Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Kakak Roy Suryo Dikukuhkan Guru Besar Bidang Kesehatan

Rabu 14 February 2018 15:12 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih

Raden Ajeng Yayi.

Raden Ajeng Yayi.

Foto: republika/wahyu suryana
Raden Ajeng Yayi mencatat sejarah sebagai guru besar bidang kesehatan pertama.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mengukuhkan Prof Dr Yayi Suryo Prabandari sebagai Guru Besar Bidang Kesehatan. Raden Ajeng Yayi akan mencatat sejarah sebagai guru besar bidang kesehatan pertama yang ditetapkan Kemenristekdikti Republik Indonesia.

Pendalaman keilmuwan, pengajaran dan kegiatan terkait pengendalian tembakau di Indonesia yang digeluti selama 20 tahun lebih sukses mengantarkan Prof Yayi mencapai gelar akademis tertinggi sebagai ilmuwan sosial. Prof Yayi dikukuhkan sebagai Guru Besar Kesehatan UGM.

Wanita yang lahir di Yogyakarta pada 15 November 1964 silam itu akan menjadi guru besar pertama di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Sekaligus, di seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia.

Anak kedua dari empat bersaudara ini dikukuhkan sebagai guru besar pada 15 Februari 2018. Dalam pidato pengukuhan di Balai Senat UGM, Yayi akan mengangkat tajuk Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Perilaku Merokok di Indonesia: Antara Fakta dan Harapan.

Ia menilai, penyakit kecanduan merokok kini telah menjadi tantangan penggiat pelayanan kesehatan, terutama layanan promosi kesehatan. Promosi kesehatan merupakan proses untuk mendorong orang meningkatkan kendali dan meningkatkan keadaan kesehatannya.

"Prinsip pertama, pelibatan seluruh populasi dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari dan mendorong mereka untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan," kata kakak dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo tersebut kepada Republika.co.id, Rabu (14/2).

Kedua, lanjut Yayi, mengatasi penentu kesehatan dengan pendekatan ke hulu, artinya usaha bekerjasama dengan berbagai sektor tiap tingkatan, baik lokal ke nasional. Ketiga, memakai pendekatan yang bervariasi, kompelemnter dari intervensi legislasi dan fiskal.

Selain itu, perubahan organisasi dan pengembangan komunitas harus melalui pendidikan dan komunikasi yang dalam perkembangan multiinterveni menjadi socioecological model. Prinsip keempat partisipasi publik efektif yang membutuhkan pengembangan individu dan kapasitas komunias.

"Dan prinsip kelima, peran dari profesi kesehatan dalam pendidikan dan advokasi untuk kesehatan," ujar dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pemprov DKI Jakarta akan Tambah Jalur Sepeda

Selasa , 20 February 2018, 20:09 WIB