Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Refleksi Peringatan Hari Buku Nasional

Ahad 13 May 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Warga mendapatkan buku gratis dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional di di Car Free Day (CFD) Jl Ir H Djuanda, Kota Bandung (Ilustrasi)

Warga mendapatkan buku gratis dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional di di Car Free Day (CFD) Jl Ir H Djuanda, Kota Bandung (Ilustrasi)

Foto: Dede Lukman Hakim
Daya tarik buku kalah oleh pamor game online yang peminatnya kian meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wawang Nurfalah *)

 

Ada cerita yang masih terkenang dalam ingatan, dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar saya begitu tertarik dengan cerita-cerita yang terjadi pada masa lampau. Seperti kisah para nabi dan cerita para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan dari para penjajah. Begitu juga cerita si kancil yang selalu memiliki ide untuk lolos dari bahaya yang menghampirinya, cerdik dan juga bijaksana. Buku cerita tersebut bisa saya baca sampai berulang-ulang, bukan hanya karena cerita itu menarik namun lebih pada keterbatasan buku yang ada, apalagi sekolah waktu itu tidak memiliki perpustakaan. Buku merupakan sesuatu yang wah dimana untuk mendaptkan informasi tidak semudah seperti saat ini. 

Saya berpikir, waktu itu minat membaca sudah tumbuh sedemikian baik, namun yang menjadi masalah daya baca tidak berkembang karena keterbatasan bahan bacaan. Semangat baca yang awalnya tinggi menjadi tidak berarti karena keterbatasan buku yang dapat diakses. Wajar jika berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah.

Berdasarkan data Wolrd’s Most Literate Nations (WMLN) yang meneliti 61 negara pada tahun 2016 lalu, menujukan bahwa lima besar negara dengan minat baca tertinggi adalah Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Sementara Indonesia sendiri berada pada urutan kedua terakhir dari peringkat bawah. Tepatnya pada pringkat 60 dari 61 negara di bawah Thailand dan Malaysia. (webcapp.cssu.edu).

Sampai saat ini topik minat baca masih tetap hangat diberbincangkan, media cetak maupun elektronik banyak kita dapati memuat topik ini bahkan seminar literasi dan gerakan membaca semakin gencar di galakan oleh dinas pendidikan dan para pegiat literasi. Namun, minat baca masyarakat seolah jalan di tempat. Daya tarik buku kalah oleh pamor game online yang peminatnya kian hari kian meningkat. Bahkan perayaan hari buku nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei tidak se-viral peringatan hari lainnya.

Harus kita pahamkan bahwa membaca merupakan hal esensial yang harus selalu digalakan eksistensinya. Apalagi saat ini tuntutan membaca bukan hanya sekedar literarasi namun sudah multiliterasi yang mendorong setiap manusia untuk memiliki kemampuan membaca berbagai fenomena yang terjadi di alam ini.

Tidak dapat dinafikan bahwa minat baca dan daya baca tinggi sangat mempengaruhi kualitas suatu bangsa sebab dengan membaca mampu merubah pola pikir dan cara pandang lebih jauh untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia.

Ari Ginanjar Agustian dalam bukunya Emotional Spiritual Quotient (ESQ) menjelaskan, bahwa perintah membaca adalah perintah langsung yang di turunkan oleh Allah SWT. Ia mengategorikan kemampuan membaca kedalam dua kategori yaitu membaca ke dalam (Inner Journey), dan membaca ke luar (Outer Journey). Membaca adalah awal mula suatu perintah untuk mengenal dan berfikir eksistensi diri serta tuhan sebagai pencipta, inilah inner jouney. Sementara orang yang senantiasan bergumul dalam pertanyaan dan mempertanyakan, apa ini? untuk apa? bagaimana akibatnya? bagaimana solusinya? Merupakan kemampuan outer journey (membaca ke luar).

Wiliam Stukeley penulis buku biografi Sir Isaac Newton di tahun 1752 menceritakan Newton mendapati buah apel jatuh dari pohonnya, dari peristiwa itu muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak Newton yang pada akhirnya melahirkan banyak teori fisika, salah satunya hukum gravitasi yang sangat terkenal. Bahkan hal yang mungkin menurut sebagian orang sangat sederhana, Muhammad bin Ahmad penemu angka 0 (nol) berhasil memecahkan masalah besar bagaimana menuliskan bilangan dalam jumlah besar yang saat itu menggunakan angka yang begitu rumit. Begitulah para ilmuan membaca fenomena yang ada di sekitarnya. tentu masih banyak para pejuang kecerdasan lainnya yang meretas jalan menuju kemajuan ilmu pengetahuan.

Begitu banyak bahan bacaan yang berada di kehidupan kita sehari-hari seperti, fenomena, pengalaman, peringatan, nasihat, bahkan keteladanan tokoh yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu buku bukan hanya sekedar bahan bacaan yang diselesaikan lalu dilupakan esensi pembahasannya namun bagaimana buku tersebut dibaca sehingga memunculkan inner journey dan outer journey dalam diri.

Bukan lagi sekedar “anggukan universal” terhadap isi buku tetapi bagaimana kemudian bisa menelaah, meneliti, mempelajari apa yang terkandung dalam buku secara sungguh-sungguh, bahkan mengoreksi isi buku yang telah di baca tersebut. Degan cara itu, manusia di tuntut untuk berfikir sebab dengan berfikir ia mampu menyelamatkan dirinya juga sesamanya dari lembah kehancuran, bahkan mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban bangsanya.

 

) Mahasiswa Departemen Pedagogik UPI

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES