BPOM DIY Temukan Makanan Mengandung Bahan Berbahaya

makanan mengandung bahan berbahaya ini ditemukan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.

Antara/Jojon
Petugas BPOM Kendari melakukan pemeriksaan jajanan khas Ramadhan yang dijual oleh pedagang di Bundaran Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/5/2019).
Rep: Silvy Dian Setiawan Red: Dwi Murdaningsih

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY menemukan 13,9 persen makanan mengandung bahan berbahaya. Hal ini ditemukan setelah melakukan pemantauan dan pengawasan di seluruh kabupaten dan kota di DIY.

Kepala BPOM DIY, Rustyawati mengatakan, makanan tersebut mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks dan rhodamin b. Berdasarkan pemantauan dan pengawasan sejak awal Ramadhan, makanan mengandung bahan berbahaya ini ditemukan di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul. 

"Yang bermasalah ada di (ikan) trinasi, mie basah dan kerupuk," kata Rustyawati di Pasar Beringharjo, Jumat (17/5).

Ia mengatakan, makanan yang mengandung formalin dan boraks ini berasal dari luar DIY yakni Solo. Sementara, makanan mengandung rhodamin berasal dari Jawa Tengah.

Penemuan ini diambil dari 205 sampel makanan. Termasuk takjil yang memang banyak dijual pada Ramadhan ini.

Dari 205 sampel makanan, 79 sampel merupakan takjil. Namun, takjil yang mengandung bahan berbahaya tidak terlalu banyak ditemukan.

"Hasilnya, sejauh ini kan masih berproses. Tiap hari kita turun ke lapangan. Dari 79 sampel hanya dua persen yang mengandung bahan berbahaya," katanya.

Selain itu, juga ditemukan beberapa makanan yang rusak. Seluruh makanan rusak yang ditemukan tersebut langsung diambil dan dimusnahkan.

"Makanan rusak yang bentuknya kalengan. Ada susu, sayur dan buah dalam kaleng yang rusak. Kita tidak toleransi untuk dijual, langsung diturunkan dan dimusnahkan," ujarnya.

Baca Juga


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler