Imbas Gagal Bayar Waskita, Investor Lebih Selektif Berinvestasi di Obligasi Korporasi 

Investor cukup terpengaruh dengan kondisi yang menimpa Waskita Karya.

ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
Foto udara Tol Becakayu (Bekasi Cawang Kampung Melayu) seksi 2A di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (14/12/2022). Investor cukup terpengaruh dengan kondisi yang menimpa Waskita Karya.
Rep: Retno Wulandhari Red: Friska Yolandha

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai investor lebih selektif untuk berinvestasi di surat utang atau obligasi korporasi termasuk BUMN. Salah satu faktor penyebabnya yaitu kasus gagal bayar yang dialami PT Waskita Karya (Persero) Tbk. 

Baca Juga

"Memang investor jadi lebih selektif untuk melakukan investasi di surat utang korporasi termasuk juga BUMN terutama di sektor konstruksi," kata Direktur Pemeringkatan Pefindo Hendro Utomo di Jakarta, Senin (8/5/2023).

Khusus di sektor konstruksi, Hendro melihat investor cukup terpengaruh dengan kondisi yang menimpa Waskita Karya. Dengan adanya kasus Waskita Karya, investor menjadi lebih selektif untuk memberikan pendanaan atau membeli surat utang dari perusahaan konstruksi. 

Meski demikian, Hendro menegaskan, tidak semua perusahaan konstruksi memiliki kondisi yang sama dengan emiten pelat merah tersebut. Pasalnya, masih banyak perusahaan konstruksi yang memiliki fundamental solid. Untuk itu, investor perlu lebih teliti melihat fundamental setiap perusahaan. 

Hendro juga melihat kebutuhan investor untuk melakukan investasi kembali di surat utang masih tinggi karena banyak surat utang yang jatuh tempo pada 2023. "Faktor tersebut tetap bisa memberikan permintaan surat utang termasuk dari BUMN," jelas Hendro.

Dari sisi bisnis, Hendro menilai sektor konstruksi masih cukup baik. Seiring dengan pemulihan ekonomi pascapandemi, Hendro melihat pertumbuhan ekonomi mulai stabil sehingga permintaan terhadap proyek-proyek konstruksi kembali meningkat.

"Ini yang menjadikan bisnis di sektor konstruksi juga akan pulih termasuk untuk beberapa proyeksi strategis pemerintah," ujar Hendro. 

 

 
Berita Terpopuler