Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Saturday, 11 Ramadhan 1439 / 26 May 2018

Buat Apa Timnas Bermain Cantik, Tapi tak Mampu Mencetak Gol?

Senin 07 May 2018 03:04 WIB

Red: Andri Saubani

Pelatih timnas Indonesia U-23 Luis Milla mengawasi para pemain saat mengikuti latihan di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/4).

Pelatih timnas Indonesia U-23 Luis Milla mengawasi para pemain saat mengikuti latihan di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (26/4).

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Luis Milla belum bisa mengatasi masalah krisis striker tajam haus gol di timnas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Andri Saubani*

Timnas Indonesia U-23 baru saja merampungkan PSSI Anniversary Cup yang digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, pekan lalu. Dari tiga laga kontra Bahrain, Korea Utara (Korut), dan Uzbekistan, Indonesia tak mampu menang.

Catatan paling negatif adalah tim asuhan Luis Milla Aspas sama sekali tak bisa menjebol gawang lawan. Milla sepertinya belum bisa mengatasi masalah utama timnya setelah satu tahun menangani Hansamu Yama dkk, yakni krisis striker tajam haus gol.

Menilik setahun kariernya bersama skuat Garuda Muda, Milla telah gagal memenuhi target pada dua event resmi. Timnas Indonesia gugur pada fase kualifikasi Piala Asia U-23 2018 dan hanya meraih medali perunggu dalam partisipasinya dalam SEA Games 2017 lalu. Satu event tersisa dan bisa menjadi penentu nasib Milla di Indonesia adalah Asian Games 2018 yang menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah.

Praktis, Milla tinggal memiliki waktu tiga bulan menjelang Asian Games. Waktu yang mepet untuk mencari striker jagoan yang mampu mengonversi setiap peluang emas menjadi gol. Semua striker yang telah dipanggil Milla selama ini terbukti mandul di depan, termasuk pemain naturalisasi, Ilija Spasojevic.

Mengapa tulisan ini berfokus pada penyelesaian akhir timnas Indonesia? Karena harus diakui, selain lini serang, ada peningkatan kualitas permainan skuat Garuda Muda sejak dilatih oleh Milla.

Eks pemain Barcelona itu telah berhasil membangun karakter pemain-pemain muda Indonesia menjadi terlihat disiplin serta punya fisik dan daya juang yang tangguh selama 90 menit. Beberapa pemain seperti Febri Hariyadi mengalami peningkatan performa setelah bergabung dan dipoles bakatnya oleh tim kepelatihan Luis Milla.

Lini belakang dan gelandang, khususnya holding midfielder, yang paling terasa soliditasnya. Hansamu tak tergantikan sebagai bek tengah. Sebagai kapten, Hansamu tinggal menunggu pasangan bek tengah lain, yakni Bagas Adi, Andy Setyo, dan lainnya bergiliran menjadi starter.

Timnas kini juga punya pemain belakang yang berperan sebagai fullback. Rezaldi Hehanusa adalah contoh dari gaya bek kiri modern yang sering maju ke depan membantu penyerangan dari sayap, tetapi tetap sigap kembali ke belakang saat tim mengadang serangan balik lawan. Begitu juga dengan Gavin Kwan Adsit atau Putu Gede yang ditempatkan di sisi kanan.

Dua gelandang bertahan, yakni Hargianto dan Zulfiandi, bisa dibilang yang terbaik saat ini. Zulfiandi yang sempat tersisih, meski dahulu dikenal menjadi tulang punggung timnas U-19 era pelatih Indra Sjafri, belakangan makin padu berduet dengan Hargianto untuk segera memutus serangan lawan dan menjadi metronom kala Indonesia sedang merancang serangan.

Untuk posisi playmaker, Milla tampaknya lebih memilih Septian David Maulana daripada Evan Dimas. Septian adalah top skorer dengan koleksi enam gol bersama timnas U-23. Dia juga telah mampu mencetak dua gol kala dicampur oleh Milla dengan skuat timnas senior.

Soal kedalaman skuat, nama-nama seperti Gavin dan Saddil Ramdani adalah pemain yang bisa ditempatkan di beberapa posisi. Sisanya, seperti Hanif Sjahbandi, Osvaldo Haay, dan Ricky Fajrin, juga memiliki kualitas permainan yang baik dan berperan sebagai pemain utama di klub masing-masing. Ada satu lagi bintang masa depan yang selalu dipanggil Milla, tetapi belum banyak diberi kesempatan merumput, Egy Maulana Vikry.

Skema permainan timnas di lapangan saat ini juga enak ditonton kala aliran bola hasil rancang bangun serangan dari belakang ke depan berujung pada terciptanya peluang. Ada cerminan taktik pelatih yang berhasil dikreasikan para pemain di lapangan. Timnas Indonesia kini bukan lagi tim yang asal mengirim bola ke depan dan berharap gol dari hasil kemelut di depan gawang lawan sebagaimana khasnya sepak bola Tanah Air.

Terlepas dari gagalnya Milla memenuhi dua target event, lima laga uji coba pada tahun lalu yang telah dilakoni anak asuhnya telah mendongkrak peringkat Indonesia di ranking FIFA dari 165 ke 154 per November 2017. Di luar itu, timnas U-23 telah menjalani turnamen pemanasan, seperti Aceh Solidarity Games dan PSSI Anniversary Cup, dengan hasil tak mengecewakan.

Pada Piala Milad PSSI, Indonesia hanya kalah tipis 0-1 dari Bahrain, sisanya bermain tanpa gol kontra Korut dan Uzbekistan. Semua pelatih lawan mengakui ketangguhan timnas U-23, termasuk pelatih Bahrain, Samir Chammam, yang timnya akhirnya keluar sebagai juara setelah membantai Korut 4-1 pada laga terakhir.

Pelatih Korut, Ju Song-il, bahkan mengakui, melawan Indonesia lebih berat daripada saat timnya bermain imbang 2-2 melawan Uzbekistan. Pernyataan Song-il itu mestinya membuat Indonesia di atas kertas menang atas Uzbekistan. Namun, skor kacamata kembali tak terhindarkan karena beberapa peluang emas, termasuk penalti yang dieksekusi Septian David, gagal berbuah gol.

Lini depan menjadi yang paling sering dibongkar pasang oleh Milla sejak pelatih asal Spanyol itu mengampu skuat Garuda Muda. Tidak hanya pemain lokal, striker naturalisasi seperti Ezra Walian sudah pernah dicoba oleh Milla. Ezra yang pernah dipercaya menjadi striker utama pada SEA Games lalu hanya mampu mengoleksi satu gol. Pada kesempatan kedua saat Indonesia menang telak 3-0 lawan Singapura, Maret lalu, Ezra malah tampil sangat mengecewakan.

Untuk Piala Milad PSSI, Milla memanggil beberapa pemain senior. Mereka diuji coba guna pemenuhan kuota tiga pemain senior pada Asian Games nanti. Kiper Persija Andritany Ardhiyasa seperti akan menjadi pilihan utama Milla merujuk penampilan apiknya, termasuk saat bermain kontra Islandia pada Januari lalu.

Dua striker senior, Lerby Eliandry dan Ilija Spasojevic, boleh dibilang posisinya tidak aman. Lerby bahkan kemungkinan besar dicoret oleh Milla setelah dua kali kesempatan menjadi starter lawan Bahrain dan Uzbekistan. Striker Borneo FC itu tidak hanya gagal mencetak gol, tetapi juga menyia-nyiakan satu peluang emas. 

Milla sebetulnya bukan tanpa siasat kala striker Garuda tak bisa diandalkan. Ia kadang juga menggunakan taktik false nine dengan mengandalkan gelandang berinsting mencetak gol yang tinggi seperti Ilham Udin Armayin. Namun, saat Ilham Udin absen karena cedera seperti Piala Milad PSSI, semestinya para striker menjawab kepercayaan Milla.

Minimnya opsi striker tajam di Indonesia bisa diduga imbas dari kompetisi nasional. Klub-klub Liga 1 saat ini lebih memilih striker asing daripada memprioritaskan striker lokal. Daftar top skorer Liga 1 sejak musim lalu selalu dihuni oleh striker impor. Hingga pekan ketujuh Liga 1 musim ini, enam striker asing menempati daftar pencetak gol tersubur.

PSSI dan operator liga pun tak menetapkan aturan yang bisa "memaksa" klub untuk wajib memainkan striker-striker Tanah Air pada setiap laga. Sejak setahun lalu, Luis Milla pun telah mengaku heran mengapa tim-tim Liga 1 lebih suka memainkan striker asing meski usianya telah melebihi 30 tahun.

Keheranan Milla itu saat ini sepertinya berujung pada keputusasaannya dalam mencari striker utama timnas U-23. Belakangan, striker Sriwijaya FC Beto Goncalves mengaku telah ditelepon langsung oleh Milla. Mengaku bercakap-cakap di telepon dalam bahasa Spanyol, Milla diklaim Beto siap memberikan kesempatan bermain untuknya di timnas.

Milla sepertinya tak memedulikan lagi usia pemain untuk striker timnya karena Beto adalah pemain naturalisasi dari Brasil yang kini berusia 37 tahun. Mungkin dalam benak Milla saat ini, 'buat apa tim bermain cantik, tapi tak mampu mencetak gol?'.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES