New Normal dan Bayang-Bayang Mayat di Brasil

Sikap abai terhadap protokol kesehatan akan membuat korban Covid-19 makin tinggi.

Republika/Putra M. Akbar
Anggota TNI saat menghimbau penumpang KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (28/5). Kedisiplinan protokol kesehatan di lingkungan KRL itu dilakukan menjelang diberlakukannya tatanan normal baru
Red: Joko Sadewo

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Christianingsih*

New normal menjadi dua kata yang kini makin kerap kita dengar. Istilah ini merujuk pada tatanan kehidupan baru yang menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak fisik antar manusia, dan pemeriksaan suhu tubuh adalah beberapa di antara norma baru dalam new normal.

Sejumlah pakar mengatakan Indonesia belum layak menerapkan new normal lantaran kurva infeksi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Ada pula  yang menyebut new normal di negara ini adalah bukti pemerintah sudah mengibarkan bendera putih karena tak sanggup lagi membendung pandemi. Maka pilihannya adalah sesegera mungkin memulai hidup baru berdampingan dengan virus corona dan segala risikonya.

Sebagian masyarakat sudah sadar betapa pentingnya menjaga protokol kesehatan demi keselamatan masing-masing. Namun banyak juga yang masih menganggap virus corona B aja atau dengan kata lain menyepelekan pandemi.

Di lingkungan rumah, saya masih melihat para remaja nongkrong bergerombol tanpa mengenakan masker. Tak jauh dari rumah juga ada pangkalan ojol yang sehari-hari dipenuhi driver berkumpul juga tanpa masker. Ketika saya naik lift, orang-orang masih berebutan masuk hingga lift penuh dan membuat saya menunda niat untuk masuk.

Bergeser ke Garut, sekelompok ibu-ibu memaksa masuk ke objek wisata Pantai Rancabuaya. Petugas telah menjelaskan tradisi liburan di tengah pandemi Covid-19 tak diizinkan karena melanggar protokol kesehatan. Namun mereka tidak menghiraukan.

Ini hanyalah segelintir contoh pengabaian protokol kesehatan yang terjadi di lapangan. Karakter masyarakat Indonesia yang doyan kumpul-kumpul sangat bertolak belakang dengan anjuran physical distancing. Tengok pula betapa ramainya pasar dan pusat perbelanjaan menjelang Lebaran kemarin, kendati ada PSBB. Masa bodoh dengan Covid-19 yang penting Lebaran bisa makan enak dan punya baju baru.

Fenomena itu membuat saya makin ngeri dengan wacana new normal yang digulirkan pemerintah. Pemerintah harus dan wajib memastikan protokol kesehatan ditegakkan tanpa pandang bulu, jika nantinya new normal benar-benar diimplementasikan.

Jangan sampai new normal justru membuat kita malah mengikuti jejak Brasil dan Amerika Serikat. Dua negara ini sama-sama dipimpin oleh orang yang tak mendengarkan sains di tengah pandemi.

Jair Bolsonaro dan Donald Trump kini menuai hasilnya. Data pada Rabu (27/5) memperlihatkan AS memuncaki peringkat sebagai negara dengan jumlah pasien dan korban meninggal tertinggi akibat Covid-19. Jumlah kematian akibat Covid-19 di Negeri Paman Sam telah melampaui 100 ribu jiwa. Brasil mengekor di belakangnya.

Menurut data Worldometers per Kamis (28/5) AS mencatatkan 1,74 juta infeksi Covid-19 dan lebih dari 102 ribu kematian. Brasil di peringkat dua memiliki 414 ribu infeksi Covid-19 dengan lebih dari 25 ribu kematian. WHO mengatakan Benua Amerika kini telah menjadi episentrum Covid-19.

Kenyataan tersebut sekaligus mematahkan teori yang sempat beredar bahwa suhu udara di negara tropis dapat menahan laju penularan virus corona. Secara geografis iklim Brasil sama dengan Indonesia yang beriklim tropis dan berada di belahan bumi selatan. Brasil juga punya kelembapan yang hampir sama dengan Indonesia.

Dikutip dari Antara, berdasarkan angka weather-atlas.com temperatur rata-rata Kota Manaus di negara bagian Amazonas, Brasil sepanjang Mei adalah 23,3-30,6 derajat Celcius. Sedangkan kelembapan udaranya 87 persen.

Amazonas berada agak di bawah garis khatulistiwa sebagaimana dengan hampir tiga perempat wilayah daratan Indonesia. Termasuk Jawa dan Sumatra, dua pulau paling banyak dihuni manusia di Nusantara.

Pengalaman Brasil di suhu tropis yang tak selamat dari Covid-19 semoga menjadi pelajaran berharga sebelum Indonesia menerapkan new normal. Jangan sampai kebijakan new normal yang tak diikuti tingkat kepatuhan masyarakat yang tinggi membuat Indonesia harus bernasib sama mengenaskannya seperti Negeri Samba.

*) Penulis adalah jurnalis Republika.co.id


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler