Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Jumat, 10 Ramadhan 1439 / 25 Mei 2018

Politikus PKS: Jangan Takut dengan Perempuan Bercadar

Selasa 15 Mei 2018 17:43 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita

Anggota Komisi III DPR-RI, Nasir Djamil usai gelar rapat gabungan Komisi III bersama KPK, Polri, dan Jaksa Agung di Gedung Nusantara II, Senin (16/10).

Anggota Komisi III DPR-RI, Nasir Djamil usai gelar rapat gabungan Komisi III bersama KPK, Polri, dan Jaksa Agung di Gedung Nusantara II, Senin (16/10).

Foto: Republika/Singgih Wiryono
Nasir mengatakan, ketakutan dan kekhawatiran terhadap perempuan bercadar tidak tepat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, mengajak masyarakat untuk tidak takut atau curiga terhadap perempuan bercadar, menyusul sejumlah aksi teror di Jawa Timur dan penangkapan terduga teroris di sejumlah lokasi. Terlebih, ia mengatakan, Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan agar masyarakat tidak takut.

"Jangan takut, ngapain takut-takut dengan orang bercadar," kata politikus PKS tersebut di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/5).

Dia memahami ketika masyarakat merasa takut terhadap orang-orang yang menjadi pelaku teror pengeboman karena pelaku menggunakan pakaian yang identik dengan agama tertentu. Namun, dia meyakinkan bahwa ketakutan dan kekhawatiran terhadap perempuan bercadar karena aksi terorisme tidak tepat.

Sebab, terorisme tidak identik dengan agama, ras, dan kelompok tertentu. "Teroris itu kan perilaku. Jadi, tidak betul kalau teroriis itu dikaitkan dengan orang tertentu, agama tertentu, dan sebagainya, apa lagi kemudian apriori terhadap simbol-simbol agama," kata Nasir.

Aksi teror beruntun di Jawa Timur pada Ahad (13/5) dan Senin (14/5) memunculkan kekhawatiran di masyarakat. Aksi teror pertama terjadi lewat pengeboman tiga gereja di Surabaya yang melibatkan satu keluarga beranggotakan ayah, ibu, dan empat anak pada Ahad.

Keluarga melakukan pengeboman di tiga gereja, yakni Dita Upriyanto, Puji Kuswati, Fad (12 tahun), PR (9), Yusuf Fadil (18), dan FH (16).

Pada Senin, satu keluarga dengan ayah, ibu, dan tiga anak, satu di antaranya selamat, melakukan aksi di Mapolrestabes Surabaya. Mereka adalah Tri Murtiono, Tri Ernawati, Muhammad Daffa Anin Murdana, dan MDS (15). 

Selain itu, bom tidak sengaja meledak di rumah keluarga beranggotakan enam orang. Korban meninggal dunia adalah Anton Febrianto (47 tahun) yang merupakan kepala keluarga, istrinya bernama Puspita Sari (47), dan satu anak perempuannya bernama RAR (17). 

Sebelum kejadian teror tersebut, kerusuhan melibatkan narapidana teroris terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob, Depok, Jawa Barar. Akibat kejadian ini, lima polisi gugur dan seorang napi teroris meninggal.

Kejadian lainnya adalah penangkapan dua perempuan di dekat Mako Brimob. Kedua perempuan diduga akan menyerang polisi menggunakan gunting. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA