Memaknai Halal Bihalal

Red:

Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah yang baru saja berlalu selalu diikuti dengan halal bihalal yang bernuansa religius sosial di kalangan masyarakat. Halal bihalal merupakan ekspresi kebahagiaan setelah berpuasa di bulan Ramadhan dengan rasa penuh kesyukuran, saling memaafkan atas kesalahan yang ada, dan untuk mengintrospeksi diri.

Namun, sesungguhnya siapa perintis atau pemrakarsa halal bihalal ini? Di banyak negara Islam sebenarnya tidak dikenal istilah halal bihalal. Namun, halal bihalal sudah membudaya di Indonesia dan dirintis sejak 1947 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Halal bi halal menjadi penyambung tali silaturahim yang sudah menjadi tata cara kehidupan bangsa Indonesia. Saling menghalalkan, saling melepaskan ikatan, dan mencairkan hubungan yang membeku.

Dengan kaidah falsafah silaturahim kita bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman, membina hubungan yang harmonis, mempererat persaudaraan, dan saling memberikan perhatian, serta saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Halal bihalal yang dilanjutkan dengan silaturahim beriktikad mengumpulkan "balung apisah", saling mendekatkan hubungan keluarga dan teman-teman, serta kenalan untuk menyayangi secara harmonis. Melalui silaturahim, berbagai ide dan gagasan dapat dibentuk, program-program, kegiatan-kegiatan yang terpadu, serta kerja sama yang berfaedah. Baik yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi, budaya, sosial, dan lain-lain.

Amanat Idul Fitri

Pada hakikatnya halal bihalal adalah amanat Idul Fitri. Tradisi ini didasarkan pada simpul ajaran keluhuran budi, di mana manusia dituntut untuk membiasakan hidup rukun, mudah memaafkan, dan penuh takwa. Secara etimologis, istilah halal bihalal mungkin tidak dijumpai dalam bahasa Arab,  namun secara terminologis, pemaknaan terhadap istilah ini murni pemikiran dalam bahasa Indonesia. Dengan berhalal bihalal menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya renggang dan berselisih menjadi "halal" dengan dimensi teologis yang paling puncak, yaitu menghadirkan rasa empati dan kedamaian. Adanya halal bihalal selama Idul Fitri, menciptakan kehangatan dan ketulusan sosial. Menyadari kekurangan, dengan sungguh-sungguh melakukan introspeksi dan saling memaafkan sebagai pengakuan bahwa tidak ada orang yang sempurna.

Tradisi ngabekten atau sungkem

Sungkeman atau"ngabekten" dalam budaya Jawa yang juga berlaku di budaya lainnya di Indonesia adalah berkumpul di Hari Raya Idul Fitri untuk melepas rasa rindu. Tradisi ini secara turun-temurun ada di keraton, dilaksanakan dalam acara resmi untuk menghormati raja, sultan, ayah, ibu, dan sesepuh, maupun orang-orang yang sudah lansia. Meskipun ada hierarki sosial yang tidak dapat dimungkiri kefitrahannya, namun yang terpenting justru adanya pengakuan hak-hak kemanusiaan yang berlaku universal. Relasi sosial ini secara filosofis memiliki kandungan makna yang tinggi berupa penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua, baik ayah, ibu, maupun kakek-nenek (eyang). Berterima kasih akan jasa-jasa orang tua yang tiada terhingga dan utamanya memohon maaf atas segala kesalahan kita terhadap orang tua. Sungkeman sering dilakukan pada orang lain yang dianggap lebih tua, memiliki banyak pengorbanan untuk anaknya, serta pantas dimintai "sawab" dan restunya.

Kembali ke jati diri bangsa

Halal bihalal sesungguhnya dapat menjadi momentum kita bersama untuk kembali ke jati diri bangsa. Tanpa disadari, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, jati diri yang menjadi kepribadian kita seperti etika, moral, perilaku masyarakat, baik pada orang tua maupun generasi muda mulai terkikis. Memudarnya jati diri bangsa saat ini dipengaruhi oleh dua  faktor yang bersifat internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri kita sendiri, sedangkan eksternal mengacu pada pengaruh dari luar. Minimnya pendidikan budi pekerti, ditambah kurangnya rasa empati dan sikap skeptis telah membentuk karakter bangsa. Pendidikan akan membentuk pengetahuan, di mana pengetahuan akan diekspresikan dalam bentuk tindakan. Setiap tindakan seseorang membentuk perilakunya. Agregasi perilaku seluruh orang menjadi sebuah karakter. Oleh karenanya, halal bihalal sudah seharusnya mampu membentuk karakter bangsa sesuai nilai-nilai luhur yang kita yakini. Bukan hanya terbatas selama perayaan Idul Fitri saja.

Dunia mengakui bahwa Indonesia merupakan bangsa yang berbudaya luhur, santun, ramah, dan mudah bersahabat. Faktor eksternal muncul sebagai implikasi dari informasi, komunikasi, dan perdagangan dunia yang tanpa batas. Globalisasi yang tanpa batas menghadirkan budaya asing dalam kehidupan masyarakat kita. Halal bihalal hanya dimaknai sebagai ritual tahunan dan tidak merefleksikan perbuatan sehari-hari. Globalisasi memunculkan cultural shock dan ketidakseimbangan perkembangan antara budaya yang ada dengan budaya yang datang. Jika budaya asing muncul tanpa kesiapan kita dalam menerima kultur luar, tanpa terjadi penyaringan mana yang sepaham dan harmonis serta mana yang tidak, akan menyebabkan degradasi jati diri bangsa sehingga mengakibatkan lemahnya hakikat nilai-nilai luhur yang terkandung pada Pancasila.

Halal bihalal harus mampu menghadirkan nilai-nilai keutamaan silaturahim. Banyak ilmu, pengalaman, dan wawasan dapat juga diserap darinya. Silaturahim menjadi media yang mampu memulihkan rasa persatuan dan kesatuan bagi masyarakat. Apalagi di saat bersamaan Indonesia dihadapkan pada pemilihan presiden yang telah memecah bangsa ini ke dalam dua kelompok pendukung.

Tentunya di tengah pesta demokrasi yang baru berlalu, silaturahim harus dapat mewujudkan rasa saling membutuhkan, solidaritas, dialog, pengertian, dan memperkuat saling percaya dan kerja sama. Segala perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat pun dapat diselesaikan dengan damai demi kepentingan bangsa Indonesia secara keseluruhan, sembari menghayati halal bihalal dalam kehidupan keseharian kita yang hakiki.

Mooryati Soedibyo Wakil Ketua MPR RI Periode 2004-2009 dan Pendiri Mustika Ratu

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
Berita Terpopuler