PBB Prihatin dengan Satu Juta Kematian Akibat Covid-19

Sekjen PBB menyebut satu juta kematian akibat Covid-19 sangat menyiksa

AP/Andre Penner
Sekjen PBB menyebut satu juta kematian akibat Covid-19 sangat menyiksa. Ilustrasi.
Rep: Fergi Nadira Red: Christiyaningsih

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA - Jumlah kematian global dari pandemi Covid-19 telah melampaui satu juta pada Senin (28/9) malam. Angka itu juga diprediksi melebih angka resmi yang diberikan negara-negara.

"Tonggak angka satu juta sangat menyiksa," ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dikutip laman Washington Post, Selasa (29/9). Dia menekankan sangat penting bagi komunitas internasional untuk belajar dari kesalahan yang dibuat dalam 10 bulan pertama pandemi.

"Angka ini begitu memprihatinkan, tapi kita harus tetap saling peduli dan menjaga nyawa tiap-tiap individu," ujarnya dikutip laman ANI News, Selasa.

Dia mengatakan kepemimpinan yang bertanggung jawab itu juga penting. "Sains itu penting. Kerja sama itu penting dan misinformasi membunuh," ujar Guterres.
 
Menurut John Hopkins University and Medicine seperti dikutip laman Aljazirah, sekitar 1.000.555 jiwa di seluruh dunia meninggal dunia karena Covid-19 hingga Selasa (29/9). Covid-19 pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, China akhir tahun lalu ketika dokter mulai memperhatikan orang-orang sakit parah dengan bentuk baru pneumonia misterius.

Meskipun ada penutupan perbatasan dan karantina, virus itu menyebar ke seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah itu sebagai pandemi pada Maret.

"Jika ada, angka yang saat ini dilaporkan mungkin mewakili perkiraan yang terlalu rendah dari orang-orang yang tertular Covid-19 atau meninggal sebagai penyebabnya," kata Mike Ryan, ahli darurat utama WHO, dalam sebuah pengarahan di Jenewa pada Senin.

"Ketika Anda menghitung apa pun, Anda tidak dapat menghitungnya dengan sempurna, tetapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa jumlah saat ini kemungkinan lebih rendah dari jumlah sebenarnya dari Covid-19," katanya menambahkan.

Amerika Serikat (AS) telah melaporkan kematian terbanyak sebesar 205.031. Diikuti oleh Brasil (142.058), India (95.542), Meksiko (76.430), dan Inggris (42.090).

Dalam hal ini, para ahli mengatakan pengujian dan pelacakan kontak sangat penting untuk mengendalikan penyakit. WHO pun sudah mengumumkan bahwa sekitar 120 juta tes diagnostik cepat untuk virus akan tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah selama enam bulan ke depan.

"Tes tersebut memberikan hasil yang dapat diandalkan hanya dalam 15 menit," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Jumlah total kasus virus corona di seluruh dunia telah melampaui 33 juta, sementara hampir 23 juta orang telah pulih.

Baca Juga


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler