Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

 

Pajak-Pajak, Tradisi di Tanah Datar Sambut Ramadhan

Kamis 17 May 2018 15:14 WIB

Red: Budi Raharjo

Masyarakat makan bersama dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan yang disebut dengan tradisi pajak-pajak. Tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Masyarakat makan bersama dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan yang disebut dengan tradisi pajak-pajak. Tradisi ini biasa dilakukan oleh masyarakat Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Foto: Antara/Syahrul R.
Pajak-pajak adalah tradisi makan-makan di tepi sungai atau kebun untuk silaturahim

REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan merupakan bulan suci yang sangat ditunggu kehadirannya oleh umat Islam di seluruh dunia. Sebagai bulan istimewa, tak heran banyak masyarakat Muslim yang menggelar acara khusus untuk menyambutnya.

Masyarakat Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat juga punya tradisi khusus untuk menyongsong bulan suci. Namanya, pajak-pajak.

Pajak-pajak merupakan tradisi berupa makan-makan di tepi sungai atau kebun milik warga yang bertujuan meningkatkan silaturahim serta bermaaf-maafan.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Arfianto Datuak Tan Kayo, mengatakan, pajak-pajak adalah tradisi makan bersama yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat menjelang masuknya Ramadhan.

"Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dahulu, biasanya diadakan di lokasi yang dekat dengan sumber air. Sebab, setelah makan-makan akan dilanjutkan dengan mandi-mandi," kata dia di Batusangkar, pekan lalu.

Dijelaskan, dalam pelaksanaan tradisi ini, setiap orang memiliki peran tersendiri. Misalnya, kaum pria bertugas mencari ikan di sungai. Sedangkan, kaum wanita atau kaum ibu mempersiapkan keperluan memasak. Anak-anak pun mendapatkan tugas, yakni mencari kayu bakar untuk memasak makanan.

Biasanya, lanjut Arfianto, tidak butuh dana besar menggelar tradisi ini. Sebab, setiap peserta akan patungan membawa beras dan alat yang akan digunakan untuk memasak. "Dari sini, rasa kebersamaan muncul dan juga sikap gotong royong, itu makna sebenarnya selain mempererat silaturahim," katanya.

Mengenai tradisi pajak-pajak ini, Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi Dr Gazali menjelaskan, pada dasarnya dalam Islam tidak dijelaskan tentang ritual ataupun tradisi balimau atau tradisi lain dalam menyambut Ramadhan.

Namun, menurut dia, tradisi-tradisi tersebut juga tidak bisa dianggap salah karena Islam juga menyuruh umatnya untuk menyucikan diri serta menjaga silaturahim.

Namun, ia menambahkan, banyak tradisi itu yang telah mengalami pergeseran nilai dari yang telah dilakukan sejak dulu. "Kalau dulu benar-benar sebagai wujud kegembiraan dalam menyambut datangnya Ramadhan, akan tetapi saat ini sudah banyak mengarah pada hal yang jauh dari syariat Islam," katanya.  antara ed: wachidah handasah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES