Ilmuwan Barat Juga Akui Manfaat Puasa Bagi Kesehatan, Ini Buktinya

Puasa terbukti secara ilmiah bermanfaat bagi kesehatan.

Republika/Yogi Ardhi
Ilustrasi anak berpuasa. Menurut dokter, berpuasa sangat menyehatkan bagi semua umur, termasuk anak-anak.
Red: Reiny Dwinanda

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA -- Manfaat puasa bagi kesehatan juga diakui oleh sejumlah ilmuwan barat. Mereka mengenalnya  sebagai "intermittent fasting" atau puasa intermiten (berjeda).

Baca Juga

"Kalau dalam bahasa kita, jeda pada puasa intermiten itu merupakan waktu antara buka puasa dan sahur," kata dr Agus Ujianto SpB dalam keterangan di Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (5/4/2022).

Dr Agus mengatakan, puasa intermiten sudah banyak digunakan sebagai terapi pada penyakit epilepsi, jantung, dan saraf. Mengutip hasil penelitian yang dilakukan Nikfarjam pada tahun 2013, dr Agus menjelaskan bahwa saat puasa Ramadhan hingga satu bulan setelah Ramadhan terjadi peningkatan kecerdasan emosional, identifikasi diri, kontrol impuls, dan responsibilitas.

"Penelitian terbesar di dunia yang dilakukan oleh keluarga Buchinger Wilhelmi selama 100 tahun menunjukkan bahwa puasa sangat baik untuk kesehatan," kata mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Banjarnegara itu.

Berpuasa pada bulan Ramadhan, menurut dr Agus, memiliki banyak manfaat dan menyehatkan jasmani maupun rohani, Bahkan, berpuasa sangat menyehatkan bagi semua umur.

"Bukan hanya bagi orang dewasa saja, tetapi juga bagi anak-anak, orang tua, ibu hamil, dan semua orang yang mau melakukannya," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia (Perdigti) itu.

Dr Agus mengatakan, banyak penelitian di dalam maupun luar negeri yang telah membuktikan manfaat puasa bagi kesehatan. Menurut dia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan mental, fisik, dan sosial yang lengkap, sehingga bukan sekadar tidak adanya penyakit atau kelemahan.

"Jadi, kesehatan yang didapatkan pada orang yang berpuasa tidak hanya secara fisik, juga sehat secara mental dan sosial," kata dr Agus yang juga direktur Rumah Sakit Islam (RSI) Banjarnegara.

Lebih lanjut, Agus mengatakan, semua penyakit dalam tubuh manusia, seperti diabetes dan jantung, bisa disembuhkan dengan cara melakukan terapi puasa karena berpuasa itu melatih stres. Dalam hal itu, stresor dalam bidang kesehatan merupakan stimulus atau peristiwa yang menimbulkan respons stres pada suatu organisme.

"Bukan hanya stres fisik saja, tapi sampai ke organ dan sel-sel yang ada di dalam tubuh kita. Dengan berpuasa, kita bisa stresor kekebalan tubuh kita, kekuatan saraf, fungsi pencernaan, fungsi jantung, hingga ke tulang-tulang maupun sel organ dalam tubuh kita," kata dr Agus yang juga ketua Pengurus Cabang Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Banyumas.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler