Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Bunuh diri dari Zaman Yunani Hingga Aksi 'Bom Gila' Surabaya

Rabu 16 May 2018 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Personel penjikan bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).

Personel penjikan bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).

Foto: M RIsyal Hidayat/Antara
Di rimba dan savana tak ada harimau atau singa yang tega memangsa anaknya sendiri.

Oleh: Muhammad Subarkah*

‘’Semua ahli dan prosefor yang mengkaji terorisme bingung untuk menjelaskan mengenai aksi bom bunuh diri yang diindikasikan dilakukan oleh sebuah keluarga di Surabaya!”  Pernyataan ini ditegaskan oleh pengamat terorisme, Al Chaidar. Saat dia berbicara Al Chaidar mengaku sempat melihat tayangan seorang peneliti terorisme yang terlihat tak mampu fokus ketika menjawab pertanyaan di televisi mengenai penyebab aksi bom bunuh diri di Surabaya itu.

‘’Ya saya sendiri juga begitu. Semua teori tentang terorisme sudah dibalikkan. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebuah keluarga menghancurkan teori yang ada tentang teorisme. Saya katakan aksi itu ‘ultimate terorism’ (tindakan puncak sebuah teror). Pelakunya hanya bisa dijelaskan sebagai aksi ‘orang gila’,’’ kata Al Chaidar.

Memang mengacu pada teori klasik bila pelaku aksi teror itu adalah orang yang kurang kasih sayang, miskin, atau menutup diri rapat-rapat kehidupannya, keluarga itu malah sebaliknya. Mereka adalah keluarga yang hidup lumayan, bergaul dengan tetangga melalui shalat bersama di masjid hingga arisan ibu-ibu, suka memotong sapi untuk kurban dan dagingnya dibagikan ke tetangga sekitar, serta bukan   orang yang tersisih dari kehidupan. 

‘’Mungkin dia dicuci otak?’’ tanya saya kepada Al Chaidar. Dia menjawab pendek, Itu mungkin saja dan itulah yang menyebabkan dia disebut gila. Dan memang kalau jawabannya mungkin, maka perkara dicuci otak semua bisa terjadi, apalagi ada yang menyebut untuk melakukan 'cuci otak' hanya butuh waktu singkat, yakni cukup 21 hari saja.

Dan dalam sejarah dunia, memang banyak sekali kisah tentang fenomena bunuh diri. Yang paling kontemporer adalah fenomena seorang penjual buah di pinggir jalan, Mohamed Bouazizi,  di Tunisia yang bakar diri sehingga memicu Arab Spring. Fenomena lain yang sangat terkenal adalah kematian keluarga Hitler menjelang penaklukan Berlin pada waktu akhir perang dunia kedua. Para anggota keluarganya meminum racun sianida.

Atau yang lainnya, adalah feomena Kamikaze, di mana para pilot Jepang bunuh diri dengan menukikan pesawat terbangnya ke cerobong asap kapal perang Amerika. Kala itu dalam kancah perang dunia II bala tentara Jepang sudah terdesak. Mereka tinggal bertahan serta mengajak duel satu persatu. Pilot itulah yang menjadi pilihannya. Dia terbang bunuh diri untuk menghancurkan armada Amerika. Di sini pun ada kisah di mana para penerbang Kamikaza dilepas dengan upara kebesaran, dikalungi bunga, serta di salami bak pahlawan.

photo

aksi kamikaze pilot pasukan Jepang. (wikipedia)

Tapi baiklah sebelum ‘ngelantur', marilah membatasi saja bicara soal sejarah asal mula bunuh diri. Apalagi ada tulisan yang menarik dari lama wikipedia tentang 'History of Suciade in The World’.

Setelah dialih bahasakan tulisan itu kurang lebih begini: Pada umumnya, dalam dunia orang Pagan, baik Romawi maupun Yunani, memiliki sikap santai terhadap konsep bunuh diri. Seorang senator zaman Yunani, Arles (hidup di tahun 452), sempat  menyataka: "Jika seorang budak melakukan bunuh diri, maka tidak ada celaan akan jatuh pada tuannya."

Pada Abad Pertengahan, penguasa gereja di Eropa pun telah melakukan diskusi mengenai posisi pencarian kemartiran melalui  bunuh diri, seperti dalam kasus beberapa martir dari Córdoba. (Di sini ada film yang layak mengisahkannya, yakni kepahlawan sekaligus tragedi 'Joan Ark' di Prancis, red)

Di lain itu ada anggapan soal ‘suciede’ (bunuh diri) dari para pemikir Yunani kuno. Filsuf Pythagoras, misalnya, memang menentang tindakan itu, meskipun lebih pada soal angka-angka atau hitungan matematika daripada alasan moral. Pythgoras  percaya bahwa hanya ada sejumlah jiwa yang terbatas untuk digunakan di dunia, dan bahwa kepergian yang tiba-tiba dan tidak terduga dari seseorang mengganggu keseimbangan yang rumit.

