Wayne Rooney Kritik Pemangkasan Gaji Pemain Inggris

Rooney mengeluh mengapa pesepak bola jadi kambing hitam saat pandemi corona.

DC United via AP
Wayne Rooney
Red: Endro Yuwanto

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan penyerang timnas Inggris Wayne Rooney mengkritik pemerintah dan Liga Inggris. Ini terkait rencana pemangkasan gaji pemain dampak dari pandemi corona.

"Jika pemerintah mendekati saya untuk membantu dukungan finansial kepada para perawat atau membeli ventilator, saya akan dengan bangga melakukannya, sepanjang saya tahu kemana uang itu akan pergi," tulis Rooney dalam kolomnya di The Sunday Times, Ahad (5/4).

Rooney mengaku berada di posisi di mana ia dapat memberikan sesuatu. Tidak semua pesepak bola berada di posisi yang sama seperti dirinya. "Sekarang tiba-tiba profesi ini menjadi sorotan dengan tuntutan untuk melakukan pemangkasan gaji sebesar 30 persen. Mengapa pesepak bola menjadi kambing hitam?" tambahnya.

Rencana pemangkasan gaji para pemain Liga Inggris muncul setelah operator Liga Inggris, Serikat Pesepak Bola Profesional (PFA), dan Asosiasi Manajer Liga (LMA) melakukan konferensi via telpon untuk mendiskusikan hal tersebut.

Setelah konferensi tersebut, PFA mengatakan para pemain siap berkontribusi, namun mereka mengingatkan dampak dari pemotongan gaji 30 persen tersebut adalah menurunnya pendapatan negara dari pajak.

Pengurangan pendapatan tersebut selanjutnya akan berpengaruh kepada layanan medis Inggris, NHS, yang didanai pajak.

Liga Inggris mendapat banyak kritik karena dianggap tertinggal dari liga-liga papan atas Eropa lainnya dalam merespon pandemi virus corona.

Namun, Rooney yang kini membela klub Championship Derby County, mempertanyakan kebijakan Liga Inggris dalam melakukan dialog dengan para pemain. "Menurut saya, sekarang adalah situasi no-win (bagi para pemain). Dilihat dari arah manapun, kami adalah sasaran empuk," jelas mantan bintang Manchester United itu.




sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terkait
Berita Terpopuler