Legenda Liverpool Ungkap Alasan Ogah Jadi Pelatih

Carragher pun memberi contoh dengan apa yang terjadi pada Thierry Henry.

Reuters
Mantan pemain Liverpool, Jamie Carragher.
Rep: Reja Irfa Widodo Red: Gilang Akbar Prambadi

REPUBLIKA.CO.ID,MERSEYSIDE -- Memutuskan gantung sepatu pada 2013, Jamie Carragher kini lebih banyak tampil sebagai pakar atau komentator pertandingan sepak bola di Sky Sports. Mantan kapten sekaligus bek tengah andalan Liverpool itu pun mengaku memiliki pertimbangan tersendiri untuk tidak berkiprah sebagai manajer atapun melatih sebuah tim.


Saat sejumlah rekan-rekan seangkatannya memilih untuk melanjutkan karier sebagai pelatih, Carragher fokus untuk terus berada di luar jalur tersebut. Jebolan akademi sepak bola Liverpool, yang akhirnya sukses mengantarkan the Reds meraih satu titel Liga Champions itu, menyebut, ada tanggung jawab dan tantangan yang begitu besar saat memutuskan untuk terjun sebagai pelatih.

''Jika Anda bertanya saat saya masih berusia 20 tahun, mungkin menjadi pelatih adalah salah satu pilihan. Namun, begitu memasuki akhir karier, saya mulai berpikir menjauh dari kemungkinan itu. Sekitar 10 atau 15 tahun lalu, akhirnya saya berpikir menjadi manajer akan sangat merepotkan dan apakah semua yang Anda pertaruhkan benar-benar terbayar,'' kata Carragher kepada Sky Sports, Selasa (31/3).

Carragher menambahkan, saat menjadi pemain, salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah mengalami kegagalan. Namun, risiko tersebut justru menjadi motivasi buat dirinya untuk bisa meraih kesuksesan. Situasi ini pula yang sebenarnya bisa memotivasi Carragher saat menjadi pelatih. 

Kendati begitu, Carragher mengaku belum siap untuk menerima kegagalan di dunia kepelatihan. 

Carragher pun memberi contoh dengan apa yang terjadi pada Thierry Henry. Saat menjadi pemain, Henry telah mendapatkan segalanya, mulai dari trofi Piala Dunia, titel Liga Primer Inggris, hingga Liga Champions. Namun, sebagai pelatih, kegagalan demi kegagalan mewarnai kiprah Henry, termasuk saat hanya bertahan kurang dari empat bulan menukangi AS Monaco pada musim lalu.

''Terlepas dari apapun alasannya, kiprahnya di Monaco adalah sebuah kegagalan dan hal memalukan buat dirinya. Hal itu akan terus menghantui dirinya. Saya melihat itu sebagai sebuah contoh, dan sepertinya, saya belum siap posisi untuk membiarkan posisi manajer merenggut hidup saya,'' ujar Carragher.

Belum lagi, kata dia, dengan tantangan di dunia kepelatihan pada saat ini. Carragher, yang mulai dipercaya menjadi pundit di Sky Sport pada Piala Eropa 2012 itu, menilai, kemampuan meracik strategi dan taktik permainan serta melatih tidaklah cukup. Saat ini, sisi manajerial seorang pelatih lebih dikedepankan dibanding aspek-aspek lain.

''Saat ini, tidak cukup Anda mendatangkan pemain yang bagus, tapi Anda juga harus mampu mengintegrasikan pemain tersebut ke dalam tim. Seorang pelatih menyeimbangkan perannya, sebagai seorang yang memegang kendali dan dekat dengan para pemain. Untuk menyeimbangkan hal itu, buat saya adalah hal yang berbeda,'' tutur Carragher. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terkait
Berita Terpopuler