Penjelasan Dosen Unpad Soal Sejarah Valentine

Kapitalisme mengambil untung sebesar-besarnya dari Valentine.

republika
Meme Valentine
Rep: Febryan. A Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari Valentine yang dirayakan kalangan tertentu setiap 14 Februari sebenarnya berawal dari kisah perjuangan seorang pendeta Katolik. Tapi, para kapitalis membelokkan maknanya demi keuntungan ekonomi. Umat Islam pun turut jadi sasaran.

Demikian penjelasan Dosen Sejarah Universitas Padjajaran, Tiar Anwar kepada Republika.co.id, Kamis (13/2).

Tiar mengatakan, asal usul hari Valentine itu adalah kematian Santo Valentinus pada 14 Februari di awal abad pertengahan (abad ke-5 Masehi). Umat Katolik pun melaksanakan misa khusus setiap 14 Februari untuk menghormatinya.

Santo Valentinus dihormati dan dianggap orang suci, kata Tiar, karena kerelaannya mengorbankan diri. "Kan gereja pada abad pertengahan itu, terutama awal-awal, berhadapan dengan orang Pagan, Yahudi, dan Romawi, yang tidak menerima agama Kristen. Dia pun kemudian jadi korban karena memperjuangkan keyakinannya," kata Tiar menjelaskan.

Sering berjalan waktu, lanjut dia, masyarakat Eropa dan Amerika mulai memaknai misa Valentine sebagai hari kasih sayang. "Misa terhadap Santo Vaelentinus itu kemudian dikaitkan dengan pengorbanan dalam percintaan. Dikaitkan dengan hari cinta kasih," ucapnya.

Tapi, sejak era industrialisasi (abad 18 Masehi), kata dia, hari Valentine mulai diperingati dengan cara pergaulan bebas. Perubahan maknan secara drastis ini adalah buah praktik kapitalisme yang berupaya mencari keuntungan sebesar-besarnya.

“Para kapitalis memanfaatkan isu Valentine ini sebagai saranan cari untung dengan mengampanyekan seks bebas. Padahal aslinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan begituan,” ujar Tiar.

Hal itu, jelas Tiar, tampak dengan meningkatnya penjualan kondom, minuman keras, kamar hotel serta kunjungan ke diskotek saat hari Valentine.

Baca Juga


"Itu yang meramaikan dan mengaitkannya dengan seks bebas ya industri - industri ini. Bahkan mereka promo besar-besaran setiap hari Valentine,"

Keberhasilan mengeksploitasi hari Valentine, lanjut dia, akhirnya turut disebarkan di Indonesia. Seks bebas marak dilakukan setiap tanggal 14 di negara dengan mayoritas Muslim ini sejak era 90-an. "Muncul di Indonesia itu trennya setelah Orde Baru," ucap Tiar.

Sejak saat itu pula lah para pemuka agama Islam mulai menkritisi perayaan Valentine, terutama pada kalangan remaja. "Kalangan Islam mengkritik karena perilaku seks bebas turut dilakukan umat Islam. Padahal tidak sesuai dengan karakter umat Islam," ucapnya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Berita Terkait
Berita Terpopuler