Wacana Autopsi Petugas KPPS, Keluarga: Kasihan Anak Saya

Siti menilai putra meninggal wajar karena kelelahan.

Antara/Risky Andrianto
Warga mengangkat jenazah seorang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu serentak 2019 yang meninggal dunia usai mendapatkan perawatan di rumah sakit untuk dimakamkan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/4).
Rep: M Fauzi Ridwan Red: Teguh Firmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Sejumlah pihak menginginkan autopsi terhadap petugas penyelenggara pemilu yang meninggal pascapencoblosan. Namun para keluarga korban meninggal menolak jika ada yang meminta agar dilakukan autopsi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak empat orang pengawas tempat pemungutan suara (TPS) di Kabupaten Bandung meninggal diduga karena kelelahan. Mereka yaitu Baginda Sori Muda (28 tahun), pengawas TPS 69, Desa Cileunyi Wetan.

Iwan Hermawan di Cicalengka, Ganjar Faturahman di Baleendah dan Asep Syarif di Rancabali. Selain itu, petugas KPPS Indra Lesmana asal Cicalengka, Kabupaten Bandung meninggal.

Orangtua dari Ganjar Faturahman (26), Asep Sujatma, warga Andir, Kecamatan Baleendah menolak jika ada pihak yang meminta agar anaknya diautopsi. Sebab penyebab anaknya meninggal karena kelelahan dan tidak terdapat sesuatu yang janggal.

"Kasihan mayat sudah lama (dikubur), harus digali lagi. Saya sama sekali gak setuju," ujarnya, Selasa (14/5). Anaknya, menurutnya sudah beristirahat dengan tenang sehingga tidak perlu diganggu dengan cara diautopsi.

Ibu almarhum, Siti menambahkan, anaknya meninggal karena kelelahan saat bertugas selama proses pemilihan umum (pemilu) 17 April lalu. Kondisi saat itu, tengah banjir di pemukiman warga. Sehingga proses kegiatan harus ditempuh ekstra melewati banjir.
"Ibu gak setuju jika makam anak ibu harus dibongkar dan diotopsi. Anak ibu meninggal wajar (kelelahan)," ungkapnya.


Baca Juga


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler