Angka Kemiskinan di Indonesia Melonjak

Bertambahnya orang miskin di Indonesia utamanya karena kenaikan harga komoditas pokok

Antara/Yulius Satria Wijaya
Pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, kawasan Bukit Duri, Jakarta. Jumlah penduduk miskin di Indonesia kembali mengalami peningkatan pada Maret 2020 menjadi 26,42 juta orang (foto ilustrasi).
Rep: Dedy Darmawan Nasution Red: Nidia Zuraya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah penduduk miskin di Indonesia kembali mengalami peningkatan pada Maret 2020 menjadi 9,78 persen atau sebanyak 26,42 juta orang. Bertambahnya kemiskinan disebut akibat dampak dari pandemi Covid-19 yang menganggu keseimbangan sektor ekonomi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, mengatakan, dampak dari pandemi Covid-19 yang menganggu ekonomi cukup luar biasa. Salah satunya terhadap kenaikan harga sembako khususnya pangan pokok yang menjadi kebutuhan harian masyarakat.

BPS mencatat, pada periode September 2019 ke Maret 2020, secara nasional harga eceran beberapa komoditas pokok mengalami kenaikan. Yakni beras 1,78 persen, daging ayam ras 5,53 persen, minyak goreng 7,06 persen, telur ayam ras 11,10 persen serta gula pasri 13,35 persen.

Lebih lanjut dengan kondisi kemiskinan yang ada, nominal pengeluaran yang menjadi batas garis kemiskinan sebesar Rp 452.652 per kapita. Dari garis kemiskinan itu, 73,86 persen dikeluarkan untuk kebutuhan makanan, serta 26,14 persen untuk bukan makanan.

"Komoditas yang paling tinggi menyumbang ke garis kemiskinan adalah beras. Beras menyumbang 20,22 persen di perkotaan dan 25,31 persen di perdesaan," kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (15/7).

Ia menuturkan, besarnya peran komoditas pangan terhadap garis kemiskinan sudah terjadi setiap tahun. Setidaknya terdapat 10 komoditas makanan yang menjadi penyumbang utama terhadap garis kemiskinan dan lima komoditas non makanan.

Selain persoalan harga sembako yang naik dan memberikan kontribusi besar pada profil kemiskinan nasional, sektor pariwisata ikut menyumbang tingkat kemiskinan Indonesia per Maret 2020. Ia menyampaikan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Maret 2020 anjlok 64,11 persen dibanding Maret 2019.

"Meskipun pemerintah resmi mengumumkan kasus Covid-19 pada bulan Maret, namun sektor pariwisata dan pendukungnya sudah mulai terdampak sejak bulan Februari," katanya.

Selanjutnya yakni pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang membuat tingkat produk domestik bruto nasional melambat. Tercatat, pengeluaran konsumsi rumah tangga di kuartal I 2020 hanya tumbuh 2,84 persen, jauh di bawah kuartal I 2019 yang tembus hingga 5,02 persen.

Suhariyanto mengatakan, pemerintah tentunya sudah mempersiapkan program bantuan sosial secara rutin bagi penduduk miskin. Hanya saja pandemi Covid-19 berdampak besar sehingga dibutuhkan tambahan insentif. Tambahan insentif pun akhirnya baru diberikan lewat program jaring pengaman sosial pada bulan April 2020 dengan anggaran yang besar.


Baca Juga


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
Berita Terpopuler