Pengamat: Presiden Jokowi Bawa Aura Perdamaian di KTT G20

Presiden Jokowi meraih penghargaan perdamaian dari Imam Hasan.

REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Presiden Joko Widodo.
Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik dan Kebangsaan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, Firdaus Muhammad mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membawa aura perdamaian pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, dia menyatakan aura perdamaian itu sudah terlihat saat Jokowi diapresiasi dunia dengan penghargaan internasional Imam Hasan bin Ali Tahun 2022 dari Abu Dhabi Forum Peace Award (ADFPA).

"Penerimaan penghargaan perdamaian Jokowi dari Imam Hasan adalah pembuktian Indonesia cinta damai yang dibuktikan dalam pentas dunia," katanya.

Menurut dia, penghargaan itu menjadi bukti kontribusi Indonesia dalam perdamaian internasional dalam rangka menyelesaikan krisis pangan dan energi yang sedang dihadapi dunia.

Baca Juga

Ia menilai, Presiden Jokowi telah mewakili rakyat Indonesia secara keseluruhan dalam menghadirkan perdamaian. Untuk itu, secara langsung penghargaan Perdamaian Internasional Imam Hasan bin Ali Tahun 2022 ini milik rakyat Indonesia.

"Itu bukan hanya presiden tapi secara simbolis mewakili rakyat Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Islam sangat cinta kedamaian," katanya.

Ia mengatakan kekuatan utama presiden dalam memperjuangkan perdamaian bagian dari cara mempraktikkan nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu, Firdaus mendorong presiden agar memperkenalkan nilai-nilai Pancasila kepada pemimpin dunia pada acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.

"Pancasila sejatinya diperkenalkan sebagai ideologi secara utuh agar dunia paham bahwa perekat kesatuan, kebangsaan, dan kedamaian adalah implementasi dari Pancasila," jelasnya.

Untuk diketahui, penghargaan perdamaian internasional Imam Hasan bin Ali Tahun 2022 dari Abu Dhabi Forum Peace Award (ADFPA) ini merupakan penghargaan yang diberikan terhadap pemimpin, cendekiawan, maupun pemikir Muslim atas inisiatif dan karya ilmiah mereka dalam menciptakan budaya damai dan mengakar nilainya di masyarakat dengan penuh damai.

Penghargaan pertama pada tahun 2015 diterima oleh Wahiduddin Khan, seorang intelektual India atas kontribusinya dalam memerangi mentalitas kekerasan dan perang atas nama agama. Pada tahun 2022, penghargaan ini diserahkan kepada Presiden Jokowi dalam mewujudkan perdamaian di Rusia dan Ukraina.

 
Berita Terpopuler