Suu Kyi Berterimakasih Atas Ucapan Selamat Ulang Tahun

Pesan itu disampaikan oleh pengacara Suu Kyi saat sidang kasus.

ap/reuters/berbagai sumber
Militer Myanmar menjerat Suu Kyi.
Rep: Lintar Satria Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, NAYPYITAW -- Pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi berterimasih pada rakyat Myanmar  atas ucapan selamat ulang tahun yang diberikan padanya. Pesan ini disampaikan pengacaranya saat sidang kasus yang dapat membuatnya dipenjara hingga 15 tahun.

"Mereka mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan memberitahunya seluruh negeri dan seluruh dunia mengucapkan selamat ulang tahun padanya," kata ketua tim pengacara Suu Kyi, Khin Maung Zaw dalam pesan tertulisnya, Senin (21/6).

Dalam pesan tertulis itu Maung Zaw mengatakan tim pengacara bertemu dengan Suu Kyi pada Senin ini. "Daw Aung San Suu Kyi memberitahu pengacara-pengacaranya untuk menyampaikan terimakasih dan doa untuk rakyat," kata Maung Zaw.

Sejak militer menggulingkan pemerintahan yang sah pada 1 Februari lalu. Suu Kyi ditahan di lokasi yang tidak diketahui di Ibu kota Naypytwa. Perlawanan rakyat terhadap kudeta tersebut telah melumpuhkan Myanmar.

Sejak pekan lalu Suu Kyi menjalani sidang yang menuduhnya memiliki radio talkie-walkie ilegal dan melanggar peraturan pembatasan sosial virus korona selama kampanye. Ia juga menghadapi dakwaan serius seperti menghasut dan melanggar undang-undang anti korupsi. Pengacaranya mengatakan semua tuduhan itu absurd.

Masyarakat Myanmar kembali turun ke jalan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-76 yang jatuh pada Sabtu (19/6) lalu. Pengunjuk rasa membawa bunga dan fotonya dan banyak diantara mereka mengacungkan tiga jari yang menjadi simbol gerakan pro demokrasi.

Pendukungnya mengunggah foto-foto di media sosial. Foto-foto itu disebut acara perayaan ulang tahun Suu Kyi di Inggris, Belanda, Korea Selatan dan Amerika Serikat.  

Pengacaranya Maung Zaw mengatakan sidang hari Senin mendengar kesaksian perwira polisi dan kapten tentara. Pendukungan Suu Kyi mengatakan kasus itu dirancang untuk mengakhiri karir politik peraih hadiah Nobel tersebut. 


sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
Berita Terpopuler