Batu Nisan Ottoman, Sebuah Estetika yang Teruji Melewati Zaman

Batu nisan Ottoman mewakili biografi orang yang meninggal.

TRT World
Batu nisan di makam Ottoman di Turki. Batu Nisan Ottoman, Sebuah Estetika yang Teruji Melewati Zaman
Rep: mgrol135 Red: Ani Nursalikah

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Hari itu adalah hari hujan di Kawasan Masjid Suleymaniye, Istanbul, Turki. Masjid terkenal itu selesai dibangun pada 1557.

Baca Juga

 Banyak bangunan unik yang membedakan masjid dan kompleksnya, yang hingga abad terakhir mencakup beberapa perguruan tinggi (madrasah), rumah sakit, hamam (tempat pemandian), yayasan amal dan kuburan, yang terletak di samping makam Sultan Sulaiman. Sebagian besar fasilitas ini telah lenyap, tetapi satu yang tersisa dan memberikan kedamaian bagi pengunjung yang berjalan melalui halaman kompleks masjid, yaitu makam.

 Deretan makam berada di dekat pintu masuk kompleks sehingga mereka yang berdoa di dalamnya dapat melihatnya sebagai pelajaran tentang kematian. Makam berfungsi sebagai pengingat kuat bahwa manusia adalah fana dan waktunya di bumi bersifat sementara.

 Tetapi mereka juga berfungsi melestarikan nilai artistik yang dimiliki Ottoman pada batu nisan. Dilansir dari TRT World, Profesor Suleyman Berk merupakan Associate Professor di Universitas Yalova dan pakar Sejarah Seni Islam-Turki mengatakan.

“Utsmaniyah (Ottoman) memiliki budaya seni kuburan dan batu nisan. Beberapa kuburan berada di halaman masjid, yang lain di tengah lingkungan,” katanya.

 Lebih penting lagi, ia menjelaskan setiap batu nisan unik dalam karakteristik dan sejarahnya. "Ini mewakili biografi orang yang meninggal,” tambahnya.

Salah satu makam menunjukkan makam kapten angkatan laut (Kaptan-i Derya) Ibrahim Pasha, yang meninggal pada 1725. Menurut sejarawan Talha Ugurluel, makam ini menunjukkan seorang kapten dengan jangkar, tali, dan tiang patah yang memasuki kapal yang membawanya ke alam baka, tempat peristirahatan terakhirnya.

Batu nisan makam kapten angkatan laut Ibrahim Pasha, yang meninggal pada 1725. Makam ini menunjukkan seorang kapten dengan jangkar, tali, dan tiang patah yang memasuki kapal yang membawanya ke alam baka, tempat peristirahatan terakhirnya. - (TRT World)

Baca juga : Setelah 8 Tahun, Pemakaman Muslim Minnesota Akhirnya Bisa Layani Umat

 

 

Ada juga makam kuno dengan dua batu, milik wanita muda Fatma Müşerref Hanım dari Thessaloniki. Dia meninggal ketika dia bertunangan, itu mengapa di nisan kiri terdapat hiasan gaun pengantinnya.

Batu nisan sebelah kanan kuburan yang sama adalah sebatang bunga mawar yang patah, menandai kematian seorang anggota keluarga perempuan. Makam itu dibangun oleh ayahnya, Mustafa Fevzi Bey.

Makam berbagai tarekat sufi dan para darwisnya, juga dibedakan dengan warna kain dan penutup kepala yang berbeda. Simbol mereka telah ditambahkan ke batu nisan mereka. 

"Realitas kematian dipandang sebagai bentuk keseimbangan dalam hidup... dalam budaya kita kuburan memiliki nilai tinggi. Seseorang berdoa untuk almarhum ketika melewati makam. Hal yang membuat spesial tentang batu nisan dari periode Ottoman adalah estetika mereka. Pemakaman memiliki suasana yang hidup,” kata Associate Profesor Suleyman Berk.

Beberapa batu nisan memiliki warna berbeda untuk menggambarkan detail kehidupan seseorang. Misalnya, hijau adalah warna umum yang digunakan oleh para sarjana dan intelektual terkemuka dalam sains.

Sultan Ottoman tidak memiliki batu nisan, tetapi memiliki makam sendiri. Serban atau fez yang mereka kenakan diletakkan di atas makam mereka.

 

Taman peristirahatan spiritual yang dibuat oleh masyarakat Ottoman ini dirancang untuk mengenang almarhum serta budaya yang mereka miliki. Anda masih bisa menjumpai makam-makam tersebut saat ini, terutama di Istanbul.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler