Gedung Kramat 106 Saksi Sejarah Gelora Sumpah Pemuda

Republika/Ronggo Astungkoro
Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.
Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ronggo Astungkoro, wartawan Republika

Sebuah rumah di Jalan Kramat Raya No 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, mungkin tak akan dikenal jika sekelompok pemuda Indonesia era 1920-an tak merasa butuh tempat tinggal yang cukup luas. Rumah itu menjadi saksi jalannya sejarah bangsa ini.

Para pemuda yang tergabung dalam organisasi Jong Java kala itu membutuhkan bangunan yang lebih luas untuk menampung aktivitas berdiskusi dan berlatih kesenian. Sebelum akhirnya pindah ke rumah yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda itu, para pemuda Jong Java tinggal di Gedung Kwitang No 3.

Rumah yang mereka sewa itu tak lebih besar dari rumah di Kramat Raya 106 itu. Bangunan yang disebut sebagai Gedung Kramat 106 itu berdiri di atas sebidang tanah seluas 1.285 meter persegi dengan satu bangunan utama dan dua paviliun.

Kemudian, sejak 1926, Gedung Kramat 106 tak hanya dihuni pemuda Jong Java saja. Banyak pemuda yang berasal dari berbagai suku dan berbagai perguruan tinggi juga tinggal dan berkumpul di sana. Hingga kini, Gedung Kramat 106 masih terdiri dari beberapa kamar, aula, dan lapangan.

Dulu, semasa dihuni oleh para pemuda, terdapat meja biliard di Gedung Kramat 106. Sehingga, selain untuk berdebat politik, belajar, dan berlatih kesenian, Gedung Kramat 106 juga kerap digunakan untuk kongkow-kongkow pemuda atau mahasiswa di Jakarta kala itu.

Luas dan kerap dijadikan tempat nongkrong menjadi salah satu alasan mengapa gedung milik Sie Kong Liong itu dijadikan tempat rapat Kongres Pemuda ke-2. Kongres yang pada akhirnya menghasilkan apa yang saat ini kita sebut sebagai Sumpah Pemuda.

Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. (Foto: Ronggo Astungkoro/ Republika)
 

Kongres Pemuda sendiri dilakukan dua kali. Pertama, dilakukan pada selama tiga hari dimulai dari 30 April 1926. Kala itu, kongres dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut dari pertemuan yang dilakukan organisasi kepemudaan Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan Jong Bataks Bond (Tabrani, 1975:4).
 
"Kongres Pemuda Pertama yang diundang itu hanya sekitar 70 sampai 80 orang. Tapi, ternyata yang datang lebih dari 100 orang. Dari situ panitianya berpikirlah 'kita harus cari tempat yang luas'," ungkap Bhakti Ari, Staf Bidang Edukasi dan Informasi Museum Sumpah Pemuda kepada Republika.co.id di Gedung Kramat 106, Kamis (26/10).
 
Atas alasan itulah, Kongres Pemuda ke-2 dilakukan di tempat yang lebih luas. Tempat-tempat dengan aula atau ruang yang luas dipilih untuk menampung peserta kongres yang dibagi menjadi dua hari itu.
 
Rapat pertama, Sabtu 27 Oktober 1928, diselenggarakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), yang terletak di dekat Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Rapat tersebut dibuka pada pukul 20.00 WIB.
 
Keesokan harinya, pada pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB, rapat kedua dilakukan di Gedung Oost-Java Bioscoop. Gedung yang, menurut Bhakti, kini menjadi gedung Mahkamah Agung di sebelah Istana Negara. Di sana peserta rapat juga membludak sampai-sampai banyak yang tidak mendapat tempat duduk.
 
