Menristek: Pembangunan di Area Rawan Gempa Harus Hati-Hati

Bangunan di selatan Jawa harus sudah didesain untuk mitigasi terhadap risiko tsunami.

Republika/Abdurrahman Rabbani
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro
Red: Ratna Puspita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pembangunan di daerah rawan bencana seperti gempa dan tsunami harus dilakukan hati-hati dan dengan ekstra proteksi. Hal ini agar tidak menimbulkan kerugian yang besar jika terjadi bencana.

Baca Juga


"Memang adanya potensi gempa ini harus menjadi perhatian kita karena kalau daerahnya itu secara ekonomi berkembang pesat maka otomatis ada konsentrasi dari penduduk yang tinggal di situ, tentunya kita tidak ingin penduduk dalam jumlah besar terekspos dengan risiko bencana," kata Bambang dalam acara virtual Keterangan Publik: Risiko Tsunami di Selatan Jawa, Jakarta, Rabu (30/9).

"Makanya pembangunan baik di barat Sumatra maupun bagian Selatan Pulau Jawa harus dilakukan secara lebih hati-hati dan dengan ekstra proteksi," lanjut Bambang.

Dia menuturkan, menurut penjelasan Angkasa Pura, Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo sudah didesain agar kuat terhadap kekuatan gempa besar tertentu dan sudah didesain pula di gedung terminal untuk mitigasi terhadap risiko tsunami. "Jadi kuncinya adalah kita bisa membangun tetapi mungkin dengan tingkat kecepatan yang tidak sama dengan daerah seperti pantai utara Pulau Jawa maupun pantai timur Sumatera dan harus ekstra proteksi dari segi bangunannya dari segi misalkan perhatian terhadap potensi gempanya itu sendiri," ujarnya.

Menristek menuturkan wilayah Indonesia digolongkan sebagai sabuk api yang memang mempunyai potensi bencana baik kegempaan, gunung meletus, tsunami maupun hidrometeorologi, sehingga masyarakat harus memahami itu dan membangun kesiapsiagaan terhadap bencana. Pembangunan di wilayah-wilayah di Indonesia juga harus memperhatikan risiko bencana untuk menghindari kerugian besar terkait nyawa maupun materi.

Sebelumnya, Tim Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meneliti tsunami purba di pantai Lebak, Pangandaran, Cilacap, Kutoarjo, Kulonprogo dan Pacitan. Endapan tsunami berumur 300 tahun ditemukan di sepanjang pantai itu. 

Di Lebak, tsunami tersebut mengendapkan batang-batang kayu di suatu rawa 1,5 kilometer (km) dari garis pantai. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan gempa dan tsunami raksasa akan berulang di jalur-jalur tunjaman lempeng.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler