada di bawah tekanan signifikan sebagai akibat dari meningkatnya pasien rumah sakit, permintaan untuk perawatan non-Covid, dan ketidakhadiran staf.

Perdana Menteri Boris Johnson telah memperingatkan bahwa varian Omicron terus melonjak di seluruh negeri dan tekanan pada NHS akan berlangsung selama berminggu-minggu. Kepala eksekutif Konfederasi NHS Matthew Taylor, mengatakan bahwa di banyak bagian layanan kesehatan, pihaknya saat ini berada dalam keadaan krisis.

"Beberapa rumah sakit membuat panggilan mendesak kepada staf yang kelelahan untuk memberikan hari istirahat dan pergi untuk memungkinkan mereka mempertahankan layanan inti," kata Taylor.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement