Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Mahasiswa Teknik Unissula Belajar pada Pakar MRT Jakarta

Rabu 16 May 2018 14:45 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

Seminar pakar yang digelar Fakultas Teknik (FT) Unissula.

Seminar pakar yang digelar Fakultas Teknik (FT) Unissula.

Foto: Dokumen.
Para mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dari ahlinya.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dibangun untuk menekan angka kemacetan. Transportasi jenis ini juga didesain guna meningkatkan angka produktivitas masyarakat di ibu kota.

Hal ini terungkap dalam seminar pakar yang digelar Fakultas Teknik (FT) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah, dengan mengangkat topik MRT Jakarta, di kampus Unissula.

Project Engineer PT MRT Jakarta, Rudyatmoko Gondo Suyono, dalam seminar ini mengatakan moda transportasi ini sangat ideal untuk kota Jakarta sebagai ibu kota negara.

Karena Jakarta merupakan kota dengan aktivitas publik yang tinggi dan sarat problem yang sangat kompleks, dengan kemacetan, kesibukan masyarakat, dan problem lainya.

"MRT Jakarta juga menjadi moda transportasi darat yang pertama di Indonesia. Ini akan menjadi loncatan yang sangat signifikan dalam dunia transportasi," ujarnya.

Rudyatmoko juga menjelaskan, secara teknis bagaimana proyek MRT Jakarta dilakukan dan hingga saat ini masih berlangsung.

MRT, jelasnya, di bangun di bawah jalan raya yang sudah ada. Bagaimana teknis pembangunannya, lorong MRT Jakarta dibangun dengan menggunakan alat dan sistem yang sangat canggih.

Dengan memanfaatkan alat tunnel boring machine (TBM) dalam pengerjaannya mata bor ini bisa mengeluarkan air agar tanah menjadi lunak.

"Cutter heat TBM yang berada di bagian depan ini bisa berputar secara simultan dan akan menggerus tanah secara berlahan," katanya, di hadapan mahasiswa Fakultas Teknik Unissula.

Tanah hasil bor, jelasnya, akan ditampung di bagian mixing chamber lalu diangkut menggunakan screw conveyor dan diteruskan ke belt conveyor.

Dari belt conveyor tanah hasil pengerusan diangkut ke workshop menggunakan kereta-kereta kecil. "Alat ini juga bisa memasang segmen beton untuk menyangga terowongan yang telah dibuatnya," ujar Rudyatmoko.

Selain teknis pengerjaan, pada kesempatan ini, ia juga menjelaskan bahwa proyek MRT menggunakan jenis kontrak internasional.

Sementara itu, dari bekal seminar ini harapannya mahasiswa Fakultas Teknik Unissula mendapatkan manfaat dan ilmu yang memberikan manfaat di kemudian hari.

Terutama bagi mahasiswa yang akan mengabdikan ilmu pengetahuan yang telah didapatnya di tengah-tengah masyarakat. "Seperti seminar pakar ini, mereka mendapatkan pengalaman langsung dari ahlinya," kata Rektor Unissula, Prabowo Setyawan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA