Koalisi Dini Poros Tengah dan Figur tak Berpartai yang Diperhitungkan

Para elite partai politik secara perlahan sudah mulai menginjak pedal gas.

infografis republika
Koalisi Indonesia Bersatu
Rep: Muhammad Nursyamsi Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam menyongsong ajang pertarungan politik nasional menuju Pemilihan Presiden 2024, beserta proses-proses politik yang menyertainya, para elite partai politik (parpol) secara perlahan sudah mulai meingnjak pedal gas.

Baru-baru ini, peristiwa menarik yang menjadi perhatian publik adalah saat 'silaturahmi lebaran' antara ketua parpol. Prabowo Subianto berkunjung ke kediaman Megawati Soekarnoputri di Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Di waktu yang hampir bersamaan terbentuk 'Koalisi Dini' bernama Koalisi Indonesia Bersatu yang diinisiasi oleh Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, bersama Zulkifli Hasan (PAN) dan Suharso Monoarfa (PPP).

Selain menyepakati koalisi awal, agenda pertemuan yang digelar di Rumah Heritage, Jakarta Pusat itu juga mencoba untuk melambungkan calon pasangan Airlangga Hartarto dan Ridwan Kamil sebagai ajang tes ombak.

Tak jauh dari Rumah Haritage, Jakarta Pusat tempat silaturahim tiga ketum parpol itu. Di Teuku Umar, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri sama-sama menikmati opor lebaran sebagai medium diplomasi.

Sulit menampik jika pertemuan antarelite itu tidak bernuansa politis mengingat jarak waktu menjelang palagan Pilpres kian mendekati menit-menit akhir.

 

Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto - (Bumn)

 

Gencar cari bentuk pasangan

Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Andy Fefta Wijaya menilai, wajar saat ini banyak pihak termasuk parpol ini memasangkan beberapa tokoh potensial untuk maju menjadi capres dan cawapres 2024. Kini parpol tengah gencar mencari bentuk calon capres dan cawapres ideal yang bakal laku untuk dijual ke masyarakat.

"Koalisi yang terbentuk ketika itu pun cenderung berbasis pada pilihan capres. Figur capres dan elektabilitasnya seolah menjadi batu penjuru bagi pembentukan koalisi partai," ujar Andy pada Jumat (20/5).

Prabowo Subianto dan Puan Maharani santer dibicarakan, kini mencuat nama Prabowo Subianto disandingkan dengan Erick Thohir. Dari calon pasangan yang sudah muncul seperti Prabowo-Puan, Andy melihat sosok pasangan ini memiliki kelemahan. Kelemahannya bukan pada Prabowo melainkan pada sosok Puan. 

"Hingga saat ini sosok Puan masih sangat lemah jika disandingkan dengan Prabowo atau capres potensial lainnya," ucapnya.

Jika ingin menyandingkan Puan dengan capres potensial yang ada, parpol pengusung harus bekerja ekstra keras untuk menaikan elektabilitas cucu Proklamator RI tersebut.

Sedangkan pasangan Prabowo Subianto dan Erick Thohir, dinilai Andy, jauh lebih bagus jika dibandingkan Prabowo dengan Puan. Ini dikarenakan elektabilitas Erick masih jauh di atas Puan.

Meski elektabilitas Erick masih di atas Puan, namun Andy meminta, agar Erick untuk terus bekerja keras. Ini agar capaian kinerja di BUMN tercapai dan elektabilitas meningkat.

 

Masih ada waktu

Memang masih ada waktu dua tahun bagi parpol yang akan mengusung Prabowo-Puan atau Prabowo-Erick sebagai calon pasangan capres dan cawapres 2024. Termasuk parpol yang ingin mencalonkan Airlangga Hartarto dan Ridwan Kamil.

"Para calon harus memikat parpol. Karena tak ada satu partai yang memiliki presidential threshold. Maka, gabungan partai dan tokoh ini sangat menentukan pemenang di pilpres 2024," kata Andy.

Senada dengan Andy, Pengamat Politik dari Universitas Nusa Putra Sukabumi, Yoedani, menilai, pertemuan para Ketua Partai Golkar, PAN dan PPP tidak terlepas dari adanya upaya meningkatkan bargaining politik terkait bagaimana mengantisipasi pencalonan Balon Capres Cawapres yang sudah harus muncul pada September 2023.

Menurut Yoedani, yang juga pernah menjadi kader partai kuning itu mengatakan Golkar merupakan partai yang cukup besar namun tidak dapat mengusung calonnya sendiri. Maka, Golkar tentu ingin membangun secara dini formulasi koalisinya. 

 

"Skenario yang paling mungkin adalah terjadinya kembali dua atau pun tiga paslon Capres. Sehingga upaya membangun koalisi harus bisa membuka atmosfer pada munculnya poros tengah. Kemungkinan nama Ganjar Pranowo- Erick Thohir akan mencuat menjelang last minute," kata dia.

 
Berita Terpopuler