Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Ketika Paham Agama Jadi Ancaman

Selasa 24 April 2018 05:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Semua agama, bagi Russell, harus ditolak karena daya rusaknya yang dahsyat

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Adalah Bertrand Russell, filsuf agnostik dari Inggris, dalam bukunya Why I Am Not a Christian (New York: Simon and Schuster, 1957, hlm v) yang menulis: "I think all the great religions of the world—Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism—both untrue and harmful.” (Saya berpendapat semua agama besar dunia—Buddhisme, Hinduisme, Kristen, Islam, dan Komunisme—semuanya adalah untrue (tidak benar) dan harmful).

Russell tidak menyebut paham yang salah tentang agama yang jadi sumber kejahatan, tetapi agama itu sendiri yang tidak benar dan jahat. Perkataan harmful bisa bermakna berbahaya, merusak, jahat, menyakiti, dan kesalahan moral. Pendek kata, semua agama bagi Russell harus ditolak karena daya rusaknya yang dahsyat, seperti halnya komunisme.

Saya tidak tahu mengapa Judaisme (agama Yahudi) dan agama Katolik tidak dimasukkan Russell dalam daftar agama besar itu, tetapi komunisme yang umumnya dikategorikan sebagai musuh semua agama malah ada dalam deretan itu. Saya akan setuju dengan Russell jika dia menyebut agama yang disalahgunakan atau yang disalahtafsirkan dan dipraktikkan secara membabi buta oleh pengikutnya sehingga menjadi ancaman bagi umat manusia.

Tetapi saya tidak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa agama, sebuah dunia tanpa rujukan moral tertinggi, moral transendental. Kerinduan kepada Yang Mahamutlak adalah sebuah kerinduan abadi, betapa pun kaum ateis mencoba melawannya.

Bahwa agama yang disalahgunakan oleh penganutnya sebagai teologi pembenar untuk merusak dan bahkan membunuh sesama manusia memang sudah merupakan fakta sejarah. Semua penganut agama apa pun tidak bisa mengingkari fakta ini.

Tetapi manusia yang memahami agama secara benar pasti akan beradab, berbudaya, dan lapang dada dalam menyikapi perbedaan. Sikap yang membunuh perbedaan adalah bagian dari kultur primitif dan melawan sunatullah. Dan sebuah hidup yang serba seragam pasti akan sangat membosankan.

Pengalaman pribadi saya sejak 20 tahun terakhir dalam pergaulan dalam lingkungan lintas agama, lintas etnisitas, lintas kultur, dan lintas bangsa membawa kesimpulan ini: jika orang beragama secara benar dan autentik, tidak ada alasan untuk saling meniadakan dan apalagi untuk saling membunuh. Planet bumi ini untuk semua makhluk, dan perdamaian hanya mungkin terwujud jika orang saling menghargai dan saling melindungi.

Di sinilah dosa terbesar yang dilakukan kaum imperialis Barat di bawah slogan mission sacré (misi suci) yang ingin membaratkan seluruh umat manusia. Sekalipun imperialisme telah ditolak di mana-mana, khususnya setelah PD (Perang Dunia) II, gurita metamorfosisnya tetap saja bergerilya untuk mempertahankan strategi hegemoniknya.

Perpecahan bangsa-bangsa Arab merupakan peluang emas bagi imperialisme metamorfosis ini untuk terus memainkan kartu jahatnya. Amat disayangkan bangsa-bangsa yang jadi sasaran belum juga sadar tentang bahaya besar yang sedang mengancam mereka.

Ketika kerajaan-kerajaan Muslim di Andalusia pada abad ke-15 berantakan karena kesalahan sendiri, penguasa Katolik memberikan tiga pilihan kepada pihak yang kalah ini: pindah agama, diusir, atau dibunuh. Maka terjadilah gelombang migrasi besar-besaran ke Afrika Utara, tidak saja orang Muslim yang harus lari, tetapi juga umat Yahudi juga terusir.

Dalam kasus ini, Bertrand Russell benar: “Kristianitas telah dibedakan dengan agama-agama lain karena kesiapannya yang lebih besar untuk melakukan penyiksaan … Imperium para khalifah lebih bersikap ramah kepada umat Yahudi dan umat Kristen dibandingkan negara-negara Kristen terhadap umat Yahudi dan umat Muslim.”(Ibid, hlm 202).

Maka adalah sebuah kebrutalan modern, jika sekelompok umat yang mengaku Muslim mengikuti contoh di atas untuk mengusir, mengancam, menyiksa, dan bahkan membunuh pihak lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan kebiadaban ini dilakukan atas nama agama. Perilaku ISIS, Boko Haram, dan mazhab-mazhab lain yang mirip adalah bentuk teranyar dari praktik paham agama yang sesat itu.

Tetapi mengapa ada saja orang yang percaya kepada paham sesat itu? Kekeliruan besar Bertrand Russell terletak pada penolakannya terhadap semua agama, bukan pada paham dan praktik agama yang salah dan sesat, karena semua agama itu baginya adalah untrue and harmful. Segi positif dari kritik Russell ini agar orang tidak mempermainkan agama untuk tujuan-tujuan rendah yang tuna-adab, sebab daya rusaknya juga akan sangat masif.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES