Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Komunitas Drone Bantu Korban Kebakaran Sampit

Selasa 30 January 2018 23:01 WIB

Red: Hazliansyah

Ilustrasi kebakaran

Ilustrasi kebakaran

Foto: Antara/Jeremias Rahadat
Hal itu sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian komunitas tersebut

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPIT, KALTENG -- Komunitas penyuka pesawat tanpa awak atau 'drone' di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, membantu korban kebakaran di daerah itu. Hal itu sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian komunitas tersebut terhadap warga yang menjadi korban kebakaran.

"Jangan dilihat dari nilainya, tapi ini bentuk ketulusan kami untuk membantu semampunya," kata Ketua Squadrone Sampit, Julyan Afif di Sampit, Selasa.

Komunitas pecinta 'drone' yang melakukan aksi sosial itu tergabung dalam kelompok yang mereka beri nama 'Squadrone'. Kelompok ini sudah beranggotakan sekitar 32 orang dari berbagai kalangan.

Banyak kegiatan positif yang mereka lakukan melalui komunitas tersebut, tidak melulu mencari kepuasan dengan menerbangkan 'drone' dan berburu foto. Mereka memanfaatkan komunitas sebagai wadah bersilaturahmi, bertukar informasi dan pengalaman tentang banyak hal, serta saling berbagi untuk membantu sesama.

Seperti pada Selasa sore, anggota 'Squadrone' datang ke lokasi bekas kebakaran di kawasan Teluk Dalam Kelurahan Mentawa Baru Hilir Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Mereka bertemu dengan warga dan berusaha memberi dukungan moril agar para korban kebakaran tabah dan tetap bersemangat menjalani hidup.

Mereka juga membawa bantuan berupa empat rol selang mesin pompa air pemadam kebakaran, barang kebutuhan pokok dan uang tunai. Bantuan yang merupakan sumbangan sukarela anggota 'Squadrone' itu diserahkan kepada warga melalui ketua RT setempat untuk mengoordinir pembagiannya.

"Bantuan selang pemadam kebakaran itu merupakan permintaan warga di sini. Selang mereka ikut terbakar saat kebakaran terjadi," kata Julyan diiyakan Musthafa atau Topan, pengurus 'Squadrone'.

Kebakaran pada Selasa (23/1) lalu menghanguskan 10 bangunan terdiri dari tujuh rumah, satu sekolah, satu mushalla dan satu tempat sumber air bersih. Kejadian itu menyebabkan 12 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal sehingga harus mengungsi dan 92 pelajar terpaksa bersekolah menumpang di sekolah lain.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES