Mendagri Singapura Sentil Pendukung UAS

Singapura telah melarang UAS untuk masuk ke negara tersebut.

Republika/Putra M. Akbar
Ustadz Abdul Somad.
Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura K. Shanmugam 'menyentil' para pendukung Ustaz Abdul Somad (UAS). Hal itu terkait dengan ancaman yang disampaikan para pendukung UAS kepada Singapura.

Menurutnya, pendukung Somad telah membuat komentar yang meminta Republik di bombardir dan dihancurkan sebelum akhirnya pernyataan itu dihapus oleh Facebook.

"Negara kecil, sangat arogan, hanya dengan satu misil kalian akan hancur," ujar Shanmugam mengutip sebuah komentar ancaman seperti dilansir Strait Times pada Senin (23/5/2022).

Seperti diketahui Singapura telah melarang UAS untuk masuk ke negara tersebut. UAS dianggap sebagai sosok dai yang mengajarkan paham radikal. Bahkan, ada warga Singapura yang disebut menjadi radikal setelah menonton video UAS tentang bom bunuh diri.

"Sebagai contoh, Somad telah mengajarkan bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina, dan dapat dinilai sebagai operasi jihad," tulis Kementerian Hukum dan Dalam Negeri dalam pernyataannya.

Ustaz Abdul Somad (UAS) menanggapi pernyataan Pemerintah Singapura melalui laman resmi Kementerian Dalam Negeri (MHA) yang disiarkan Selasa (17/5/2022) lalu. Menurut mubaligh nasional tersebut, pelbagai tuduhan yang disebutkan dalam rilis pers MHA Singapura cenderung mengungkit-ungkit persoalan lama.

Alumnus Universitas al-Azhar Mesir itu mengatakan, masalah-masalah seperti fatwa bom syahid, “jin kafir”, atau sebutan “kafir” untuk non-Muslim sudah selesai. Menurut dia, penjelasan atau klarifikasi dari dirinya mengenai hal itu sudah disampaikan dalam pelbagai video yang dapat diakses via internet.

“Semua soal itu sudah tuntas. Mereka tinggal tulis (cari) di Google, ‘Klarifikasi UAS tentang bom bunuh diri Palestina, jin dalam berhala, non-Muslim disebut kafir.’ Semoga mereka mendapat hidayah,” ujar UAS saat dihubungi Republika, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler