WHO: Benua Amerika Terdampak Covid-19 Paling Parah

Empat negara di Amerika Utara dan Selatan dilanda pandemi paling parah di dunia.

AP/ Andre Penner
Pasien COVID-19 berbaring di ranjang di rumah sakit lapangan yang dibangun di dalam gym di Santo Andre, di Sao Paulo, Brasil, Selasa (9/6).
Rep: Rizky Jaramaya Red: Nur Aini

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Benua Amerika menanggung beban pandemi virus corona yang cukup berat. Empat negara di Amerika Utara dan Selatan dilanda pandemi paling parah di dunia.

Baca Juga


Kepala Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan menyoroti kasus virus corona di Brasil dan Meksiko yang terus merangkak naik. Brasil saat ini menjadi salah satu episentrum penyebaran virus corona secara global, terutama di kota-kota yang berpenduduk padat. Ryan mengatakan, sistem kesehatan Brasil mulai kewalahan dan mengalami tekanan cukup berat. Lebih dari 90 persen tingkat hunian tempat tidur di rumah sakit sudah penuh terisi.

Brasil adalah negara kedua di dunia dengan kasus infeksi virus mencapai lebih dari 800.000, dan 41.000 kematian. Sementara itu, Meksiko mencatat hampir 130.000 kasus virus corona yang dikonfirmasi dengan lebih dari 150.000 kematian.

"Kami sangat berat menghadapi pandemi ini khususnya di wilayah Selatan. Berapa negara mengalami kesulitan untuk melonggarkan lockdown karena jumlah kasus terus meningkat," ujar Ryan.

Menurut Ryan, ada kemungkinan pandemi virus corona menyebar lebih luas ketika pemerintah setempat melonggarkan lockdown dan membuka kembali aktivitas ekonomi mereka. Hal itu terutama ketika pengujian virus corona tidak memadai dan aturan menjaga jarak tidak ditaati. Ryan mengakui, tekanan ekonomi membuat sejumlah negara nekat melonggarkan lockdown meski jumlah kasus virus corona belum menunjukkan penurunan.

"Ada keseimbangan yang hati-hati antara tetap meminta warga tinggal di rumah, dan efek buruk terhadap ekonomi dan masyarakat. Itu bukan keseimbangan yang mudah. Tidak ada yang benar atau salah," kata Ryan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Gheybreyesus mengatakan, tingkat kewaspadaan terhadap virus corona di dunia harus tetap ditingkatkan. Dia mengingatkan kepada seluruh negara agar jangan terlalu jumawa jika jumlah kasus virus corona menurun, karena masih ada kemungkinan datangnya gelombang kedua.

"Ketakutan kami adalah meskipun menurun di Eropa, virus meningkat di bagian lain dunia. Bahkan Eropa bisa saja tidak aman, karena virus dapat kembali ke Eropa," ujar Ghebreyesus.

Ghebreyesus menekan, apabila vaksin virus corona berhasil dikembangkan maka harus dibagi secara adil kepada seluruh negara. Vaksin harus tersedia sebagai barang publik global dan memastikan setiap orang memiliki akses yang adil. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler