Greene, Politikus Dikenal Rasis dan Anti-Islam di AS Menang

Trump mendukung kemenangan Marjorie Green di pemilihan internal Republik di Georgia.

AP
Marjorie Taylor Greene.
Rep: Rizky Jaramaya Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung kemenangan Marjorie Taylor Greene yang mewakili Partai Republik dalam pemilihan Kongres November mendatang. Pada Rabu (12/8), Trump menyebut Greene sebagai "Bintang Republik di masa depan".

"Selamat. Marjorie kuat dalam segala hal dan tidak pernah menyerah. Pemenang sejati," ujar Trump dalam cicitannya di Twitter.

Pemilihan wakil partai untuk duduk di kursi Kongres biasanya jarang mendapatkan perhatian nasional. Namun, kemenangan Greene yang mewakili negara bagian Georgia dinilai menggambarkan radikalisasi politik AS.

Hasil pemilihan Partai Republik yang diumumkan Rabu (12/8) menyatakan Greene berhasil mengalahkan seorang dokter bedah bernama John Cowan. Pemenang primary Partai Republik ini tampaknya akan terpilih sebagai anggota Kongres pada November mendatang, karena distrik yang mereka wakili didominasi masyarakat pendukung Partai Republik.

Baca Juga


Pada primary Juni lalu Greene meraih 40 persen suara sementara Cowan hanya 21 persen suara. Pemilihan ulang dilakukan karena tidak ada kandidat yang meraih 50 persen suara.

Greene mendukung teori konspirasi QAnon yang mengklaim Presiden AS Donald Trump diam-diam sedang melawan para pedofil pemuja setan yang masuk ke dalam semua lini pemerintahan AS, termasuk institusi-institusi tertinggi di Negeri Paman Sam. Greene berulang kali mengungkapkan dukungannya terhadap teori konspirasi QAnon. Dalam sebuah video yang diambil 2017 lalu, Greene memuji subjek penyebar teori konspirasi yang hanya dikenal sebagai 'Q' sebagai seorang 'patriot'.

Dilansir South China Morning Post, Kamis (13/8), teori konspirasi telah lama berkembang di kancah politik Amerika yang penuh dinamika. Namun di era pemerintahan Presiden Trump, teori konspirasi seolah-olah mendapatkan ruang tersendiri. Dukungan Trump untuk Greene lebih dari sekadar tindakan balasan.

Slogan yang diusung oleh Greene, yakni "Save America" dan "Stop Socialism" sejajar dengan klaim presiden untuk membela negara dari kehancuran sosialisme. Tak hanya itu, Greene juga kerap mencerca media dengan menyebut "berita palsu" serupa dengan Trump. Dalam cicitannya di Twitter, Trump menyatakan bahwa Greene telah menginspirasinya untuk bertarung dengan keras dalam pemilihan presiden AS pada November mendatang.

"Terima kasih, Anda menginspirasi saya untuk berlari dan bertarung," ujar Trump.

Greene sempat mendapatkan kritikan karena komentar-komentarnya. Dalam sebuah video yang ditemukan oleh Politico, Greene membantah bahwa orang Afrika-Amerika menghadapi diskriminasi. Menurutnya, orang yang paling dianiaya di AS adalah kelompok kulit putih. Dia menolak isu rasisme sebagai sebuah masalah yang harus diselesaikan.
"Kelompok yang paling dianiaya di AS saat ini adalah kulit putih. Perbudakan sudah berakhir dan orang kulit hitam memiliki hak yang sama," ujar Greene.

Tak hanya itu, Greene juga menyebut bahwa invasi Islam telah masuk ke kantor pemerintahan AS. Hal ini merujuk pada terpilihnya dua perempuan Muslim dari Partai Demokrat ke Kongres pada 2018.

Greene juga menyebut pendonor gerakan pro-demokrasi terbesar di dunia, yakni penguasa Amerika keturunan Yahudi, George Soros sebagai 'Nazi'. Greene menyebut Soros adalah seorang Yahudi yang selamat dari peristiwa Holocaust yang menyerahkan rakyatnya sendiri kepada Nazi. Rizky Jaramaya

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler