Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

Kamis, 9 Ramadhan 1439 / 24 Mei 2018

 

Tradisi Sha'abanah Jelang Ramadhan di Arab Saudi

Kamis 17 Mei 2018 09:53 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Andi Nur Aminah

Sebuah keluarga di Arab Saudi (ilustrasi)

Sebuah keluarga di Arab Saudi (ilustrasi)

Foto: [ist]
Tradisi Sha'abanah dilakukan sebagian masyarakat Saudi menandai akhir bulan Sya'ban.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Setiap daerah memiliki beragam tradisi menjelang bulan suci Ramadhan. Di Arab Saudi, khususnya di wilayah Hijaz, masyarakat di sana kerap menggelar tradisi Sha'abanah menandai akhir bulan Sya'ban.

Dalam tradisi itu, teman-teman dan keluarga pergi keluar untuk melakukan tur kelompok, memainkan permainan yang populer, menikmati berbagai makanan dan menghibur diri. Sebelum akhirnya mereka bersiap untuk mencurahkan waktu Ramadhan dengan beribadah kepada Allah.

Tidak jelas kapan kebiasaan itu dimulai. Namun, sejarawan dan para penatatua meyakini tradisi itu telah dirayakan selama hampir satu abad. Adapun namanya, Sha'abanah berasal dari bulan di mana tradisi itu dilakukan, yaitu bulan Sya'ban.

Menteri berkuasa penuh di Kementerian Luar Negeri Saudi, Abdullah Kurdi, mengatakan Sha'abanah memang dapat dilakukan di mana saja. Namun, masyarakat Hijazi, yang tinggal di sepanjang jalan dari Taif melalui Makkah dan Jeddah ke Madinah, mewarisi tradisi tersebut. "Keluarga di salah satu kota ini bertukar kunjungan dengan keluarga mereka yang tinggal di kota lain," kata Kurdi, dilansir di Arab News, Kamis (17/5).

Dia mengatakan, karena Taif berjarak lebih dari 400 km dari Madinah dan di masa lalu keluarga takut mereka bisa diserang atau tersesat, dua atau lebih keluarga akan melakukan perjalanan bersama. Kegiatan yang dimulai kala itu kini menjadi bagian dari tradisi.

Selama perjalanan, mereka berhenti di sebuah gunung atau di bawah pohon untuk menyiapkan makanan dan meminum minuman hangat sesudahnya. Mereka menikmati pertemuan mereka, di mana pria menunjukan keterampilan memasak, sedangkan wanita diperlakukan seperti halnya ratu.

Setelah Sha'ban, pria di empat kota tersebut sering menjauh dari keluarga mereka selama apa yang mereka sebut "musim", yang mengacu pada periode dari Ramadhan menuju Haji (bulan ke-12). Kurdi mengatakan, musim ini adalah kesempatan bagi semua pedagang, pekerja dan bahkan orang-orang biasa di wilayah Hijaz untuk menjalani kesibukan bekerja selama musim Haji.

"Ini mungkin membenarkan kebutuhan mereka untuk jangka waktu di mana mereka kehilangan diri dan keluarga mereka dalam kenikmatan," lanjut Kurdi.

Supervisor Administrasi Umum untuk Perpustakaan Umum di Kementerian Kebudayaan dan Informasi Saudi, Faisal Marghalani, mengatakan bahwa keluarga di Hijaz mempraktekkan sejumlah kebiasaan lama di hari-hari sebelum Ramadhan dimulai. "Keluarga di sana menikmati pesta atau pertemuan lain, dengan makanan," kata Marghalani.

Seorang pensiunan dosen di Universitas Taibah, Wafa Al-Tayeb, mengatakan baru-baru ini dia menghadiri perayaan Sha'abanah yang diselenggarakan oleh seorang pengusaha wanita di Madinah. Menurutnya, acara ini diadakan di dalam ruangan di mana wanita itu memperkenalkan kembali Sha'abanah dengan cara yang modern dan kreatif.

Seorang ahli pendidikan yang bermarkas di Riyadh, Dalal Al-Angari, mengatakan meski dia tidak mendengar tradisi seperti itu di wilayah tengah negara itu, perayaan pra-Ramadhan diadakan di Provinsi Timur yang oleh penduduk setempat disebut 'Al-Quraish'. "Ini mirip dengan Sha'abanah dari orang Hijazi, saya kira," kata Al-Angari.

Sementara itu, para ulama Islam telah terbagi atas diperbolehkannya Sha'banah dalam Islam. Beberapa ahli percaya bahwa Ramadhan tidak boleh didahului oleh kegiatan semacam itu. Namun, Syaikh Dr Khaled Al-Muslih, profesor yurisprudensi Islam di Universitas Qassim, mengatakan dalam salah satu program fatwanya di saluran TV satelit Daleel, bahwa mempraktikkan Sha'abanah diperbolehkan selama tidak ada kesalahan yang dilakukan.

"Sha'abanah dipraktekkan di dalam dan di luar Arab Saudi, di mana keluarga berkumpul untuk satu malam atau bahkan lebih. Sudah menjadi kebiasaan. Adat istiadat diizinkan dalam Islam, kecuali dikaitkan dengan ibadah," kata Al-Maslih. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES