Jika Terpilih Lagi, Netanyahu Pastikan Palestina tak Merdeka

Netanyahu ingin menarik suara pemilih Arab-Israel dalam pemilihan umum.

AP/Ariel Schalit
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melambai kepada para pendukungnya setelah hasil jajak pendapat pertama untuk pemilihan parlemen Israel di markas partai Likud di Yerusalem, Rabu (24/3).
Rep: Lintar Satria Red: Nur Aini

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji bila terpilih kembali, ia tidak akan membiarkan Palestina merdeka. Situs berita Panet melaporkan, Netanyahu menekankan ia yakin perdamaian di Timur Tengah dapat dicapai dengan membuat kesepakatan dengan negara-negara Arab.

Baca Juga

Dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (24/3), menurut situs berita Quds Net News, pernyataan Netanyahu tersebut disampaikan untuk menarik suara pemilih Arab-Israel dalam pemilihan umum. Israel menggelar pemungutan suara keempat dalam dua tahun terakhir.

"Saya pikir tidak ada hubungannya dengan Palestina, tapi kami memiliki hubungan dengan Otoritas Pelestina mengenai vaksinasi Covid-19, kami harus bekerja sama dengan bertanggung jawab mengenai hal ini. Kami tinggal di wilayah yang sama," kata Netanyahu.

Negara-negara Arab ingin berdamai dengan Israel berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab yang menetapkan pembentukan negara Palestina yang berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Inisiatif itu akan menjadi solusi bagi pengungsi Palestina dan normalisasi hubungan dengan Israel.

 

Netanyahu mengatakan ia akan menerima pembentukan negara Palestina bila keamanannya tetap berada dikendalikan Israel. "Jika tidak mereka akan membiarkan Hamas berkuasa," katanya.

Ia mengatakan bila Israel tidak mengendalikan keamanan negara Palestina maka negara itu bisa disusupi Al-Qaeda dan Iran. "Hal ini terjadi di tempat lain di mana Israel tidak memiliki keamanan yang kuat," tambah Netanyahu.

Perdana menteri Israel itu menambahkan ia tidak berniat 'memarjinalisasi' isu Palestina. "Palestina memarjinalisasi diri mereka sendiri di banyak masalah politik internal yang tidak ingin saya bicarakan tapi mereka hal itu terkait dengan perebutan kekuasaan," katanya.  

Netanyahu mengklaim ia yang memimpin normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab tahun lalu. Ia juga mengaku membuat orang Arab dan Yahudi hidup berdampingan di Israel.

"Ini akan mendorong perubahan historis hubungan antara orang Yahudi dan Arab pada umumnya," klaimnya. 

 
Berita Terpopuler