Lagi, Klaster Pesantren Muncul di Tasikmalaya

Lokasi pesantren yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 berada di Kecamatan Salopa

istimewa
Iring-iringan ambulan membawa para santri dari salah satu pesantren untuk diisolasi di Hotel Crown Kota Tasikmalaya, Senin (15/2).
Rep: Bayu Adji P Red: Esthi Maharani

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Penularan Covid-19 di lingkungan pesantren di Tasikmalaya masih terus terjadi. Kali ini lokasi pesantren yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 berada di Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya.

Salah seorang pengasuh santri di pesantren itu, ustaz Uce mengatakan, kemunculan kasus Covid-19 di lingkungan pesantrennya bermula ketika para santri putri mengalami demam pada akhir Desember tahun lalu. Demam para putri itu tak semakin membaik. Justru, sebagian mengalami gejala tambahan, yaitu kehilangan indra penciuman (anosmia).

"Setelah itu, kita cek secara manual, banyak yang anosmia. Total ada tiga santri," kata dia, Senin (15/3).

Dengan adanya santri yang mengalami anosmia, pihak pesantren melapor ke perangkat desa setempat. Sementara santri yang mengalami anosmia semakin banyak.

Uce menambahkan, pihak pesantren kemudian mempersilakan petugas kesehatan melakukan pengetesan kepada santri. Sebab, pihak pesantren ingin penanganan maksimal terkait kejadian itu.

"Hasilnya, dari 17 orang yang diswab, 16 orang positif," kata dia.

Para santri yang terkonfirmasi positif itu kemudian diisolasi di pesantren. Mereka dipisahkan dengan para santri lainnya. Menurut dia, masih ada sebagian santri yang mengalani gejala sesak, anosmia, dan demam.

Uce menambahkan, beberapa hari lalu petugas kesehatan juga telah melakukan tes swab lanjutan kepada 11 orang santri. Namun, hasilnya masih belum diketahui

"Secara total, ada sebagian yang sudah selesai menjalani isolasi. Namun masih ada 19 orang masih isolasi, delapan orang positif dan 11 orang menunggu hasil swab," kata dia.

Uce mengaku tak mengetahui secara pasti penyebab adanya santri yang terkonfirmasi posotif Covid-19. Namun, diduga virus itu dibawa oleh kunjungan keluarga ke lingkungan pesantren.

"Mungkin itu faktor utamanya," kata dia.


Sementara itu, Wakil Bupati Tasikmalaya, Deni Ramdani Sagara mengaku mendapatkan informasi terkait klaster pesantren di Kecamatan Salopa melalui media sosial. Alih-alih mendapat laporan dari jajarannya, ia menerima pesan dari pengurus pesantren melalui Instagram.

"Saya mendapat informasi dari medsos, cerita dari IG, ada DM (direct message) ke saya. Kok ada Covid-19 di pesantren," kata dia.

Dalam pesan itu, pihak pesantren memintanya untuk datang langsung ke lokasi. Bukan untuk meminta bantuan, melainkan pihak pesantren ingin pimpinan daerah memberikan motivasi kepada santri yang masih menjalani isolasi.

Deni mengatakan, kedatangannya ke pesantren itu untuk memberikan motivasi agar para santri tetap semangat. Selain itu, Wabup Tasikmalaya itu juga memberikan bantuan logistik untuk kebutuhan makanan para santri.

Menurut dia, penanangan di pesantren itu sudah baik. Sebab, ketika ada santri yang mengalami gejala, pihak pesantren langsung terbuka dengan satgas penanganan Covid-19 setempat.

"Ketika ada santri positif, pesantren sudah siap melakukan isolasi," ujar dia.

Kendati demikian, ia tetao mengingatkan para pengasuh di pesantren ager tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes). Apalagi, kemunculan klaster pesantren di Tasikmalaya bukan yang kali pertama terjadi.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi mengatakan, penyebaran Covid-19 di Kabupaten Tasikmalaya bukan yang kali pertama terjadi. Ia menyebutkan, hingga saat ini sudah ada lebih dari 10 pesantren di Kabupaten Tasikmalaya yang menjadi klaster penyebaran Covid-19. Bahkan, menurut dia, jika dilakukan tes swab secara acak di pesantren, pasti ada kasus terkonfirmasi positif.

"Sampai sekarang, sudah banyak pesantren," kata dia.

Kendati demikian, ia menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya tak memiliki wewenang untuk membatasi kegaiatan di pesantren. Sebab, kegiatan di pesantren sepenuhnya menjadi wewenanh Kementerian Agama (Kemenag).



 
Berita Terpopuler