Gejala Sisa Berikut Ini Bisa Dialami Penyintas Covid-19

Penyintas bisa mengalami long Covid-19 setelah dinyatakan sembuh.

Republika
Penyintas Covid-19 (ilustrasi)
Rep: Rr Laeny Sulistyawati Red: Andri Saubani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penderitaan orang yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) belum berakhir. Penyintas bisa mengalami long Covid-19 yaitu gejala sisa seperti kelelahan kronis, nyeri sendi, sesak napas berat, fibrosis atau jaringan paru yang kaku, hingga depresi.

Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menjelaskan, long Covid-19 adalah suatu kondisi gejala-gejala yang muncul pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 berdasarkan hasil tes swab yang sudah negatif. Kemudian gejala sisa muncul pascadinyatakan sembuh, dan kondisi ini bisa terjadi akibat ketika sakit kemudian menimbulkan kelainan yang menetap secara anatomis yang memengaruhi secara fungsional.

Baca Juga


"Long Covid-19 bukan karena virus yang tersisa, melainkan gejala sisa pascadinyatakan sembuh (sequelae). Gejala itu muncul bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dan menetap," ujarnya saat konferensi virtual BNPB Bertema Mewaspadai Efek Jangka Panjang Covid-19, Kamis (3/12).

Ia menambahkan, gejala sisa yang dialami orang yang sembuh dari Covid-19 bervariasi, mulai dari gejala kelelahan kronis, kemudian sesak napas berat, termasuk juga gejala berdebar-debar atau terkait organ tubuh jantung. Kemudian, dirinya sebagai dokter paru juga menemukan pasiennya yang telah sembuh kemudian mengalami fibrosis atau kekakuan pada jaringan paru.

Fibrosis bersifat menetap bisa dalam dua atau tiga bulan. Fibrosis ini, dia melanjutkan, akhirnya menyebabkan oksigen tidak bisa masuk paru-paru.

Akibatnya, pasien merasa napas berat, sesak, dan itu bisa dilihat dari tes uji fungsi paru. Ia menyebutkan beberapa laporan menyebutkan 20-30 persen pasien mengalami penurunan fungsi paru.

Penurunan fungsi paru berdampak pada keluhan pernapasan pasien yang mengeluh menjadi sesak napas. Tak hanya itu, ia menyebutkan penyintas juga bisa mengalami nyeri sendi, nyeri otot, bahkan gangguan psikologis, termasuk depresi pascaCovid-19.

"Long Covid-19 dilaporkan hampir semua populasi. Hanya proporsinya berbeda-beda," kata pria yang juga Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI Rumah Sakit (RS) Persahabatan itu.

Bahkan, ia menyebutkan beberapa kelompok pasien yang memiliki risiko tinggi contohnya orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti jantung, paru kronis akan lebih mudah mengalami masalah long Covid-19 karena telah memiliki penyakit dasar.

Tak hanya itu, ia menyebutkan orang lanjut usia juga lebih tinggi berpotensi mengalami long Covid-19. Kemudian orang yang memiliki potensi penyakit kronik misalnya kebiasaan merokok termasuk kelompok berpotensi mengalami long Covid-19.

"Bahkan beberapa laporan menyebutkan tidak memiliki komorbid atau risiko juga muncul long Covid-19. Jadi, ada beberapa hal yang belum bisa kami ketahui," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler