Omicron Sumbang 73 Persen Kasus Baru Covid-19 di AS

Peningkatan infeksi varian omicron hampir enam kali lipat dalam satu minggu.

Pixabay
Ilustrasi Covid-19 varian Omicron
Rep: Rizky Jaramaya Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Varian Omicron telah menyumbang 73 persen dari infeksi baru Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan peningkatan infeksi varian omicron hampir enam kali lipat dalam satu minggu.

Omicron menyumbang sekitar 90 persen infeksi baru di wilayah New York, wilayah tenggara AS, wilayah midwest, dan Pacific Northwest.  Angka nasional menunjukkan bahwa lebih dari 650 ribu infeksi omicron terjadi di AS pada pekan lalu.

Perkiraan CDC didasarkan pada ribuan spesimen virus Corona yang dikumpulkan setiap pekan melalui laboratorium universitas dan komersial, serta departemen kesehatan negara bagian dan lokal.  Para ilmuwan menganalisis urutan genetik mereka untuk menentukan varian Covid-19 mana yang paling mendominasi.

Sejak akhir Juni, varian Delta telah mendominasi infeksi Covid-19 di AS. Pada akhir November, lebih dari 99,5 persen kasus virus Corona terkait dengan varian delta. Direktur CDC, Rochelle Walensky, mengatakan, angka baru tersebut mencerminkan jenis pertumbuhan yang terlihat di negara lain. "Angka-angka ini sangat mencolok, tetapi tidak mengejutkan," ujar Walensky.

Pada Senin (20/12), CDC merevisi perkiraan kasus Omicron selama sepekan terakhir. Setelah menganalisis lebih banyak sampel, sekitar 13 persen kasus terkait dengan omicron. Data ini merevisi laporan sebelumnya yang menyatakan, varian Omicron menyumbang tiga persen kasus yang dilaporkan.

Baca Juga

Pejabat CDC mengatakan mereka belum memiliki perkiraan berapa banyak pasien rawat inap atau kematian karena omicron. Walensky mengatakan, infeksi yang disebabkan oleh varian Delta masih cukup banyak. "Saya mengantisipasi bahwa seiring waktu Delta itu akan dipadati oleh Omicron," kata Walensky.

Para ilmuwan di Afrika pertama kali memperingatkan tentang varian baru Covid-19, yaitu varian Omicron. Pada 26 November Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Omicron sebagai varian yang harus mendapatkan perhatian. Sejak saat itu, varian Omicron telah muncul di sekitar 90 negara.

Sejauh ini belum diketahui apakah varian Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah atau tidak.  Studi awal menunjukkan bahwa, suntikan booster merupakan peluang terbaik dalam mencegah infeksi omicron. Tetapi tanpa dosis ketiga, vaksinasi dapat menawarkan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah dan kematian.

“Jika Anda akan berinteraksi dengan masyarakat, jika Anda ingin memiliki jenis kehaidupan apa pun, omicron akan menjadi sesuatu yang Anda temui, dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan divaksinasi sepenuhnya," ujar seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, Amesh Adalja.

Adalja mengatakan, dia tidak terkejut dengan data CDC yang menunjukkan bahwa omicron menyalip delta di AS. Dia memperkirakan penyebaran omicron terjadi selama musim liburan. Omicron dapat menimbulkan komplikasi serius di antara kelompok yang tidak divaksinasi. Varian omicron dapat membuat rumah sakit sudah terbebani oleh varian delta, semakin kewalahan.

Kepala Scripps Research Translational Institute, Eric Topol, mengatakan, negara-negara lain telah mencatat penyebaran omicron dengan cepat. Tetapi data AS menunjukkan loncatan yang luar biasa dalam waktu singkat.
 


sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
Berita Terpopuler