Mitos dan Fakta Kulit Sehat

Banyak fakta dan mitos mengenai kesehatan kulit yang beredar di masyarakat.

EPA
Studi menyebut warna kulit wajah mempengaruhi persepsi terkait kondisi kesehatan.
Rep: Farah Noersativa Red: Ani Nursalikah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kulit merupakan organ terbesar manusia, dan sayangnya sering dianggap remeh ketika sehat. Banyak fakta dan mitos mengenai kesehatan kulit yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Lantas, mana yang benar dan mana yang salah dari fakta dan mitos itu? Dilansir di NZ Herald, Sabtu (2/3), berikut daftarnya.

FAKTA - Kulit terus memperbarui dirinya


Kulit memberi penghalang dinamis antara lingkungan internal tubuh dan dunia luar. Sel-sel disebut keratinosit dalam epidermis atau lapisan luar kulit.

Sel-sel itu terus-menerus membelah menghasilkan pasokan sel yang bergerak naik melalui lapisan ini dan dikeluarkan dari permukaannya. Lebih baik, manusia minum sebanyak dua liter air dalam sehari untuk menjaga kulit tetap sehat.

Namun, fakta yang salah adalah jumlah air yang diminum sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi kulit. Air disuplai ke kulit oleh darah yang mengalir melalui dermis, lapisan dalam kulit.

Air akan hilang dari epidermis, terutama di lingkungan yang kering. Air dibutuhkan menjaga hidrasi kulit dan ketika mengalami dehidrasi serius, kulit Anda tampak kusam dan kurang elastis.

FAKTA - Stres membuat kulit tidak sehat

Hormon stres termasuk kortisol atau hormon steroid yang dibuat dalam kalenjar adrenal akan memperparah kondisi kulit. Hal ini hampir sama dengan alopecia areata, yakni suatu kondisi autoimun di mana kekebalan tubuh mulai menyerang folikel rambut dan menyebabkan rambut rontok.

Pada kulit, kulit berpotensi mengalami psoriasis, yaitu kondisi auto-imun lain yang menyebabkan penebalan kulit, penskalaan dan peradangan. Lalu mengalami eksim atau radang kulit merah yang gatal sering terjadi bersamaan dengan asma, demam, dan alergi lainnya.

MITOS - Makan cokelat menyebabkan jerawat

Jerawat (Acne vulgaris) sebenarnya dapat bertahan hingga usia 30-an dan 40-an. Hal ini terjadi sebagai akibat interaksi antara efek hormonal pada kalenjar lemak di kulit, ditambah respons kekebalan kulit terhadap pori-pori dan mikroba yang hidup di kulit.

Makan jenis makanan tinggi lemak memang tidak sehat karena berbagai alasan. Namun jenis makanan ini tidak menyebabkan jerawat.

Bahkan, beberapa tablet yang diresepkan untuk jerawat parah, seperti isotretinoin oral lebih baik diserap ketika pil ditelan dengan makanan berlemak, termasuk cokelat.


MITOS - Serbuk deterjen menyebabkan eksim

Eksim adalah suatu kondisi di mana kulit kering, gatal, dan merah. Ini disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan efek lingkungan yang menyebabkan peradangan.

Sabun, deterjen, dan bubuk pencuci dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan kekeringan karena menghilangkan minyak dari kulit. Hal ini seperti halnya cairan pencuci menghilangkan minyak dari piring.

Serbuk pencuci mengandung enzim, yaitu protein yang memecah lemak dan protein lain untuk menghilangkan noda. Protein ini dapat mengiritasi kulit sensitif sehingga memperburuk eksim.

MITOS - Tanda putih pada kuku artinya kekurangan kalsium

Kuku diproduksi dalam matriks kuku, area di bawah kulit di tepi atas kuku. Jika matriks mengalami trauma, terbentur atau tergigit terjadi ketidakteraturan pada kuku yang sedang berkembang, maka udara menjadi terperangkap.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan tanda putih pada kuku ada, terutama saat kuku tumbuh. Kalsium penting untuk kuku yang sehat, tulang, dan gigi sehat. Namun, tanda putih ini bukan tanda kekurangan kalsium.

MITOS DAN FAKTA - Sinar matahari baik bagi kulit

Banyak orang mengalami mood yang baik dari hari yang cerah. Namun, ternyata ada efek baik dan buruk dari sinar matahari.

Cahaya dari matahari termasuk campuran berbagai panjang gelombang cahaya. Beberapa di antaranya terlihat oleh mata manusia.

Gelombang yang pendek dari warna yang bisa kita lihat, disebut ultraviolet (UV). Dan gelombang lebih panjang, disebut inframerah. Panjang gelombang yang berbeda memiliki efek yang berbeda pada kulit.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler