Menara Soekarno dan Legenda Si Manis Jembatan Ancol

Republika/Agung Supriyanto
Warga menikmati matahari tenggelam saat menunggu berbuka puasa (ngabuburit) di Pantai Festival, Ancol, Jakarta, Kamis (30/6). (Republika/Agung Supriyanto)
Red: Karta Raharja Ucu

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi shahab

Saban musim liburan sekolah, tempat-tempat rekreasi di Ibu Kota kembali diserbu pengunjung. Tak terkecuali Taman Impian Jaya Ancol, yang merupakan tempat rekreasi pantai terbesar di Asia Tenggara.

Kawasan Ancol, sejak abad ke-17, yakni pada masa-masa awal berdirinya VOC, sudah menjadi tempat wisata. Karena pantainya yang indah dan bersih, sejak itu sudah banyak berdiri rumah peristirahatan kaum elit bangsa Belanda. Bahkan Gubernur Jenderal Valckenier memiliki sebuah rumah peristihatan besar dengan taman yang luas.

Pemilihan Ancol sebagai tempat peristirahatan waktu itu, memang sangat beralasan. Kawasan ini letaknya dekat dengan pusat Kota Batavia di Pasar Ikan --yang juga disebut Kota Inten.

Karena itu tak heran jika kawasan yang terletak antara Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok ini menjadi taman rekreasi bagi kaum berpunya Belanda. Ketika itu, setiap Sabtu, ratusan kendaraan sado (kereta kuda) memasuki Ancol membawa para warga elit Belanda dan keluarganya untuk beristirahat di vilanya masing-masing. Mereka diiringi para budaknya yang memiliki tugas-tugas khusus.

Khusus soal budak ini, punya cerita tersendiri. Makin banyak budaknya ketika itu, makin tinggi status sosialnya.


Sementara itu pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan, Ancol merupakan daerah yang terlupakan. Kawasan yang luasnya 552 hektar ini dibiarkan terlantar dan menjadi sarang penyakit malaria. Kemudian timbulah ide untuk memanfaatkan kembali Ancol.

Dalam master plan (rencana induk) awal, Ancol akan dijadikan kawasan industri. Namun waktu itu Presiden Sukarno menggagas ide agar Ancol dijadikan kawasan rekreasi terpadu dan bertaraf internasional. Dan, Gubernur DKI Sumarno ditunjuk sebagai pelaksana proyek Ancol.

Waktu itu, Bung Karno sudah merencanakan membangun sebuah menara yang akan diberi nama 'Menara Soekano'. Sejumlah empang-empang milik orang Betawi sudah dibebaskan. Namun pembangunan menara ini batal direalisir menjelang kejatuhannya Bung Karno. Proyek tersebut dinilai sebagai proyek mercusuar.

Nama Ancol sendiri tidak dapat dipisahkan dari legenda Betawi 'Si Manis dari Jembatan Ancol'. Kisahnya telah berkali-kali disinetronkan.

Menurut Ridwan Saidi, pada 1950-an surat kabar Keng Po selalu menyiarkan berita kecelakaan lalu lintas yang sering membawa korban manusia di Jembatan Ancol.

Sejumlah penumpang atau sopir yang tertolong jiwanya menceritakan, kecelakaan yang dialaminya berkait dengan munculnya secara tiba-tiba seorang dara ayu dekat jembatan Ancol. Si gadis bahenol ini terkadang berdiri di tepi jembatan dan terkadang melintas jembatan.

Karena konsentrasi sopir jadi terganggu melihat kecantikan paras si dara ayu itu, kemudian menyebabkan mobilnya menubruk pohon atau terjungkel. Sampai 1960-an, jalan yang kini selama 24 jam padat lalu lintasnya, pada malam hari selepas Isya hampir tidak ada sopir yang berani lewat.

"Mobil yang lewat di atas pukul 10 malam bisa dihitung dengan jari," kata H Irwan Syafi'ie, tokoh Betawi. Para pengemudi kalau melewati jembatan ini harus memberi kode seperti membunyikan klakson atau menyalakan lampu sein.


Menurut Ridwan, si gadis dari Jembatan Ancol bernama Ariah, yang hilang sekitar 1870/1871. Ia meninggal dan jasadnya hilang, setelah menolak hendak diperkosa di suatu vila di Ancol. Dari sudut agama, Ariah, katanya, mati syahid karena meninggal untuk mempertahankan kehormatannya. Jadi anggapan Ariah jadi setan tidak beralasan.

Kawasan Ancol selain 'angker', sebelum dibangun proyek wisata, juga dikenal sarang monyet yang hidup disemak-semaknya. Sering kali monyet-monyet ini muncul di jalan-jalan. Pemimpinnya dijuluki 'Si Kondor'.

Almarhum KH Abdullah Syafi'ie, ulama Betawi, pernah menyindir monyet-monyet di Ancol sekarang ini bukan lagi berupa binatang tapi manusia. Sindiran ini berkait dengan seringnya dimanfaatkan kawasan Ancol sebagai tempat maksiat di malam hari. Pria dan wanita berindehoy di pasir hanya dialingin dengan sebuah payung.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
Berita Terpopuler