Rapat ketiga dilakukan pada malam harinya. Sekitar pukul 20.00 WIB rapat itu dibuka oleh Ketua Kongres Soegondo Djojopoespito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Rapat terakhir ini menghasilkan tiga butir keputusan yang hingga sampai saat ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
 
Pada rapat terakhir itu, para peserta yang hadir sangat banyak. Bhakti menyebutkan, ada ribuan pemuda yang hadir dalam rapat pada 28 Oktober 1928 itu. Mereka memenuhi aula Gedung Kramat 106 hingga ke lapangan dan Jalan Kramat Raya.
 
"Pada waktu itu, yang diundang 80-an orang tetapi yang datang lebih dari 1.000. Mereka sampai ke jalan, Jalan Kramat Raya ini penuh orang," kata dia.


Setelah Kongres Pemuda ke-2 dilakukan di Gedung Kramat 106, pemuda-pemuda yang masih menempuh pendidikan sempat tinggal di pondokan itu. Pusat kegiatan mahasiswa kala itu ada di sana.
 
Sampai tiba saatnya, sekitar enam tahun pascadibacakannya Sumpah Pemuda, kegiatan mahasiswa di sana pindah ke Jalan Kramat No 156. Sejak saat itulah, Gedung Kramat 106 beberapa kali mengalami alih fungsi tak lagi menjadi pondokan atau indekos bagi mahasiswa.

Bhakti menjelaskan, Gedung Kramat 106 sempat beberapa kali berubah fungsi. Setelah pelajar tak lagi meneruskan sewanya, gedung itu disewakan kepada seorang keturunan Tiongkok, Pang Tjem Jam. Ia menggunakan gedung itu sebagai tempat tinggalnya selama kurang lebih tiga tahun.
 
Pada 1937, gedung itu kemudian disewakan kepada Loh Jing Tjoe untuk kemudian dijadikan sebagai toko bunga hingga 1948. Sejak 1948, Loh Jing Tjoe mengubah gedung tersebut menjadi sebuah hotel bernama Hersia hingga 1951. Dari situ, kemudian Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.
 
Barulah pada 1973 gedung itu diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Menurut Bhakti, di Museum Sumpah Pemuda pernah terjadi kebakaran di bagian belakang gedung. Ketika itu, museum tersebut sempat terlantar.

Diorama dan barang bersejarah di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. (Foto: Ronggo Astungkoro/ Republika)
 
"Delapan puluhan akhir, 89-an kalau tidak salah, pedagang-pedagang masuk menaruh gerobaknya di belakang. Itu cerita dari pegawai yang sudah pensiun. Gara-gara itu tau-tau terbakar, begitu pegawai masuk tinggal puing-puing saja di bangunan lama itu," kata Bhakti.
 
Karena itu, kini bentuk bangunan di bagian belakang Museum sudah berbeda dengan bentuk bangunan aslinya. Mulai dari Ruang Kepanduan ke belakang, bangunan yang terbakar dibangun kembali. Atapnya tak setinggi atap bangunan asli.
 
Bagian yang berbeda dari bangunan asli juga terdapat di aula Gedung Kramat 106. Di ruangan tempat Sumpah Pemuda itu dibacakan, kini terdapat sekat tembok untuk satu ruangan. Bhakti mengatakan, tembok itu dibangun saat Gedung Kramat 106 dijadikan hotel.
 
"Waktu direncanakan dijadikan museum, bagian itu tidak dipugar. Pak Ali Sadikin kemudian meresmikan dan sudah jadi benda cagar budaya jadi tidak bisa diapa-apakan lagi," jelas pria yang sudah bertugas di sana selama delapan tahun ke belakang itu.
 
Sejak 2009, kata Bhakti, pemerintah tegas menyatakan museum adalah aset bangsa yang harus betul-betul dirawat dengan baik. Pembenahan dan penambahan fasilitas pun dilakukan dari tahun-ke-tahun. Saat ini, Museum Sumpah Pemuda sudah dilengkapi pendingin ruangan dan layar interaktif.
 
Hanya Ruang Kepanduan yang tidak dilengkapi pendingin ruangan. Di sana hanya diberikan kipas angin, bukan air conditioner.
 

 
Berita Terpopuler