Bapak demokrasi yang meninggal akibat dihukum untuk minum racun, Aristoteles, juga mengutuk tindakan bunuh diri, meskipun untuk alasannya yang agak berbeda dan jauh lebih praktis, Dia beralasan bunuh diri itu merampok komunitas layanan dari salah satu anggotanya.

Juga ketika membaca sebuh dokumen Yunani kuna. Di sana juga menunjukkan bahwa Plato juga menentang praktik bunuh diri itu. Ia sejalan dengan pemikiran Socrates ketika membela ajaran Orphics, yang percaya bahwa tubuh manusia adalah milik para dewa, dan dengan demikian menyakiti diri sendiri adalah pelanggaran langsung terhadap ilahi dan hukum.

Sedangkan pada masa Romawi, bunuh diri tidak pernah menjadi pelanggaran hukum secara umum, meskipun seluruh pendekatan terhadap pertanyaan itu pada dasarnya bersifat pragmatis. Ini diilustrasikan dengan contoh yang diberikan oleh Titus Livy dari koloni Massalia (sekarang Marseilles,red), di mana orang-orang yang ingin bunuh diri hanya berlaku untuk anggota Senat, dan jika alasan mereka dinilai terdengar mereka kemudian diberi  fasilitas khusus, yakni ’hemlock’ gratis.

Tapi bunuh diri saat itu  dilarang oleh tiga sebab khusus, yakni akibat dituduh melakukan kejahatan modal, tentara, dan budak. Alasan di balik pelarangan atas kasus bunuh diri dari ketiganya sama yaitu: tidak ekonomis bagi orang-orang ini untuk mati.

Uniknya, jika orang tersebut masih saja nekad nunuh diri, maka sorang terdakwa yang bunuh diri sebelum persidangan,  maka negara kehilangan hak untuk merebut harta mereka. Dan celah aturan ini  hanya busa ditutup oleh putusan seorang hakim, Domitian, pada abad ke-1, yang memutuskan bahwa mereka yang meninggal sebelum persidangan tanpa ahli waris yang sah.

Aturan ketat pun dikenakan kepada anggota militer. Di Roma kala itu ada hakim: bila bunuh diri dilakukan oleh seorang prajurit maka diperlakukan aturan akan diberlakukan yang sama seperti seperti seorang tentara melakukan desersi. Dan khusus kepada seorang budak yang melakukan diri diri dalam kurun waktu enam waktu enam bulan setelah pembelian, tuannya dapat mengklaim pengembalian penuh dari pemilik sebelumnya.

Namun, kala itu orang Romawi pun ternyata secara sepenuhnya menyetujui apa yang mungkin disebut "bunuh diri patriotik" atau  kematian yang dilakukan sebagai alternatif untuk mencemarkan nama baik. Bagi kaum Stoik, sekte filosofis yang berasal dari Yunani, menganggap kematian adalah jaminan kebebasan pribadi, yakni sebuah jalan keluar dari eksistensi yang tak tertahankan.

Dan ada pula dalam kisah bunuh diri ' Si Belia Cato' (Cato the Younger). Aksi bunuh diri yang dilakukannya adalah  sebagai penyebab kekalahan orang Pompei pada Pertempuran Thapsus. Jadi ketika ada yang melakukan bunuh diri untuk tujuan itu, mereka menganggap sebagai adalah 'kematian yang indah’, yang dibimbing oleh akal dan hati nurani. Contohnya kemudian diikuti oleh Seneca. Dia bunuh diri. karena dicurigai terlibat dengan konspirasi Pisonian untuk membunuh Kaisar Nero yang terkenal kejam. Saking kejamnya Kaisar Romawi yang membakar kota Roma dan banyak membunuh orang Kristen, banyak yang memakai nama 'Nero' sebagai nama anjing penjaga.

Jadi, pada zaman Romawi di sana memang ada semacam garis yang sangat jelas ditarik oleh orang-orang Romawi antara bunuh diri yang bajik dan bunuh diri untuk alasan pribadi sepenuhnya. Mereka tidak menyetujui cara kematian Markus Antonius bukan karena dia melakukan bunuh diri semata, atau tanpa alasan jelas, tetapi bahwa Markus bunuh diri demi pertanda ketulusan cintanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES