Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Jumat, 4 Sya'ban 1439 / 20 April 2018

Tema-Tema Pokok Alquran (II)

Selasa 20 Maret 2018 05:57 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Alam semesta dengan segala keteraturannya diciptakan untuk kepentingan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Kedua, manusia sebagai individu. Manusia adalah ciptaan Allah seperti makhluk ciptaan lainnya. Tetapi, kelebihan manusia dengan makhluk yang lain karena Tuhan “meniupkan roh-Nya kepadanya” (Q 15:29; 38:72; 32:9). Menurut F Rahman, Alquran tampaknya tidak mendukung teori dualisme jiwa-raga secara radikal, karena dua entitas itu dalam satu perpaduan, tidak bisa dipisahkan.

Dalam kehidupan dunia, manusia diperintahkan untuk melakukan perjuangan moral tanpa henti. Dalam perjuangan ini, Tuhan bersama manusia dengan syarat manusia sebagai wakil Tuhan dengan pilihan bebasnya mau melakukan segala upaya yang perlu, demi terciptanya sebuah tatanan moral sosial di bumi (hlm 18).

Untuk menghadapi setan sebagai kekuatan jahat, manusia perlu mengembangkan perilaku takwa (upaya melindungi diri seseorang menghadapi konsekuensi-konsekuensi berbahaya atau buruk dari perbuatan seseorang) (hlm 29). Setan adalah kekuatan anti-manusia, bukan anti-Tuhan. Tugasnya untuk memperdaya manusia agar tergelincir dari jalan yang lurus.

Takwa memberikan kestabilan kepada manusia dalam menentukan pilihan moralnya. Di akhirat nanti, manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia di depan Tuhan sendiri-sendiri. Dengan demikian, hidup yang hanya sekali ini sangat menentukan nasib manusia di akhirat kelak.

Ketigam manusia dalam masyarakat. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan utama Alquran adalah membangun sebuah tatanan sosial yang dapat berlangsung terus di atas bumi yang didasarkan pada prinsip keadilan dan etika. Tidak pernah ada dalam sejarah manusia, individu tanpa masyarakat. Dalam perspektif ini, konsep perbuatan manusia, khususnya yang menyangkut takwa hanyalah punya arti dalam konteks sosial (hlm 37).

Tujuan Alquran tentang sebuah tatanan etika, egalitarian, dan adil diumumkan bersamaan dengan penolakan keras terhadap ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang marak dalam masyarakat komersial Makkah pada saat itu. Merebaknya penyalahgunaan anak-anak perempuan, anak yatim, dan kaum perempuan, serta adanya lembaga perbudakan memerlukan perubahan yang berani (ibid.) Maka doktrin tauhid (monoteisme) yang diajarkan Alquran bertaut rapat dengan perjuangan menegakkan keadilan dalam masyarakat.

“Menghidupkan kesadaran khususnya kesadaran kolektif menjadi sangat penting," tulis Barlass, dalam komentarnya terhadap karya F Rahman ini. “Manusia dan masyarakat adalah tunggal, berkerja menuju sebuah tujuan yang lebih tinggi,” tulis Barlass. (Lihat Mohammad Mosa Barlass, Major Themes of the Qur’an dalam http:www.montly-renaisance.com/issue/content.aspx?id=188#1,  April 2014, hlm 3).

Keempat, alam semesta. Pembicaraan tentang kosmogeni tidak banyak dalam Alquran. Berbeda dengan manusia dengan hak pilihan bebasnya, alam semesta hanya punya satu pilihan, yaitu tunduk kepada Tuhan melalui hukum-hukum yang telah ditetapkan. Itulah sebabnya alam semesta dikatakan Muslim, karena ketaatan dan ketundukannya kepada kemauan Tuhan.

Alam semesta ini tidak bisa menjelaskan dirinya, tetapi ia “adalah sebuah tanda yang menunjuk kepada sesuatu ‘di luar’ dirinya, sesuatu yang tanpa itu alam semesta, dengan segala sebab alamiahnya, akan menjadi tiada dan hampa" (Lihat F.Rahman, Major, hlm 69).

Alam semesta dengan segala keteraturannya diciptakan untuk kepentingan manusia, tetapi tujuan manusia sendiri tidak lain selain untuk mengabdi kepada Tuhan, untuk berterima kasih kepada-Nya, dan hanya semata-mata untuk menyembah-Nya (Ibid, hlm 79).

Berterima kasih dan menyembah Tuhan bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan sepenuhnya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dan Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang serius, bukan untuk permainan.

“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami [untuk dimintai pertanggungjawaban?]” (Q 23: 115).

Kelima, kenabian dan wahyu. Bab ini memaparkan kenabian dan wahyu sebagai fenomena universal. Di seluruh dunia telah diutus rasul-rasul Allah, baik yang disebut maupun yang tidak disebut dalam Alquran (Q 40:78; 4: 164). Sebagian rasul itu terbatas untuk lingkungan kaumnya saja, tetapi pesan yang disampaikan itu tidak bersifat lokal, tetapi punya makna universal yang mesti dipercayai dan diikuti oleh seluruh manusia.

Inilah yang dimaksud dengan konsep kesatuan kenabian. Melalui pesan kenabian, kesadaran manusia akan meningkat tinggi sehingga mereka akan mampu melihat secara jelas Tuhan sebagai Tuhan dan setan sebagai setan (Ibid, hlm 80).

Dari daftar para nabi dan rasul yang panjang itu, Muhammad adalah nabi penutup, dan tidak akan muncul lagi nabi sesudahnya, dan Alquran sebagai wahyu terakhir. Ini menjadi tanggung jawab berat bagi mereka yang mengaku Muslim (Ibid, hlm 81) untuk meneruskan risalah kenabian itu, demi kepentingan manusia sejagat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES