Reinfeksi Covid-19 Jarang Terjadi, Lansia Lebih Berisiko

Risiko reinfeksi terlihat lebih tinggi pada penyinyas berusia di atas 65 tahun.

Pixabay
Ilustrasi Covid-19. Peneliti di Denmark menyatakan reinfeksi jarang terjadi namun lebih berisiko pada penyintas berusia di atas 65 tahun.
Rep: Puti Almas Red: Gita Amanda

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Denmark menemukan bahwa orang-orang yang terinfeksi virus corona jenis baru (Covid-19) selama gelombang pertama pandemi ini berlangsung tahun lalu, tidak mungkin terinfeksi ulang (reinfeksi) selama gelombang kedua wabah terjadi. Meski demikian, risiko reinfeksi terlihat lebih tinggi pada penyintas berusia di atas 65 tahun.

Studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada Rabu (17/3) ini memperkuat gagasan bahwa setiap orang harus mendapatkan vaksin Covid-19. "Ini juga menyarankan Anda harus lebih berhati-hati jika pernah mengidap Covid-19, terutama jika Anda adalah orang lanjut usia,” ujar pemimpin peneliti Steen Ethel berg, peneliti senior di bidang epidemiologi infeksi zoonosis di Universitas Copenhagen, dilansir ABC News, Kamis (18/3).

Baca Juga

Ethelberg bersama rekan tim peneliti menemukan dari hampir 17 ribu orang terinfeksi virus corona jenis baru selama gelombang pertama dari Maret hingga Mei 2020, hanya 72 orang atau sekitar 0,7 persen yang mengalami reinfeksi selama gelombang kedua dari September hingga Desember tahun lalu. Mereka memperkirakan Covid-19 yang terjadi secara alami memberi sekitar 47 persen perlindungan saat infeksi kedua terjadi.   

Orang yang lebih tua mungkin memiliki perlindungan lebih lemah karena sistem kekebalan mereka tidak meningkat sekuat respons ketika terinfeksi secara alami. Ini berarti vaksinasi mungkin menawarkan perlindungan yang lebih baik daripada infeksi alami, terutama untuk orang dewasa yang lebih tua.

Sebagai contoh, vaksin Pfizer, baru-baru ini menunjukkan 97 persen perlindungan terhadap infeksi virus corona jenis baru yang bergejala dan 94 persen perlindungan terhadap infeksi tanpa gejala di semua kelompok usia yang diteliti dalam analisis dunia nyata. Temuan kunci dari penelitian ini nampaknya adalah efek perlindungan lebih lemah pada orang dewasa lebih tua, di mana tingkat infeksi baru hanya berkurang setengahnya karena pernah mengalami infeksi sebelumnya.

“Tetapi kami telah melihat bahwa vaksin memberikan perlindungan yang jauh lebih baik daripada ini, bahkan pada orang dewasa yang lebih tua,” jelas David Benkeser, asisten profesor biostatistik dan bioinformatika di Sekolah Kesehatan Masyarakat Rollins Universitas Emory.

Sementara itu, William Schaffner, profesor pengobatan pencegahan dan penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatalan bahwa sangat penting bagi orang berusia 65 tahun ke atas untuk melakukan vaksinasi Covid-19. Bahkan, ia menegaskan bahwa sekalipun orang-orang ini pernah mengalami infeksi virus corona jenis baru sebelumnya.

Para ahli mengingatkan bahwa reinfeksi Covid-19 belum tentu merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Infeksi kedua mungkin jauh lebih tidak berbahaya dibandingkan yang pertama.

Salah satu keterbatasan utama dari penelitian ini adalah tidak melihat apa yang terjadi pada orang yang terinfeksi kembali, seperti apakah mereka sakit atau apakah mereka merasa baik-baik saja. Selain itu, reinfeksi akan bergantung pada jumlah virus aktif yang menyebar saat itu, sehingga kemampuan untuk menggeneralisasi perlindungan kepada semua orang yang telah pulih dari Covid-19 tidak dimungkinkan berdasarkan penelitian ini.

“Studi ini menyoroti bahwa kekebalan alami tidak memberi perlindungan penuh terhadap infeksi ulang, dan ini menyoroti pentingnya bagaimana setiap orang harus mendapatkan vaksin terlepas dari riwayat infeksi sebelumnya,” jelas John Brownstein, kepala bagian inovasi di Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat (AS).

Lebih lanjut, Benkerser mengatakan bahwa studi mendukung kebutuhan untuk melanjutkan peluncuran vaksinasi Covid-19 secara agresif. Ini juga diharapkan dapat meletakkan pemikiran bahwa mencapai kekebalan kelompok melalui infeksi alami sebagai strategi kesehatan masyarakat yang layak.

“Kekebalan populasi mungkin dapat membantu dalam jangka pendek, tetapi itu tidak akan sekuat atau sekuat kekebalan yang dipicu oleh vaksin," kata Amesh Adalja, peneliti senior di Pusat Keamanan Kesehatan Universitas Johns Hopkins

Para ilmuwan masih belum mengetahui secara persis berapa lama perlindungan bertahan setelah infeksi Covid-19 pertama. Namun, kemungkinan seseorang memiliki perlindungan yang kuat dalam beberapa bulan pertama yang berkurang secara bertahap dari waktu ke waktu.

 
Berita Terpopuler