Mungkinkah Gas Air Mata Jadi Penyebab Kematian Sebagian Aremania? Ini Kata Dokter Paru

Polisi melepaskan tembakan gas air mata ke tribun penonton di Stadion Kanjuruhan.

Tangkapan layar
Foto tangkapan layar twitter suasana tribun penonton yang terpapar asap gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Sebanyak 125 penonton meninggal dalam insiden tersebut.
Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyaksikan rekaman video tembakan gas air mata polisi ke arah tribun penonton di Stadion Kanjuruhan, warganet ramai berspekulasi mengenai penyebab kematian sebagian Aremania. Mereka menduga kemungkinan itu ada kaitannya dengan paparan gas air mata.

Bagaimana menurut pandangan dokter paru? Pakar ilmu kedokteran respirasi dan pulmonologi Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan perlu analisis mendalam untuk mengungkap kemungkinan efek gas air mata sebagai penyebab jatuhnya korban saat tragedi Stadion Kajuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam.

Baca Juga

"Akan baik kalau kita tunggu hasil analisis mendalam tentang sebab kematian para korban, yang mungkin beberapa faktor yang saling memengaruhi," kata Prof Tjandra di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Prof Tjandra mengatakan, gas air mata yang menyeruak di sekitar area tribun penonton saat berlangsungnya kejadian belum tentu menjadi penyebab kematian korban. Pengaruh paparan gas air mata pada manusia ditentukan oleh seberapa besar dosis gas yang mengontaminasi seseorang.

"Makin besar paparannya tentu akan makin buruk akibatnya," kata Prof Tjandra yang juga direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi.

Petugas polisi menembakkan gas air mata saat kerusuhan setelah pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, 1 Oktober 2022 (dirilis pada 2 Oktober 2022). Sebanyak 125 orang meninggal dalam tragedi tersebut. - (EPA-EFE/H. PRABOWO)

Selain itu, dampak pada kesehatan juga akan tergantung pada kepekaan seseorang terhadap bahan di gas itu. Kemungkinan ada gangguan kesehatan tertentu pada mereka yang terpapar juga berpengaruh.

Dampak gas air mata akan tergantung dari apakah paparan ada di ruang tertutup atau ruang terbuka. Demikian juga dengan aliran udara yang membawa gas beterbangan.

"Poin tentang kemungkinan dampak gas air mata sebagaimana saya sampaikan, walaupun memang belum tentu hal ini yang jadi penyebab kematian," jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Sementara itu, berdasarkan hasil rekapitulasi jumlah korban tragedi Kanjuruhan yang dilaporkan Kemenkes RI hingga Ahad (2/10/2022) pukul 14.53 WIB pasien dengan luka ringan hingga sedang 253 orang, dan luka berat 31 orang. Menurut kepolisian, korban meninggal dunia sebanyak 125 orang.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pecah usai pertandingan antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3. Kejadian itu masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian dan pihak terkait.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler