Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tuesday, 4 Jumadil Akhir 1439 / 20 February 2018

Tembok Ratapan, Ketakutan, dan Penjajahan

Senin 12 February 2018 05:49 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Anehnya, penguasa Zionis tidak merenovasi Tembok Ratapan, tapi membangun tembok lain.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Kali ini saya ingin membahas tentang tembok, dinding, atau pagar. Di Yerusalem atau al-Quds al-Syarif, menurut literatur Islam, ada tembok yang sangat terkenal. Namanya Tembok Ratapan. Bahasa Arabnya al-Haaith al-Mubky atau Kotel HaMaaravi dalam bahasa Ibrani.

Orang Yahudi sering meratap di dinding ini. Itulah muasal nama tembok tersebut. Mereka menganggap tembok yang dibangun Raja Herodes pada 19 SM ini sebagai kuil suci. Tembok ini dihancurkan pasukan Romawi pada 70 M karena pemberontakan orang-orang Yahudi terhadap kekaisaran Roma. Kini yang tersisa hanyalah reruntuhan dinding batu menjulang, 18 meter dari tanah, sepanjang 60 meter (aslinya sekitar 485 meter).

Sebagai bentuk penyesalan dari kehancuran tembok itu, di setiap rumah orang Yahudi di mana pun mereka berada—terutama sebelum tahun 1967—hampir selalu ada batu atau foto tembok yang hancur tertempel di dinding. Hal itu mereka lakukan sebagai pengingat bahwa yang tersisa dari mereka hanyalah tembok yang hancur itu.

Dan, ketika Yerusalem berhasil mereka duduki (mereka jajah) pada 1967, orang-orang Yahudi pun mengantre di belakang tentara Israel untuk dapat mencium dan memeluk bagian-bagian dari tembok itu. Bahkan, setiap presiden, perdana menteri, menteri, dan pejabat tinggi Israel juga melakukan hal yang sama setelah pelantikan atau promosi jabatan, meskipun banyak di antara mereka yang tidak lagi beragama alias ateis.

Pada sisa-sisa atau reruntuhan tembok, mereka berdoa dan meratap. Sebagian mereka bahkan ada yang menulis doa-doa di sepotong kertas dan menyisipkannya pada celah-celah dinding.

Dalam sebuah pesta perkawinan anak seorang politisi Israel di wilayah pendudukan di Gaza beberapa tahun lalu, para hadirin sengaja memecahkan gelas-gelas dan botol wine. Mereka lalu membiarkannya berantakan di kaki-kaki mereka. Politisi itu adalah mendiang Moshe Dayan, mantan menteri luar negeri Israel. Tampaknya gelas dan botol yang pecah berantakan itu dijadikan simbol dari Tembok Ratapan yang akan selalu mereka ingat, dalam susah maupun senang.

Anehnya, para penguasa Zionis Israel tidak merenovasi atau membangun kembali Tembok Ratapan setelah mereka berhasil menduduki Yerusalem. Mereka membiarkan saja sisa-sisa tembok yang hancur itu. Yang mereka bangun justru tembok lain.

Tembok atau dinding lain itu yang terbaru adalah yang mereka bangun di perbatasan dengan Lebanon Selatan. Pada Selasa pekan lalu, Pemerintah Lebanon menyatakan keberatan. Mereka akan menempuh jalur diplomasi, baik regional maupun internasional, guna mencegah pembangunan dinding yang dianggap bisa mengganggu pemanfaatan kekayaan minyak negara itu di perairan regional.

Pembangunan tembok di perbatasan dengan Lebanon kali ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, penguasa Israel telah membangun enam dinding di wilayah-wilayah yang telah mereka duduki, untuk memisahkan dengan negara-negara di sekitarnya.

Tembok pertama mereka bangun pada 2002, sepanjang 710 kilometer, 85 persen di antaranya membentang jauh ke Tepi Barat, sebagai rencara untuk mencaplok 10 persen wilayah Palestina yang mereka kuasai, termasuk al-Quds al-Syarif. Berbagai negara dan organisasi internasional telah mengutuk dan menuntut agar proyek itu dihentikan. Namun, sebagaimana biasanya, Zionis Israel tidak peduli. Mereka tetap cuek bebek terhadap protes dunia internasional.

Pihak Palestina menyebut dinding itu sebagai “tembok apartheid”. Mereka menyatakan tembok itu sebagai upaya Zionis Israel untuk mencaplok wilayah Palestina di Tepi Barat ke Israel. Dewan Koordinasi Palestina untuk Pertahanan Tanah dan Penyelesaian Pemukiman menggambarkan tembok itu sebagai tindakan paling berbahaya di wilayah Palestina sejak 1967.

Kendati mendapatkan kecaman dan tekanan internasional, Israel terus membangun tembok pembatas. Tembok kedua mereka bangun di Gaza. Yang ketiga, mereka membangun pagar perbatasan dengan Mesir pada 2010. Pagar ini mereka maksudkan untuk menghentikan infiltrasi imigran Afrika dari Sinai, Mesir, ke wilayah Israel.

Tembok atau dinding keempat dibangun Israel pada 2015. Kali ini tembok itu berada di sepanjang perbatasan dengan Yordania, membentang dari Eilat ke Lembah Yamna, lokasi sebuah bandara internasional sedang dibangun Israel.

Pada tahun yang sama, Israel mendirikan dinding atau pagar pembatas antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan, padahal Golan merupakan wilayah Suriah yang diduduki (dijajah) Israel sejak 1967. Pagar pembatas ini setinggi lima meter.

Tembok keenam yang dibangun Israel berupa dinding panjang untuk memisahkan wilayah-wilayah pendudukan (jajahan Israel) yang berbatasan dengan Lebanon Selatan. Tembok ini mulai dibangun pada 2017. Pemerintah Israel menyatakan, tembok ini dibangun untuk mencegah infiltrasi musuh-musuh mereka.

Pembangunan dinding pemisah antarperbatasan dua negara tentu bukan monopoli Israel. Di dunia ini ada sejumlah tembok yang dibangun untuk memisahkan satu negara dengan negara lainnya.

Di antara tembok yang terkenal adalah yang memisahkan perbatasan dua Korea. Tembok ini dibangun antara tahun 1977 hingga 1979 di sepanjang zona demiliterisasi antara kedua sisi dua Korea, membentang sejauh 250 km. Pembangunan tembok ini dimaksudkan untuk mecegah warga Korea Utara menyusup ke Korea Selatan yang lebih demokratis dan makmur.

Tembok lainnya yang sangat terkenal adalah Tembok Berlin, yang kini hanya tinggal kenangan. Tembok ini dibangun pada masa Perang Dingin oleh Jerman Timur pada tahun 1961, memisahkan antara Berlin Barat dan Berlin Timur. Otoritas Jerman Timur menyatakan, Tembok Berlin sebagai “Benteng Proteksi Anti-Fasis”.

Maksudnya, Jerman Barat dianggap belum bersih dari gerakan Naziisasi. Sedangkan, Jerman Barat mengatakan Tembok Berlin sebagai memalukan karena membatasi kebebasan bergerak warganya. Dalam praktiknya, tembok ini digunakan untuk mencegah pelarian penduduk Berlin Timur ke Berlin Barat yang berada di Jerman Barat.

Seiring dengan mencairnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1980-an, Tembok Berlin pun dihancurkan, apalagi setelah berlangsung reunifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur pada 1990. Tembok yang angker itu pun tinggal sejarah.

Berbeda dengan tembok-tembok pembatas antardua negara, tembok yang dibangun Israel didasarkan pada rasa ketakutan yang berlebihan kepada negara-negara tetangganya. Seperti diketahui, posisi Israel dikurung oleh Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, dan Mesir. Sejak 1967 mereka menduduki (menjajah) banyak wilayah dari tetangga-tetangganya itu. Pagar atau tembok yang dibangun Israel adalah untuk mengamankan wilayah-wilayah yang didudukinya itu.

Menurut Amus Ailun, penulis buku Israel, Anak Laki-laki dan Perempuan, karakter yang paling menonjol dari orang Israel adalah rasa takut. Bahkan, lanjut penulis kelahiran Israel dan menetap di Eropa ini, dasar semua tindakan permusuhan yang dilakukan Israel adalah rasa takut: takut dikucilkan dunia, takut dibenci orang lain, dan takut tanah yang didukinya diambil kembali oleh yang punya.

Ya, rasa takut itulah yang menyebabkan mereka melestarikan reruntuhan Tembok Ratapan tetapi mereka membangun tembok lain di wilayah-wilayah yang didudukinya. Di pihak Israel, tembok itu merupakan bentuk lain dari rasa ketakutan terhadap penjajah. Namun, di pihak negara-negara tetangga, tembok tersebut dianggap sebagai penjajahan itu sendiri. Inilah kegilaan lain dari Zionis Israel.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES